
"Kalau begitu aku akan memberitahu kamu sesuatu. Aku sudah tidur dengan Rita. Dia sudah menjadi wanitaku dan kamu tidak bisa mengubahnya." kata Arsa Kenandra.
Arsa Kenandra berkata hari ini, saat berada di Resort pemandian air hangat, kalau Rita Maharani masuk ke mobil Rafa Winston, dia tidak akan lagi bisa menyayangi Rita Maharani. Dia juga tidak akan berhutang budi lagi pada Rita Maharani. Maka, seluruh tanggung jawabnya telah gugur.
Dan karena Rafa Winston datang ke kantor Arsa Kenandra. Arsa tidak mau tunduk pada Rafa Winston. Ini tentang martabat seorang pria. Ketika Rafa Winston mendengar perkataan Arsa Kenandra, otot wajahnya bergerak-gerak dan wajahnya menjadi gelap.
"Omong kosong! Bagaimana mungkin Rita bisa tidur denganmu? Jangan menyebarkan rumor di sini dan kamu akan terluka parah jika berani memanfaatkan kepolosan Rita." Rafa Winston menatap Arsa Kenandra dengan kejam. Masih ada sedikit amarah di matanya.
"Percaya atau tidak, itu bukan urusanku. Lagi pula, entah namamu Rafa Winston atau siapa lah, jangan pernah berani-beraninya kamu menyuruh aku. Kalau kamu masih bersikap begitu, aku hanya akan menganggapmu angin lalu." Arsa Kenandra menatap Rafa Winston.
"Di antara generasi muda di kota Surabaya ini, tidak ada seorang pun yang berani berbicara seperti itu kepada aku. Satu-satunya orang yang berbicara kepadaku seperti ini adalah kamu." Rafa Winston memicingkan mata ke arah Arsa Kenandra. Ada rasa ingin membunuh di matanya. Ketika Rafa Winston mengatakan ini, dia kembali menarik kerah baju Arsa Kenandra. Ini adalah kedua kalinya dia menarik kerah baju Arsa Kenandra hari ini.
"Sudah kubilang, meskipun kamu adalah cucu Andi Sudiryo sendiri, aku akan tetap menghajarmu. Aku akan melumpuhkanmu hari ini." Rafa Winston menatap Arsa Kenandra dengan marah.
"Hentikan..." Terdengar suara nyaring menyuruhnya berhenti. Rafa Winston melihat ke sekeliling. Dan yang berkata Itu ternyata adalah Hudoyo.
"Kamu lagi ternyata. Kamu ingin melindungi tuanmu, bukan? Baiklah kalau begitu, aku akan menyelesaikan kamu terlebih dulu." Rafa Winston melepaskan Arsa Kenandra dan berjalan menuju Hudoyo. Rafa Winston telah banyak memenangkan kejuaraan wilayah militer, sekaligus juga menjadi anggota tim khusus Militer Indonesia. Dia benar-benar yakin dengan kemampuannya. Kalau hanya berhadapan dengan seorang pengawal, dia tidak menganggapnya serius.
"Coba, aku ingin lihat berapa kuat level tim Khusus Militer Negara saat ini." kata Hudoyo. Senyuman muncul di sudut bibir Hudoyo.
Pada saat ini, Fendi, General Manager yang berada di ruangan tersebut, bergegas menemui Arsa Kenandra.
"Tuan Arsa, Rafa Winston adalah anggota tim khusus Militer Indonesia. Keahliannya benar-benar bagus. Saya khawatir pengawal Anda ini akan sulit untuk bisa mengimbanginya. Saya akan memanggil penjaga keamanan. Jika tidak, setelah dia berhasil mengalahkan pengawal anda, dia pasti akan melumpuhkan anda dengan amarahnya." Fendi berkata penuh rasa khawatir. Iya khawatir karena yang Pertama, Fendi tidak mengenal Hudoyo dan dia tidak tahu kalau Hudoyo hebat. Tidak ada harapan kepada Hudoyo dalam hati Fendi untuk bisa melawan Rafa Winston.
"Bagaimana pengawal biasa bisa menjadi lawan tim Khusus Militer Indonesia?" gumam Fendi dalam hati.
__ADS_1
"Tidak, aku percaya pada Hudoyo," kata Arsa Kenandra. Arsa Kenandra tahu betapa kuatnya Hudoyo. Akan lebih baik jika Hudoyo bisa menghentikan kesombongan lelaki bernama Rafa Winston itu. Jika Hudoyo tidak dapat menghentikan Rafa Winston, penjaga keamanan baru akan dipanggil. Mereka sama sekali tidak bisa menghentikan Rafa Winston. Meski Fendi merasa sangat cemas dan khawatir, Arsa Kenandra hanya bisa mengangguk.
Pada saat ini, Rafa Winston telah berjalan menuju Hudoyo.
"Rafa Winston, kamu telah berani menantang. Hari ini aku akan menjatuhkan harga dirimu di hadapan Arsa." Hudoyo menatap Rafa Winston dengan binar di matanya. Setelah mendengar kata-kata itu, Rafa Winston tidak bisa menahan tawa.
"Yang kamu katakan itu adalah sebuah lelucon besar. Seorang pengawal rendahan sepertimu berani mengatakan hal-hal arogan seperti itu di hadapanku. Jika aku bahkan tidak bisa bertarung denganmu sebagai pengawal kecil, bukankah aku hanga bermain-main di tim Khusus militer Indonesia?" Rupanya, Rafa Winston sama sekali tidak memperhatikan Hudoyo.
"Jangan terlalu banyak bicara anak muda. Demi masa mudamu, aku akan memberimu tiga jurus untuk melawanmu." Hudoyo meletakkan tangannya di belakang punggungnya sambil mengatakannya perlahan.
"Beri aku tiga jurus? Aku hanya perlu satu jurus untuk membunuhmu." Rafa Winston berkata dengan bangga.
Kalimat Rafa Winston yang terdengar marah lalu langsung meledak. gerakan tangannya sangat cepat dan menyebabkan suara angin timbul di ruangan itu. Tinjunya kuat, sangat kuat. Pukulan Rafa langsung mengarah ke jantung Hudoyo.
"Ayo cepat! Lakukan apa yang bisa kamu lakukan." kata Hudoyo. Dengan kecepatan sedemikian cepat, orang biasa akan terpukul sebelum mereka bereaksi. Tepat ketika tinju Rafa Winston hendak mengenai Hudoyo. Dia bergerak dan menghindari pukulan itu secara instan. Dia terlihat sangat santai.
" Tampaknya kamu mempunyai kemampuan tertentu. Pantas saja kamu begitu berani bersikap sombong." Rafa Winston menyipitkan mata. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Tapi aku akan tetap menjatuhkanmu." Hudoyo meletakkan tangannya di punggung dan berkata dengan suara rendah yang serak.
"Ini langkah pertamamu? " tanya Tanya Hudoyo.
"Oh, sombong sekali. Terima ini." Rafa Winston melakukan gerakan lain. Kali ini ia mempercepat lebih banyak gerakan. Namun, masih dengan mudah di tangkis oleh Hudoyo. Pukulannya yang begitu cepat langsung membentur kaca. Rafa Winston melakukan gerakan yang gagal dan langsung membentur kaca yang keras itu, dalam sekejab, kaca itu membentuk jaring laba-laba karena retak. Setelah kegagalan gerakan ini, Rafa Winston langsung mengubah gerakannya dan dengan cepat menyapukan kakinya dalam upaya untuk menyerang Hudoyo, tapi dia masih bisa di tangkis oleh Hudoyo lagi.
"Tiga gerakan telah selesai, dan sekarang giliran kamu untuk menerima gerakan dariku." Setelah Hudoyo selesai berbicara, sebuah pukulan langsung iya gerakkan. Dalam sekejap, kedua pria itu mulai bertarung. Terlibat perkelahian yang begitu sengit dalam setiap pukulan. Rafa Winston berada dalam posisi yang tidak menguntungkan, dan saat itu pula iya langsung dipukul oleh Hudoyo.
__ADS_1
" Sialan." Rafa Winston mengubah kepasifan menjadi inisiatif dan bergerak lagi. Namun, semua itu masih kalah cepat dengan Hudoyo. Pengawal Arsa itu berjongkok, lalu mengangkat Rafa Winston, dan tiba-tiba saja pemuda yang menjadi anak sulung keluarga Winston itu terjatuh. Rafa Winston langsung terlempar ke atas meja dan menghancurkan meja menjadi dua. Rafa Winston berjuang beberapa kali sebelum dia bisa berdiri kembali.
Dia merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Dengan perlahan iya menyentuh pinggangnya dengan satu tangan. Dia juga terlihat sangat pucat dan dengan ekspresi yang sulit di artikan. Hanya dengan lima pukulan, hasilnya sudah terlihat, pertempuran sengit pun berakhir.
"Tuan Arsa, pengawal anda hebat sekali." kata Fendi. Fendi menelan ludahnya yang kering dengan kesusahan, dan matanya penuh keterkejutan. Fendi mengira pengawal Arsa Kenandra tidak akan mampu mengalahkan Rafa Winston. Dia tidak pernah menyangka pengawal Arsa Kenandra akan menang dan hal tersebut akan terjadi dengan semudah itu.
"Seperti yang diharapkan." jawab Arsa Kenandra. Senyuman muncul di sudut bibir Arsa Kenandra. Arsa sangat puas dengan skill Hudoyo. Orang ini adalah seorang pengawal yang sangat baik. Hudoyo menatap Rafa Winston dan mengucapkan sebuah kalimat.
"Kamu kalah." kata Hudoyo. Setelah Rafa Winston mendengar kata-kata itu, otot-otot wajahnya bergetar hebat dan wajahnya menjadi semakin buruk. Dia adalah pasukan tim khusus militer Indonesia, namun dia dikalahkan oleh pengawal biasa hanya dalam lima serangan. Hal ini membuat Rafa Winston yang selama ini sombong tak terbendung, kesulitan menerima kekalahannya.
"Siapa kamu? Bagaimana kamu bisa begitu kuat?" Rafa Winston menggigit bibirnya dan berkata dengan kejam. Hanya melalui pertemuan singkat, dia sudah menyadari kekuatan Hudoyo. Hampir semua rekruitmennya mengalami kerugian karena tak mengetahui orang hebat seperti Hudoyo. Rafa Winston tahu, meskipun dia terus melawan Hudoyo, dia tidak akan pernah bisa mengalahkan pria ini.
"Aku hanya seorang pengawal." kata Hudoyo dengan pelan.
Hudoyo pernah bertugas di pasukan khusus Negara Indonesia. Hudoyo adalah seorang prajurit dengan kemampuan yang paling menonjol dan membanggakan saat itu. Dia juga sangat akrab dengan keterampilan bertarung pasukan khusus militer Indonesia. Selain itu, setelah ia keluar dari Satuan Tim Khusus, Iya mengembara ke berbagai tempat untuk menjadi seorang petinju bawah tanah. Dia memainkan tinju hitam selama bertahun-tahun dan melalui pelatihan pertempuran yang tak terhitung jumlahnya. Pengalaman tempur sebenarnya ribuan kali lebih banyak daripada pengalaman Rafa Winston.
Sebuah Pukulan hitam atau pukulan rahasia adalah jenis pertarungan untuk menentukan hidup. Dan lawannya yang merasa putus asa, biasanya akan bertindak sangat berbeda dari perjanjian biasanya. Hudoyo sudah menyentuh, merangkak, berguling, dan bertarung dalam permainan yang tak terhitung jumlahnya sepanjang perjalanan.
"Setelah banyak mengalami cedera, aku tidak pernah tahu seberapa baik kemampuan bertarung ku yang sebenarnya dibandingkan Rafa Winston. Rafa Winston masih terlalu muda untuk melawan aku." gumam Hudoyo dalam hati.
"Rafa Winston, kamu mengaku sebagai anggota tim Khusus Indonesia. Tetapi kamu hanya berbicara omong kosong. Dan hanya itu yang bisa kamu lakukan? Kamu bahkan tidak bisa mengalahkan pengawal ku. Tampaknya tim Khusus mu itu tidak terlalu bagus. Dan semua yang kamu lakukan Itu benar-benar sia-sia." Arsa Kenandra mencibir dan berkata. Faktanya, Arsa Kenandra tahu kalau bukan karena Rafa Winston lemah, tetapi karena Hudoyo terlalu kuat. Rafa Winston bersikap sangat arogan. Arsa Kenandra menemukan peluang yang tentunya akan membuat Rafa Winston merasa terhina.
Ketika Rafa Winston mendengar perkataan Arsa Kenandra, wajahnya memerah dan kepalan tangannya berbunyi klik. Rafa Winston bertanya pada dirinya sendiri bahwa dia belum pernah dipermalukan selama bertahun-tahun.
"Jangan berani-berani nya kamu membicarakan aku seperti itu, atau aku akan membunuhmu." Rafa Winston sangat marah sehingga dia bergegas mendekati Arsa Kenandra lagi.
__ADS_1
"Berhenti! " Hudoyo maju untuk menghentikan Rafa Winston
"Aku akan memberitahu dan mengingatkanmu satu hal lagi. Jika kamu ingin menyentuh Arsa, kamu harus melangkahi tubuhku terlebih dahulu." Ucap Hudoyo sambil memicingkan matanya.