
"Tuan Wasis, cepat turunkan belati anda! Ini bukan tempat yang tepat untuk melakukannya! Dia benar, jika anda melakukannya di sini, maka kita akan habis!" kata Seno yang melihat hal tersebut. Meskipun Wasis dalam keadaan marah, ketika dia mendengar ini, dia hanya bisa menggertakkan giginya dan langsung menurunkan belatinya. Wasis bisa memahami apa yang di maksud oleh Seno. Selain kejam, dia masih punya otak, dan dia pasti mengerti mana yang boleh dan tidak boleh di lakukan.
"Arsa, jangan khawatir, bahkan jika aku tidak bisa menyingkirkanmu sekarang juga. Aku jamin kamu tidak akan hidup lebih lama lagi." kata Wasis yang hanya bisa menahan amarahnya.
"Kalau kamu masih ingin mengirim orang-orangmu untuk membunuhku secara diam-diam, maka aku bisa pastikan kamu pasti akan sangat kecewa. Beberapa orang yang telah kamu kirim untuk menyingkirkanku terakhir kali tidak sebanding dengan pengawal ku." kata Arsa mencibir.
"Orang-orang itu... Semua kamu singkirkan dengan mudah? " tiba-tiba wajah Wasis berubah mencadi pucat pasi. Karena sampai sekarang dirinya tidak bisa menemukan orang-orang yang telah di suruh untuk menyingkirkan Arsa saat itu hingga saat ini. Dan mendengar apa yang di katakan oleh Arsa barusan, membuat Wasis semakin yakin kalau semua orang suruhannya itu sudah tak bisa kembali lagi. Dan juga Wasis tidak bisa membayangkan bagaimana Arsa bisa menghadapi orang-orang itu padahal dia sendirian.
"Bagaimana mungkin Arsa bisa dengan mudah menghadapi lebih dari sepuluh orang sekaligus. Mereka juga membawa senjata." Gumam Wasis dala hati.
"Orang-orang yang kamu kirim itu terlalu lemah. Bahkan mereka tidak sampai bisa menyentuh ujung kuku ku." kata Arsa dengan ekspresi jijik.
"Oh iya, kamu baru saja mengancamku kan. Sekarang aku mau tanya. Mau dengan cara apa kamu akan menyingkirkan aku." Setelah terdiam beberapa saat, Arsa melanjutkan kembali kata-katanya. Terlihat ekspresi wajah Wasis yang masih meremehkan Arsa.
__ADS_1
"Dan satu lagi, aku masih punya ini." kata Arsa sambil mengeluarkan ponselnya lalu menyalakan layarnya tepat di depan Wasis.
"Apa maksudmu? " tanya Wasis dengan bibir manyun menahan emosi dan rasa penasaran. Iya tidak mengerti apa yang di maksud oleh Arsa.
"Kamu ngga paham ya? Sini biar aku kasih tahu. Kamu tahu, hal sesederhana ini pasti akan membuatmu meradang. Kamu tahu, di ponselku ini sudah penuh dengan Video pergulatan istrimu. Kalau suasana hatiku sedang memburuk karena tingkahmu, bisa saja aku mengirimkan video ini ke semua orang untuk menghilangkan kegabutanku." kata Arsa sambil tersenyum. Mendengar apa yang di katakan oleh Arsa, membuat Wasis kembali menahan amarah yang tak berkesudahan. Iya berharap video tersebut tidak beredar lagi. Terakhir kali iya ingat kalau video tersebut di kirim ke semua bawahannya, dan sudah cukup membuat Wasis menebalkan muka. Iya langsung memerintahkan kepada asistandnya untuk mencari tahu siapa yang dengan berani menyabarkan video yang di anggapnya aib tersebut. Tapi kini Arsa malah menunjukkan secara terang-terangan kalau iya memiliki banyak video istrinya. Kalau sampai video ini tersebar kesemua orang, maka iya tak tahu harus menaruh mukanya di mana lagi. Apa mungkin Wasis akan menjalani oprasi plastik sebagai penutup mukanya dari rasa malu. Dengan nafas berat, Wasis mencengkeram jari-jari tangannya menahan amarah kembali. Rasanya, darahnya benar-benar telah naik ke ubun-ubun. Naik darah (read Marah atau emosi.)
"Tuan Wasis." dengan cepat Seno melangkah maju dan langsung memegangi Wasis.
"Kamu, bajingan sekali kamu. Kamu menggunakan cara ini untuk menghancurkanku." kata Wasis dengan nada emosi.
"Bajingan? " kata Arsa sambil menyeringai.
"Kamu yang sudah memulai mengajariku menjadi orang yang bajingan. Kalau saja kamu tidak dengan diam-diam membuat masalah dengan kendi grup, kamu tidak diam-diam menyuruh orang untuk menyingkirkanku, aku tidak akan sebajingan ini. Apa aku salah mengimbangi sifat bajinganmu itu. Dan satu lagi, aku tidak akan melakukan semua ini kalau kamu tidak memulainya. Karena kamu sudah menyalakan api peperangan, maka air perlawanan akan selalu aku guyurkan untuk memadamkanmu." kata Arsa panjang lebar.
__ADS_1
"Aku akan menyimpan video ini terlebih dahulu. Kalau kamu berani mempermainkan aku ataupun perusahaanku, aku akan memastikan kalau seluruh wara Surabaya akan melihat video ini." kata Arsa lagi.
"Bajingan kamu... Bajingan." kata Wasis dengan emosinya. Iya tahu, video yang berada di tangan Arsa saat ini kapan saja bisa mengancamnya.
"Kamu sangat marah kan? Simpan dulu amarahmu itu. Di pelelangan hari ini, kita akan bersaing satu sama lain dengan kekuatan kita." kata Arsa dengan tenang dan sambil tersenyum. Dan di saat Arsa mengakhiri kalimatnya, mata Wasis memerah. Mata itu memancarkan amarah yang benar-benar sudah tak terbendung lagi. Iya merasakan sesak di dadanya seakan amarah itu sudah membludak dan siap untuk meledak. Dia ingin bergegas membunuh Arsa saat ini juga. Tapi iya menyadari kalau hal itu tidak bisa iya lakukan sekarang.
"Arsa, aku ingin kamu mengerahkan semua kekuatanmu untuk tampil semaksimal mungkin di pelelangan ini." kata Wasis sambil menatap Arsa, nada suaranya terdengar sangat dingin. Iya tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Arsa meskipun amarahnya sudah berada di ubun-ubun. Iya hanya berniat membalas Arsa kelak di pelelangan nanti. Wasis sudah mengambil keputusan dalam hatinya. Tidak peduli berapa harga yang harus iya bayar pada pelelangan hari ini. Yang pasti, iya akan membalas semua perbuatan Arsa kepadanya.
"Tidak mungkin acara pelelangan ini membuatku tampak lemah dan buruk di pandangan orang lain. Kalau kamu berfikir deperti itu, maka bersiaplah untuk kecewa. Aku yang akan membuatmu menyesali semuanya melalui acara ini." senyum licik tersungging dari bibir Wasis.
"Silahkan saja bajingan." balas Arsa.
"Fendi, ayo kita pergi." kata Arsa. Setelah itu iya langsung menarik lengan Fendi untuk meninggalkan tempat itu. Wasis yang melihat kepergian Arsa hanya bisa meneratkan genggaman di jarinya. Hingga kuku-kukunya terlihat memutih karena kerasnya cengkraman itu.
__ADS_1