
Di ruang VIP nomor 66, pintu tiba-tiba terbuka dan seorang pria paruh baya berkepala botak masuk.
"Ini adalah manajer umum bar, Tuan Erwin." gumam Varo. Sekilas Varo mengenali pendatang baru itu.
"Tuan Varo, saya dengar Anda sedang berada di sini, dan kebetulan saya juga ada di sini, jadi saya datang untuk minum bersama Anda." Pria paruh baya itu masuk dengan membawa sebotol anggur dan gelas sambil tersenyum.
"Oke. Silakan masuk ke dalam, Tuan Erwin." kata Varo yang segera berdiri dan mengajaknya masuk ke ruanagn.
"Hadirin sekalian, ini adalah Tuan Tuan Erwin, seseorabg yang menjalankan bisnis penjualan grosir dan memiliki aset hampir 10 Milyar." seru Varo.
"Tuan Varo, apakah ini teman-teman lama anda? Kalau begitu, saya juga ingin bersulang untuk mereka." kata Tuan sambil Erwin mengambil gelasnya. Sebelumnya ada bir di dalam kotak, jadi mereka segera menuangkan bir dan meminumnya dengan Tuan Erwin.
"Baiklah, saya akan sangat senang Tuan Erwin." kata Varo.
"Tuan Varo, jika anda ingin menikmati waktu dengan teman sekelas anda, saya akan meninggalkan anda. Selamat mwnikmati." Kata Tuan Erwin. Setelah minum, Tuan Erwin pun pamit.
Varo mempersilahkan manajer tersebut keluar ruangan.
Setelah Tuan Erwin pergi, mereka mulai ngobrol lagi.
__ADS_1
"Varo kamu hebat sekali. Kita bebas datang ke sini untuk bernyanyi kapanpun. Dia sangat mengenal bos bar ini." kata salah satu teman sekelasnya.
"Ya, Varo adalah teman baik bos besar. Bagaimana kita bisa membandingkannya dengan siapapun? " Para mantan siswa kelas itu berbicara dan memuji Varo setelah melihat hal yang lainnya. Bagi mereka, bos yang punya aset hampir 10 Mikyar ini adalah sosok yang patut mereka hormati. Namun, baru saja, Tuan Erwin malah bersulang untuk mereka semua. Ini adalah perlakuan tingkat tinggi yang tidak pernah mereka nikmati pada di hari-hari sebelumnya, dan itu sudah cukup untuk mereka banggakan di masa depan.
"Hei Dimas, ini kamu? " Setelah Tuan Erwin pergi, pintu ruangan tersebut tiba-tiba terbuka lagi, dan seorang pria paruh baya berjas dan berpenampilan macthing masuk. Varo mengenali pendatang baru itu lagi.
"Tuan Varo. Kudengar kau sedang bermain di sini, dan kebetulan aku ada di sini, jadi aku datang untuk menyapa dan minum bersamamu." Pria paruh baya itu berkata sambil berjalan masuk dengan penuh wibawa.
"Kamu selalu datang untuk minum bersamaku. Jadi, tentu saja boleh, kenapa tidak?" kata Varo sambil tersenyum.
"Ayo, tuan Varo, kita minum." Dimas mengisi gelas Varo dengan anggur, lalu mereka mendentingkan gelas dan meminumnya.
"Siapa yang kamu temui, Varo?" Seorang teman sekelas bertanya.
"Dimas itu lebih kaya dari Tuan Erwin. Dia punya perusahaan tenaga kerja dan sasana dengan total aset lebih dari 20 Mikyar." kata Varo.
" Varo benar-benar hebat, yang bisa mengenal begitu banyak bos yang berkuasa! " puji teman yang bertanya tadi.
"Kamu menyanjungku. Aku kenal banyak bos." Varo tersenyum dan berkata bahwa dia menikmati kekaguman teman-teman sekelasnya. Berturut-turut, dua bos eksekutif bar datang menyambutnya dan mengajak untuk minum, yang membuat Varo merasa sangat bangga. Lalu, dia berbalik dan menatap Arsa.
__ADS_1
"Begini, Arsa. Aku di sini hanya untuk menyanyikan sebuah lagu, tapi beberapa bos datang untuk minum dan menyapa aku. Ini dia identitasku." kata Varo seperti mengejek.
"Tapi kamu, bisakah kamu berhenti berpura-pura kaya? Bahkan ketika mampu mengendarai Lamborghini, kok tidak ada orang yang minum atau menyapa kamu?" ejek Varo.
"Total aset keduanya barusan adalah 30 milyar Rupiah, dan menurut kamu ini juga layak untuk dipamerkan? Bos yang tidak memiliki aset minimal 100 Milyar tidak memenuhi syarat untuk menemui aku. Bos yang memiliki kurang dari 1 Trilyun asetnya harus hormat kalau ketemu saya, biarpun punya kekayaan miliaran rupih, tetap harus sopan ke Aku." kata Arsa langsung pada intinya.
"Apa? Bos yang punya kekayaan miliaran. Apa termasuk aku harus sopan sama kamu?" Seluruh hadirin tertawa terbahak-bahak, dimulai dari Varo. Di telinga semua orang, apa yang baru saja dikatakan Arsa adalah lelucon besar.
"Wah, kamu tidak hanya tahu cara menyombongkan diri , tapi kamu juga tahu cara melebih-lebihkan diri sendiri? Kamu bisa berbohong seperti itu tanpa merasa malu. Aku kasihan padamu." kata Varo mendengus.
"Membual? Aku tidak sedang membual." Arsa tersenyum pada Varo dengan nada menghina. Pada saat ini, beberapa pelayan datang membawa anggur dan beberapa piring buah. Setelah anggur dan piring yang berisi buah itu diletakkan, pelayan dengan hormat menghampiri Arsa. Dia kemudian melaporkan,
"Tuan Arsa, manajer umum kami ada di luar dan mengatakan dia akan datang menemui Anda." kata pelayan tersebut. Mereka yang ada di sana semuanya bingung. Pelayan itu sekarang tahu persis identitas Arsa. Apakah dia berani bersikap tidak sopan? Dia bahkan sangat gugup, lagipula, dia sedang berbicara dengan Pimpinan Kendi!
"Biarkan dia masuk," kata Arsa dengan tenang.
"Baik, Tuan!" Jawab pelayan itu dan mundur. Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berperut gendut datang dengan senyuman di wajahnya. Dia jelas adalah manajer umum Kiasan bar.
"Tuan Arsa Kenandra, saya adalah pimpinan Kiasan Bar. Saya minta maaf karena tidak menyapa dengan segera setelah Anda tiba. Saya harap Anda mau memaafkan saya. Jika Anda mempunyai instruksi lain, jangan ragu untuk mengatakannya." kata manajer dengan hormat. Sesaat kemudian, semua yang ada di sana kembali terpana.
__ADS_1