
Davin dan Kayra sudah selesai bermain airnya yang mana mereka ber-2 langsung berjalan kedaratan.
"Aku jadi ikutan basah dan semua itu gara-gara kamu," ucap Davin.
"Kamu yang salah siapa suruh coba menghampiri ku," ucap Kayra.
"Iya-iya, aku yang salah. Aku yang salah aku kira kamu tenggelam. Aku terlalu khawatir pada kamu sampai tidak tau kamu tenggelam atau tidak sebenarnya," ucap Davin dengan rasa kekhawatirannya pada Kayra.
Kayra tersenyum tipis mendengarnya. Padahal hatinya sangat senang itu di bilang khawatir.
Saat mereka sampai di daratan, Davin mengambil bleazer Kayra dan langsung memakaikannya pada Kayra. Kayra diam saja dengan menurut apapun yang di lakukan Davin.
"kita kembali!" ucap Davin dengan menatap Kayra dalam-dalam.
Namun Kayra menghentikan tangan Davin membuat Davin heran, " ada apa?" tanya Davin.
"Terima kasih Davin sudah mengkhawatirkan ku," ucap Kayra yang tidak gengsi mengucapkan terima kasih atas apa yang di lakukan Davin kepadanya.
"Aku akan selalu khawatir padamu dan akan melindungimu terus," ucap Davin membuat Kayra mengangguk dengan tersenyum pada Davin. Dengan mereka yang saling menatap satu sama lain, tatapan yang sangat dalam.
Sampai mata Davin turun pada bibir Kayra yang ingin meraih bibir Kayra dengan memiringkan kepalanya untuk menautkan bibirnya lada Kayra.
"Mama sudah selesai mandi?" teriak Brian yang mengganggu aksi Davin membuat Kayra dan Davin sama-sama kaget dan langsung menjauh dengan Davin yang pasti berdecak kesal karena sang anak mengganggunya. Namun Kayra hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Davin.
"Ayo mama cepat kemari!" ajak Brian.
"Iya Brian!" sahut Kayra yang akhirnya pergi bersama Davin. Ya nggak jadi deh Kayra sama Davin yang mau melakukan adegan yang sangat manis itu.
"Ayo sayang!" ajak Kayra.
"Ayo mama, papa," ajak Brian.
"Lain kali Brian jangan sendirian ke mari. Nanti Brian di makan binatang ," ucap Davin mengingatkan.
"Bilang aja Brian sudah gangguin papa, makanya papa bilang seperti itu," sahut Brian yang tau aja. Kayra mendengarnya senyum-senyum aja.
"Dasar bocah nakal," gumam Davin yang di Roasting anak sendiri.
__ADS_1
*********
Setelah mandi, Kayra dan yang lainnya sarapan bersama. Tau sendiri ya kalau sarapan tidak jauh-jauh dari yang namanya makan mie instan dengan sosis dan nugget. Ya namanya juga camping jadi sangat wajar.
Mereka makan dengan lahap yang membentuk lingkaran yang duduk di atas tikar yang terbentang.
"Bagaimana keadaan kamu Zoy?" tanya Kayra.
"Aku baik-baik aja. Sudah merasa jauh lebih enakan juga," jawab Zoy.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Kayra.
"Makanya kak Zoy. Lain kali dengarkan apa kata kita. Untung aja kakak masih selamat. Kalau tidak bagaimana. Aku sama kak Davin juga tidak akan tau bagaimana cara mengatakannya pada keluarga," sahut Giselle.
"Iya Gisell, maaf sudah merepotkan kajian semua dan sudah membuat kalian khawatir dan lain kali aku tidak akan seperti itu lagi. Aku akan jauh lebih hati-hati lagi," ucap Zoy yang pasti menyadari kesalahannya dan akan belajar dari kesalahannya.
"Tante Zoy harus berterima kasih dengan Om Dion. Karena Om Dion yang sudah bantuin. Di saat papa, Dady, Om Reyhan pulang dengan tangan kosong yang tidak membawa Tante Zoy. Tetapi Om Dion datang dengan menggendong Tante Zoy dengan pakaian Om Dion yang basah kuyup. Sudah begitu saat Tante Zoy jatuh Om Dion dengan cepat lari dan menyebut kesungai untuk menyelamatkan Tante Zoy. Jadi Tante Zoy harus berterima kasih pada Om Dion," jelas Brian dengan lancarnya yang sangat polos bicara.
Namun apa yang di katakan Brian memang adalah kebenarannya yang membuat Zoy terus melihat Dion. Yang mana Dion hanya melihat Brian yang menggemaskan saat bicara. Davin hanya mengusap-usap rambut putranya yang juga gemas dengan putranya yang terus berbicara.
Putranya itu semakin lama akan mendapatkan gelar si penyatu cinta. Ya tidak tau dari mana bisa sangat pintar. Kalau sudah masalah cinta-cintaan.
"Itukan sebenarnya wajar. Bukannya kak Dion memang harus melindungi kami semua. Bukan hanya kak Zoy, aku sama kak Davin juga kan sudah dapat amanah dari Oma," sahut Giselle.
"Sudah-sudah kita sarapan aja sebaiknya. Yang penting Zoy sudah selamat dan sudah baik-baik aja sekarang. Kita lanjutkan makan lagi," sahut Haykal.
"Setelah sarapan kita mau apa lagi?" tanya Brian.
"Brian kita akan pulang. Karena camping nya sudah cukup," jawab Kayra.
"Hanya sebentar saja. Padahal Brian belum puas," sahut Brian.
"Lain kali aja ya Brian kita camping lagi," sahut Silvia.
"Baiklah mami yang penting Brian sudah happy karena mama sama papa terus sama Brian dan bahkan di kasih bonus bersama Dady, mami, Om Dion, Om, Reyhan, Tante Zoy, Tante Gisell dan Tante Indri. Jadi Brian sangat happy," ucap Brian yang begitu bahagianya.
"Brian ucapkan terima kasih untuk semuanya," ucap Brian dengan gemesnya.
__ADS_1
"Sama-sama Brian," sahut semuanya dengan serentak yang juga mereka sangat bahagia karena telah memberikan kebahagiaan untuk Brian.
Kayra yang adanya semakin gemas dengan Brian dengan saling melihat dengan Davin. Sangat terlihat ke-2nya sangat bangga dengan anak mereka. Apa lagi Davin yang begitu bangga pada Kayra yang membimbing Brian dengan sangat baik sampai bisa seperti itu.
Bukan hanya Kayra dan Davin saling melihat. Zoy yang sejak tadi melihat Dion yang akhirnya Dion juga melihatnya. Zoy pasti ingin mengucapkan terima kasih. Hanya saja tidak tau kapan waktu yang tepat.
*********
Mereka memang akan langsung pulang. Karena hanya camping sebentar saja. Kayra juga harus kembali ke rumah sakit. Begitu juga dengan Davin yang juga pasti banyak pekerjaan yang menyusul.
Dion terlihat beres-beres tenda. Namun ternyata Zoy ada di belakangnya yang tidak tau kapan Zoy ada di belakang Dion. Namun Zoy hanya diam saja. Sampai akhirnya Dion membalikkan tubuhnya dan kaget dengan kehadiran Zoy yang tiba-tiba.
"Zoy kamu bikin kaget aja," ucap Dion dengan mengelus dadanya.
"Maaf Dion," sahut Zoy yang terlihat gugup.
"Tidak apa-apa. Ada apa kamu mau mengatakan sesuatu?" tanya Dion.
"Hmmm, itu, aku hanya ingin, aku ingin," Zoy yang terlihat gugup yang sangat ragu menyampaikan apa yang ingin di sampaikannya membuat Zoy benar-benar menunggunya.
"Ingin apa Zoy?" tanya Dion dengan menaikkan 1 alisnya yang sangat menunggu kelanjutan jawaban itu.
"Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan ku," ucap Zoy yang tujuannya menemui Dion hanya untuk mengucapkan terima kasih.
"Maaf Dion, aku baru bisa mengatakannya hari ini. Bukan karena apa-apa. Hanya saja aku belum sempat mengatakannya dan aku juga mengatakannya bukan karena apa yang di katakan Brian. Aku tau kok kamu itu kamu yang menolongku dan menjagaku malam itu," ucap Zoy yang berbicara pada Dion dengan menundukkan kepala. Tidak tau kenapa Zoy tidak berani tiba-tiba melihat Dion.
"Sudahlah Zoy yang penting kamu tidak apa-apa dan lain kali kamu harus hati-hati. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi," ucap Dion.
"Iya aku pasti jauh lebih hati-hati. Aku ucapkan terima kasih sekali lagi," ucap Zoy yang tersenyum dengan mengangkat kepalanya.
"Sama-sama," jawab Dion, "dan iya Zoy aku minta maaf pada kamu. Karena saat kamu tidak sadar aku lancang memberi kamu napas buatan," ucap Dion yang jujur apa adanya.
Mendengar kata-kata itu membuat Zoy bingung harus menanggapi apa. Apa dia harus marah atau mengucapkan terima kasih. Dia yang adanya semakin gugup.
"Tante Zoy, ayo cepat masuk mobil. Sudah mau hujan ini!" panggil Brian tiba-tiba yang membuyarkan suasana tegang di antara Zoy dan Dion.
"Aku pergi dulu!" ucap Zoy yang akhirnya lebih memilih untuk pergi. Sebenarnya Brian bisa di katakan telah menyelamatkan Zoy dengan begitu Zoy tidak perlu menanggapi apa-apa perkataan Dion. Dion hanya diam saja dengan menghela napas melihat kepergian Zoy.
__ADS_1
Bersambung.