Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Dedikasi Gadis Muda


__ADS_3

Ketika mereka melakukan oprasi untuk seorang anak kemarin, panti asuhan Kasih Bunda telah menghabiskan semua uang yang ada di rekening mereka, tapi masih ada kekurangan 8 juta lagi. Hari ini, ada anak lain yang membutuhkan uang di rumah sakit. Mereka masih tidak tahu harus berbuat apa. Dan hal tersebut sangat menunjukkan betapa kekurangannya masalah uang di panti asuhan tersebut.


"Devina, dibandingkan dengan kamu, aku hanya memberikan uang yang berjumlah tidak seberapa. Sedangkan kamu mendedikasikan hidupmu untuk panti asuhan ini dengan semua yang kamu miliki. Kamu benar-benar hebat." Kata Arsa. Hudoyo juga mengangguk setuju mendengar apa yang di katakan oleh Arsa.


"Kami sangat tersanjung dengan pujian anda tuan." Devina tersenyum sambil meneteskan air matanya, merasa terharu.


"Ngomong-ngomong, Devina, kamu kenal sama Aprilia Dewi?" tanya Arsa. Arsa memikirkan polwan muda itu ketika dia melihat Aprilia yang baru saja keluar dari panti asuhan, jadi dia ingin tahu. Iya pun langsung bertanya pada Devina. Dan Devina yang mendengar pertanyaan itu buru-buru mengangguk.


"Tentu saja tuan. Dia juga orang yang baik. Dalam beberapa tahun terakhir, dia akan datang ke panti asuhan sebagai sukarelawan di waktu luangnya, bekerja untuk panti asuhan dan anak-anak di sini secara gratis. Sebagian besar gajinya dihabiskan untuk membeli pakaian untuk anak-anak di sini, sementara saya kebagian membeli makanan untuk mereka. Aprilia dan saya adalah teman baik." jawab Devina. Arsa terkejut mendengar penjelasan gadis itu. Meski Aprilia itu sedikit bersikap ketus, Arsa harus mengakui bahwa dia sangat baik hati.


"Tuan Arsa, uang yang saya kembalikan kemarin juga di antarkan oleh Aprilia." Devina pun melanjutkan kata-katanya.


"Benarkah?" Arsa tiba-tiba teringat kalau dia bertemu dengan Aprilia di rumah sakit kemarin. Jadi, dialah yang mengirimkan uang itu.


"Apakah tuan Arsa... Apakah Anda mengenal Aprilia?" kata Devina ingin tahu.

__ADS_1


"Yah, aku tidak benar-benar mengenal dia sepenuhnya. Aku hanya sekedar mengenalnya saja." Arsa melambaikan tangannya.


"Dia baru saja ada di sini beberapa saat yang lalu. Dia bilang dia ingin melihat anda dengan mata kepalanya sendiri, tapi dia tiba-tiba mendapat panggilan mendesak. Akhirnya pergi untuk urusan di kantornya." Devina tersenyum sambil memberitahu Arsa.


"Dia Ingin melihat pria baik hati yang saya ceritakan kemarin." kata Devina lagi.


"Apa kamu bilang... Pria baik hati? " Arsa tersenyum. Di mata Aprilia, dirinya adalah generasi ketiga yang sangat kaya tapi tidak berperasaan, bagaimana reaksinya jika Aprilia tahu pria baik yang ingin di temuinya itu adalah dirinya.


"Sekarang, karena amanah ini telah tersampaikan, Hudoyo dan aku akan pergi lebih dulu." kata Arsa sambil berbalik untuk pergi.


Anak-anak yang sedang bermain di halaman menjadi ketakutan. Mereka langsung saja bersembunyi ketika melihat banyak orang itu.


"Siapa yang datang? " kata bu Kartini


"Kenapa mereka datang lagi? " Baik bu Kartini pengasuh panti asuhan dan Devina merasa tidak suka dengan kehadiran wajah mereka.

__ADS_1


"Ibu tenang saja, saya akan menelepon Aprilia untuk meminta bantuan!" Devina segera meraih ponselnya dan menelepon Aprilia. Ketika telepon tersambung ke Aprilia, dia langsung berkata,


"Aprilia, mereka datang ke sini lagi!" kata Devina dengan nada khawatir.


"Bu, Aprilia bilang dia akan segera kembali kesini. Mari kita pertahankan terlebih dahulu sebelum.Aprilia datang." Devina terlihat sedikit takut di wajah kecilnya.


" Manusia seperti Hewan ini benar-benar tidak manusiawi! Bahkan panti asuhan pun tidak akan mereka lihat hanya demi uang!" kata bu Kartini dan wajahnya tampak pucat.


"Siapa orang-orang ini, bu Kartini, Devina? " tanya Arsa dengan kening berkerut.


"Mereka dari Kejora Grub. Mereka ingin membeli tanah panti asuhan ini untuk membangun gedung baru. Tapi mereka hanya memberi kami kompensasi satu 100 juta, yang tidak akan cukup untuk membangun panti asuhan yang layak untuk anak-anak" kata Devina. Devina melanjutkan dengan suara gemetar.


"Mereka datang untuk berbicara yang kedua kalinya. Di kedatangannya yang pertama, kami semua menolak. Saat itu, dia mengatakan kalau mereka akan memberi kami waktu tiga hari untuk memikirkannya. Dan hari ini kebetulan adalah hari ketiga." kata Devina.


Ketika Arsa masuk pertama kali ke tempat ini, dia melihat ke keadaan lokasi panti asuhan. Panti asuhan ini kemungkinan besar dibangun sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, dengan lokasi berada di pinggir kota. Harganya murah, dan tanahnya terlihat tidak memilik prospek yang bagus.

__ADS_1


Namun, setelah lebih dari satu dekade pembangunan, harga tanah di sekitar sini sudah meningkat berkali-kali lipat. Panti asuhan itu sudah berada di daerah yang makmur, dan ada sebuah sekolah di dekatnya. Dan tanah berdirinya panti asuhan itu sangat luas. Jika tanah ini dikembangkan menjadi sebuah real estate, di dalam area tersebut terdapat perumahan dengan distrik sekolah, rumah yang dibangun di atas tanah ini pasti akan menjadi sangat populer. Arsa memenangkan sebagian besar tanah pada lelang terakhir, itu sebabnya Kejora grub tidak punya tanah yang cukup untuk dikembangkan, sehingga mereka menargetkan tempat semacam ini. Karena orang-orang kecil sangat mudah untuk di tindas dan di intimidasi.


__ADS_2