Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 71 Terus berada di sisinya.


__ADS_3

Kayra sekarang duduk di salah satu kursi tidak jauh dari ruangan perawatan Aris. Kayra yang duduk terus saja menangis mengeluarkan air matanya yang tangannya terus saja menyeka air mata itu yang terus keluar matanya mungkin sudah bengkak akibat terus menangis. Dari pagi sampai sekarang sudah malam dia terus saja mengeluarkan air matanya.


Davin yang tadi mengurus Aris. Karena ada yang harus di bicarakannya dengan Dokter Han akhirnya kembali. Davin melihat dari kejauhan melihat Kayra yang terus menangis membuatnya menghela napas dengan panjang.


" Dari tadi dia tidak henti-hentinya menangis apa air matanya sangat banyak. Sampai setiap waktu dia harus menangis terus. Kapan air mata itu akan habis niat dia berhenti menangis," batin Davin yang terus menghela napasnya melihat istrinya tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata dia saja lelah melihat istrinya yang menangis terus.


Di tengah Kayra yang menangis tiba-tiba Reyhan datang, berdiri di depan Kayra membuat Kayra mengangkat kepalanya dan melihat wajah Reyhan.


" Ada apa?" tanya Kayra dengan suara seraknya.


" Saya membawakan makanan untuk Nona Kayra. Nona Kayra harus makan. Tuan Davin menyuruh saya memberikan nona makanan. Karena tadi nona Kayra belum sarapan, makan siang dan sekarang sudah malam," ucap Reyhan yang membawakan makanan dan memberikan pada Kayra yang sebelumnya Davin menyuruh Reyhan untuk memberikan pada Kayra.


" Aku tidak lapar," jawab Kayra yang langsung menolak makanan itu.


" Tapi nona. Kayra harus makan," ucap Reyhan.


" Aku tidak lapar. Kamu pergilah! jangan menggangguku Reyhan. Nanti jika aku lapar aku akan makan," usir Kayra dengan halus. Reyhan jadi bingung dan tetap memegang apa yang di pegangnya yang masih tetap membujuk Kayra agar makan.


" Ya ampun masalah lagi kalau seperti ini. Jika nona Kayra tidak makan. Bos Davin akan memarahiku," batin Davin Reyhan garuk-garuk kepala.


" Kamu makanlah!" tiba-tiba Davin datang dan langsung mengambil kotak makanan itu dari Reyhan memberikannya pada Kayra.


" Baru saja di sebut dia sudah datang memang panjang umur," batin Reyhan.


" Aku sudah tidak lapar," ucap Kayra mendorong pelan makanan yang di berikan Davin yang mana mungkin dia berselara untuk makan.


" Bagiamana mungkin kamu mengatakan tidak lapar. Ini sudah malam dan kamu belum makan dari pagi. Mana mungkin tidak lapar Kayra. Jadi makanlah. Jangan mencari penyakit. Kamu mau kondisi kamu juga nantinya akhirnya drop," ucap Davin yang membujuk Kayra dengan lembut.


Kayra tidak menjawab lagi. Dia merasa tidak enak jika makan dalam kondisinya seperti itu. Papanya yang di dalam sana tidak tau keadaannya dan dia juga tidak tau apakah laparnya terasa apakah ada rasa lapar atau tidak.


Davin menghela napasnya dan melihat ke arah Reyhan yang masih berdiri di tempatnya.


" Kamu pergilah. Biar aku yang memaksanya makan!" pinta Davin pada Reyhan.


" Baik bos," jawab Reyhan yang akhirnya pergi dan Davin langsung mendekati Kayra duduk di samping Kayra dan Kayra langsung membuang wajahnya kesamping yang tidak berselera dengan makanan itu.


Namun Davin langsung memegang dagu Kayra agar wajah Kayra kembali tepat di hadapannya, " aku bilang makan. Maka makan!" tegas Davin dengan menaikkan ke-2 alisnya.


Kayra menggelengkan kepalanya yang benar-benar sudah tidak selera untuk makan dia terus menolak apapun yang di berikan Davin kepadanya termasuk makanan yang sudah di bukakan Davin.


" Jangan biarkan aku memaksamu Kayra. Kau harus makan. Jangan mencari penyakit!" tegas Davin.


" Kau jangan memaksaku Davin. Aku tidak selera untuk makan Davin. Aku tidak bisa makan Davin dalam keadaan seperti ini," sahut Kayra dengan wajahnya yang tidak bersemangat dan tetap tidak ingin makan.


" Ck," Davin berdecak kesal dan langsung menyendokkan nasi dan menyodorkan pada mulut Kayra. Kayra tetap menolak dengan menutup rapat mulutnya.


Davin hanya berdecak kesal melihat tingkah Kayra yang mana dia sudah berusaha untuk membujuknya dan Davin yang melihat Kayra terus menolaknya langsung mengambil tindakan dengan memiringkan kepalanya dan mencium bibir Kayra. Hanya menciumnya sebentar saja. Lalu melepas tanpa menjauhkan wajahnya dari Kayra yang mana mereka sudah saling melihat.


" Kau tidak inginkan makan dengan cara transferan dari mulutku yang akan aku lakukan kepadamu. Aku harap kau tidak menginginkan cara itu," ucap Davin yang memberikan ancaman pada Kayra. Meski mengancam tetapi kata-kata itu begitu lembut.


Kayra tidak mengangguk ataupun menjawab pertanyaan itu. Namun air matanya yang semakin deras mengalir.

__ADS_1


" Aku tidak bisa makan sementara kondisi papa seperti itu," ucap Kayra dengan kembaki menangis yang terlihat menahan diri untuk mengontrol tangisnya.


Seketika Davin panik. Meletakkan kotak nasi itu di sampingnya dan mengusap air mata Kayra dengan ke-2 tangannya dengan menatap nanar Kayra yang tidak tega pada Kayra dan Davin langsung membawa wanita itu ke pelukannya. Tangisan Kayra membuatnya begitu tersentuh.


" Aku takut papa kenapa-kenapa. Kau belum mengatakan apa-apa kepadaku mengenai papa. Kenapa Dokter tidak mengatakan apapun kepadaku. Bagaimana aku tau kondisi papa. Jika kau di tanya. Kau selalu mengatakan baik-baik saja. Padahal aku tidak tau apa yang terjadi dan bagaimana mungkin papa akan baik-baik saja," ucap Kayra yang mengeluarkan apa yang di pendamnya.


Sejak tadi Davin memang tidak membahas papanya yang membuatnya bingung. Karena tidak tau bagaimana kondisi papanya. Davin mengusap-usap rambut Kayra sembari menenangkan Kayra yang menangis senggugukan.


Merasa Kayra sudah tenang di pelukannya. Davin melepas pelukan itu dengan mengusap lembut air mata Kayra dan juga membuat rambut Kayra di belakang telinganya. Agar wajah yang sembab itu terlihat jelas di deoannya. Ya jangan tanya wajah Kayra begitu memerah bagai anak yang menangis seharian.


" Pak Aris tidak apa-apa Kayra. Dokter Han mengatakan. Dia hanya refleks sadar. Karena ada sarafnya yang tiba-tiba bergerak dan membuat keadaannya mendadak seperti itu," ucap Davin yang akhirnya mengatakan apa yang di bicarakan tadi dengan Dokter Han.


" Jika seperti itu. Lalu kenapa Dokter- Dokter itu tegang dan bahkan sampai papa jantungnya di pompa. Bukankah karena ada sesuatu dari situ hal itu?" tanya Kayra yang tidak puas dengan pernyataan Davin.


" Tidak ada sesuatu Kayra. Hal itu karena tiba-tiba membuat kondisi Pak Aris menjadi drop. Tetapi setelah di tangani tadi. Kondisinya sudah kembali normal seperti yang aku katakan tadi dan Pak Aris sudah baik-baik saja. Sama seperti awal dan bahkan banyak kemajuan," jelas Davin yang bicara dengan lembut agar Kayra tidak khawatir lagi


" Kamu tidak bohongkan?" tanya Kayra yang tidak percaya.


" Aku mana mungkin bohong. Apa yang aku katakan adalah kebenarannya. Aku sudah bicara dengan Dokter Han dan Dokter Han akan terus berusaha untuk kesembuhan Pak Aris," jelas Davin.


" Lalu kapan papa akan sembuh?" tanya Kayra yang menginginkan secercah harapan.


" Kayra aku bukan tuhan. Aku mana tau kapan papa akan sembuh. Bukannya kita hanya bisa berdoa dan Dokter yang berusaha untuk kesembuhan papa," ucap Davin.


Davin memegang ke-2 tangan Kayra dengan menatap dalam-dalam mata Kayra.


" Hentikan tangis kamu. Aku tau itu wajar. Tapi menangis juga ada batasnya. Kamu dari pagi terus menangis. Kayra aku sudah mengatakan berkali-kali semuanya akan baik-baik saja. Kamu hanya perlu menjaga kesehatan kamu. Pikiran kamu yang harus di tenangkan. Ingat semua ini tidak mudah. Jadi jangan seperti ini," ucap Davin yang terus mengingatkan Kayra.


" Ya sudah. Kamu jangan menangis lagi. Hentikan semuanya. Sekarang kamu makan dan setelah ini kamu harus pulang kamu harus beristirahat," ucap Davin.


" Aku mau di sini aja menemani papa," ucap Kayra.


" Kamu mau tidur di mana hah! di dalam kamu tidak bisa masuk. Kamu mau di sini. Yang ada kesehatan kamu akan menurun. Jadi jangan cari penyakit," ucap Davin mengingatkan.


" Apa kamu tidak bisa mengusahakan. Biar aku bisa tidur di rumah sakit. Tidak apa-apa tidak di kamar papa. Tetapi tetap di rumah sakit. Agar nanti jika ada apa-apa dengan papa aku langsung tau," ucap Kayra.


Davin menghela napasnya, " baiklah aku akan melakukan apa yang kau inginkan. Yang penting sekarang kamu makan dan jangan menunda-nunda lagi," ucap Davin yang rela melakukan apapun demi Kayra.


" Iya aku akan makan," jawab Kayra.


Davin pun akhirnya menyuapi Kayra dengan perlahan. Davin tau Kayra tidak selera untuk makan dan begitu terpaksa untuk memakan. makanan itu.


Namun dia harus tetap memaksa Kayra untuk makan. Agar kondisi Kayra baik-baik saja.


" Aku ternyata salah. Ternyata kamu tidak sekuat itu Kayra. Kau begitu lemah. Jika sudah menyangkut papamu," batin Davin yang terus menyuapi Kayra dengan lembut dan menunggu Kayra mengunyah makanan itu dengan terpaksa.


********


Demi Kayra akhirnya Davin mengusahakan apa yang di inginkan Kayra. Yaitu untuk tidur di rumah sakit. Davin menyuruh Reyhan untuk mengurus semuanya. Sampai akhirnya Reyhan mendapatkan kamar mewah di rumah sakit itu untuk peristirahatan istri bosnya.


Sekarang Davin yang menggendong Kayra ala bridal style menuju kamar yang di tunjukkan Reyhan. Kayra memang kelelahan dan setelah makan tadi Kayra juga langsung tertidur di pundak Davin.

__ADS_1


Begitu tiba di depan kamar. Reyhan langsung membuka pintu kamar mempersilahkan bosnya itu untuk masuk.


Davin langsung masuk dan langsung merebahkan istrinya di atas tempat tidur dengan perlahan.


" Hanya tidur seperti ini. Kau berhenti menangis," ucap Davin yang duduk di samping Kayra yang menatap nanar wajah itu. Wajah yang begitu sembab karena kebanyakan menangis.


Bahkan masih ada tetes air mata yang tersisa di pipinya dan di halusnya dengan lembut. Di mana Davin mendekatkan wajahnya pada Kayra agar bisa melihat Kayra dengan jelas.


" Jangan menangis lagi Kayra. Apa kau tidak lelah," ucapnya dengan lembut tepat di wajah Kayra Davin yang kelihatannya ingin mencium bibir Kayra. Namun Davin tidak jadi melakukannya. Karena menyadari ada Reyhan.


" Ck," Davin menoleh kebelakang dan melihat Reyhan hanya berdiri saya dengan tersenyum membuat Davin kesal yang mana Reyhan sudah mengganggu aksinya. Ya Reyhan lama kelamaan tau jika Davin itu sangat bucin pada Kayra. Harga diri Davin benar-benar akan jatuh di depan Reyhan.


" Mana pakaiannya?" tanya Davin dengan nada ketus.


" Ini bos," jawab Reyhan yang memberikan paper bag pada Davin.


Sebelumnya Davin menyuruh Reyhan sekalian membawakan pakaian ganti untuk Kayra. Davin membuka paper bag tersebut dan langsung mengeluarkan apa isinya yang mana satu stel pakaian tidur untuk Kayra. Karena Kayra tidak mungkin tidur memakai yang di pakainya sejak pagi. Kayra tidak mungkin nyaman menggunakan pakaian tersebut.


Davin kelihatannya ingin mengganggu pakaian Kayra. Namun saat tangannya memegang tangan baju Kayra. Lagi-lagi Davin menghentikannya yang menyadari di dalam kamar itu bukan hanya dia dan Kayra saja. Tetapi ada juga Reyhan.


Davin berdecak kesal dan melihat kebelakang melihat Reyhan yang masih berdiri di tempatnya dengan tersenyum pada Davin. Yang tidak tau apa arti senyuman itu.


" Kau akan tetap di situ menungguku membuka pakaiannya? atau kita mau menggantinya sama-sama?" tanya Davin dengan sindiran.


" Boleh bos," sahut Reyhan keceplosan membuat Davin merapatkan giginya dengan sorot matanya yang tajam.


" Maaf bos maksud saya bukan seperti itu," Reyhan langsung panik yang takut di sembur Davin.


" Saya pikir bos masih butuh bantuan saya. Lagian mana mungkin saya jadi penonton untuk Bos dan Nona Kayra. Itu sangat aneh. Jadi maaf bos dengan kelancangan mulut saya ini," ucap Reyhan dengan senyum-senyum cengengesan yang dia tidak tau saja apa yang di lakukannya membuat Davin ingin menerkamnya.


" Kalau begitu untuk apa kau masih di sini. Sana pergi! panjang sekali alasanmu," usir Davin dengan kesal.


" Hmmm baik Bos saya juga mau pergi. kalau Bos butuh sesuatu silahkan panggil saya," ucap Reyhan.


" Kau jangan mengajariku. Sana pergi!" usir Davin lagi.


" Baik Bos. Saya permisi!" ucap Reyhan yang langsung menundukkan kepalanya dan langsung pergi sebelum Davin memarahinya.


Lagian Reyhan juga aneh sih masih tetap berdiri di sana. Padahal ada suami istri di sana dan bahkan sudah menggagalkan beberapa aksi Davin. Tadi ingin mencium istrinya gagal dan sekarang mengganti pakaiannya harus tertunda dan untung saja menyadari ada Reyhan di sana. Jadi Davin juga tidak kelepasan.


" Dasar tingkahnya ada-ada saja. Apa dia mau ikut-ikutan di setiap apa yang aku lakukan emangnya," umpat Davin dengan kesal pada Reyhan.


Setelah itu Davin pun langsung membuka pakaian istrinya yang pertama di lakukannya dengan setengah mendudukkan tubuh Kayra sedikit untuk membuka resleting di bagian belakang tersebut. Setelah itu baru Davin menurunkan bagian tangan dress Kayra.


Ya penampilan polos Kayra pasti bukan pertama kali di lihat Davin. Sudah pernah sebelumnya di lihatnya dan bahkan di sentuhnya tanpa ada yang tertinggal. Setelah menanggalkan pakaian di tubuh istrinya Davin pun langsung memakaikan pakaian yang tadi di bawakan Reyhan.


Tidak lama untuk Davin melakukan hal itu yang mana pakaian Kayra sudah terpasang kembali dengan yang baru. Davin menghela napasnya dan merapikan rambut Kayra yang menutupi wajahnya. Setelah itu Davin menyelimuti Kayra dan pasti tidak lupa memberikan kecupan di kening Kayra.


" Istirahat lah," ucap Davin dengan lembut mengecup sekilas bibir Kayra.


Davin menghela napas. Mengatur beberapa kali. Lalu keluar dari kamar tersebut yang mungkin ingin membiarkan Kayra untuk beristirahat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2