
Davin yang berada di kamar membuka matanya perlahan. Davin merasa tubuhnya begitu ringan yang sudah tidak ada di pelukannya sama sekali Davin baru menyadari ternyata Kayra tidak ada di pelukannya lagi.
" Kayra!" lirih Davin yang duduk dengan memijat pelipis hidungnya dan melihat di sekitar kamar yang sama sekali tidak melihat Kayra.
" Di mana dia?" tanya Davin dengan napas beratnya dan langsung keluar bangkit dari tempat tidur untuk mengecek Kayra di kamar mandi yang ternyata tidak ada Kayra sama sekali di kamar mandi.
" Kenapa dia main pergi begitu saja?" geram Davin yang memijat kepalanya yang terasa semakin berat. Davin pun langsung keluar dari kamar dengan buru-buru yang pasti mencari Kayra.
" Kayra!" panggil Davin menuruni anak tangga dengan buru-buru dan di ruang tamu terlihat mertuanya yang mata duitan sekarang membuka belanjaannya yang ruangan itu penuh dengan barang-barang brendit.
" Menantuku sudah bangun. Kamu juga menginap di sini," sahut Susan dengan cerianya melihat Davin.
Namun Davin melihat semua belanjaan Susan membuatnya semakin stress yang apalagi. Jika bukan karena Susan pasti menghabiskan uangnya untuk membeli semua itu.
" Kamu mau sarapan tidak biar mama pesankan?" tanya Susan dengan ramahnya.
" Di mana Kayra?" tanya Davin tanpa menjawab pertanyaan Susan.
" Kayra mana mama tau. Bukannya lagi di kamar sama kamu," sahut Susan memang tidak tau Kayra pergi.
" Kalau ada bersamaku. Aku tidak akan bertanya," ucap Davin dengan kesal.
" Di pergi tadi," sahut Silvia yang tiba-tiba datang. Melihat Silvia Davin langsung emosi dan menghampiri Silvia menatap tajam Silvia.
" Kau yang menyuruhnya minum?" tanya Davin menekan suaranya.
" Apa yang kau katakan, dia minum karena kemauannya. Jadi jangan menuduhku," sahut Silvia.
" Kau masih mengatakan tidak menuduh. Kau tau apa yang kau lakukan membahayakan untuknya berani sekali kau mengajaknya minum," geram Davin menunjuk Silvia.
" Eh Davin. Jangan mentang-mentang Kayra minum. Terus aku yang kau salahkan. Kalau wanita yang tidak pernah minum dan tiba-tiba minum. Itu karena otaknya sudah tidak bisa berpikir. Dan seharunya kau ngaca. Dia selama ini bersamamu dan pasti kesalahan ada padamu!" tegas Silvia mendorong Davin dengan telunjuknya.
__ADS_1
" Aku tidak menyuruhnya datang menemuiku. Aku juga tidak menyuruhnya untuk minum dan dia sendiri yang melakukannya. Dia sendiri yang berbicara sambil mengais dengan menyebut nama Pricilla. Aku tidak tau apa yang terjadi. Jadi jangan menyalahkanku. Salahkan dirimu. Kalau bukan kesalahan mu. Dia juga tidak akan meninggalkanmu detik ini dan langsung pergi begitu saja," tegas Silvia dengan menatap Davin yang matanya melotot dengan memerah dengan tangannya yang terkepal.
" Adik sama kakak sama saja!" umpat Silvia yang langsung pergi dari hadapan Davin.
" Hey, Silvia apa yang kau bicarakan. Kenapa berani sekali pada kakak iparmu," teriak Susan.
" Anak itu benar-benar," gumam Susan menghampiri Davin, " Davin maafkan dia!" ucap Susan memegang tangan Davin. Davin langsung menepis kasar tangan itu dan langsung pergi dari rumah itu yang pasti akan mencari Kayra.
***********
Davin menyetir dengan kecepatan tinggi sembari menelepon Kayra. Namun pasti Kayra tidak mengangkat telponnya.
" Argggghhh!" umpat Davin kesal melempar handphone ke jok di sebelahnya.
" Kau kenapa sih Kayra!" teriak Davin prustasi sendiri melihat Kayra yang memang sudah menghindarinya. Karena Kayra pergi begitu saja meninggalkannya di kamar. Bukannya bicara padanya dan malah pergi saja.
***********
Selesai dari Dokter. Kayra pulang kerumah Oma Elishabet untuk bersih-bersih dan ganti pakaian. Kenapa tidak kerumahnya. Karena di sana ada Davin. Saat Kayra menunggu Taxi Aldo tiba-tiba lewat dan menawarkan Kayra tumpangan.
Awalnya Kayra menolak. Namun Aldo memaksa dan akhirnya Kayra di antar Aldo ke Perusahaan dan mereka sudah sampai. Bahkan turun bersamaan karena Aldo juga ada urusan di Perusahaan itu.
" Makasih ya pak Aldo sudah mengantar saya," ucap Kayra tersenyum sembari berjalan pelan bersama Aldo.
" Sama-sama Kayra," jawab Aldo tersenyum dan bahkan mempersilahkan Kayra untuk memasuki Perusahaan terlebih dahulu.
Namun langkah Kayra harus terhenti ketika mobil yang di kenalnya berhenti tepat di belakang mobil Aldo. Siapa lagi kalau bukan Davin yang keluar dari mobil itu dengan Aura kemarahan. Yang di pastikan Davin marah dengan Kayra dan Aldo.
Kayra tidak peduli dengan Davin dan kembali melanjutkan langkahnya. Walau dia tau Davin pasti murka melihatnya turun dari mobil Aldo.
" Kurang ajar!" umpat Davin di dalam hatinya.
__ADS_1
**********
Kayra berjalan sendirian di Perusahaan sembari membuka-buka map merah yang di pegangnya. Namun langkahnya harus terhenti ketika Davin berdiri di depannya.
" Dari mana kau?" tanya Davin dengan menekan suaranya.
" Apa aku harus memberitahu padamu dengan semua yang aku lakukan," sahut Kayra dengan ketus. Jawaban Kayra membuat Davin semakin kesal dan langsung memegang ke- bahu Kayra dan mendorongnya ke tembok.
" Aku sedang bertanya maka jawablah!" tegas Davin menekan suaranya.
" Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan mu," sahut Kayra dengan pedas yang membayang Davin.
" Kau berani kepadaku Kayra. Aku mencarimu dari kemarin. Saat aku temukan kau beraninya minum-minum yang kau tau membahayakan dirimu dan kau juga meninggalkan ku di kamarmu dan kau seenaknya pergi bersama Aldo. Berani sekali kau melewati batasmu," ucap Davin yang masih menahan dirinya.
" Lalu kenapa? apa urusannya denganmu! apa kau peduli!" teriak Kayra dengan suara yang menggelegar di depan Davin.
Mereka yang berada di tempat umum. Jelas ada beberapa karyawan yang lewat dan bertanya-tanya melihat Davin dan Kayra.
" Kau tidak bisa pelankan suaramu. Kau ini di mana," ucap Davin merendahkan suaranya.
" Kenapa? kau takut. Jika orang-orang tau aku istrimu dan suami istri ini sedang bertengkar," sahut Kayra. Davin terdiam membuat Kayra mendengus kasar dan langsung menepis ke-2 tangan Davin dari bahunya.
" Kau egois, jangan menggangguku!" tegas Kayra yang ingin pergi.
Namun Davin menariknya kembali dan mendorongnya kembali ke tembok dengan memegang ke-2 pipi Kayra di pastikan Davin ingin menciumnya. Namun Kayra langsung mengalihkan wajahnya ke kirinya yang terlihat jelas tidak mau di cium Davin.
Mata Davin melihat serius wajah Kayra yang menolak dirinya yang membuat Davin semakin emosi.
" Mari bicara baik-baik," ucap Davin merendahkan suaranya yang melepaskan tangannya dari pipi kayra dan menjauh dari Kayra. Dia tidak melanjutkan niatnya yang ingin membungkam mulut Kayra dengan ciuman.
" Dayang keruanganku!" titah Davin yang langsung pergi dari hadapan Kayra. Kayra membuang napasnya kedepan. Yang terus mengatur napasnya dan melihat ke pergian Davin yang lebih dengan kemarahan
__ADS_1
Bersambung