
"Apa kamu tadi bilang kalau Zef dipukuli? Memangnya kenapa?" tanya Arsa kepada Adit dengan heran. Zef adalah teman sekamar Arsa dan Adit.
"Dia itu seorang anak yang pendiam. Seorang mahasiswa yang terus bergelut dengan laptopnya. Bahkan, keluarnya Zef hanya untuk ke tempat layanan internet saja." Kata Arsa. Tapi, meskipun begitu Arsa sangat menghormati temannya itu.
"Zef tadi bilang kalau dia di pukuli beberapa pemuda di dekat kampus. Dia kayanya punya tunggakan tagihan uang internet. Anak muda yang merasa kesal tadi menyeret Zef keluar dari kampus lalu memukulinya. Sekarang Zef tidak akan dibiarkan pergi begitu saja kalau belum bisa membayar semua tunggakan itu." jawab Adit yang berkata dengan rasa kasihan.
"Anak itu biasanya ngga pernah membuat masalah. Tiba-tiba saja dia di kasari dan di hajar seperti itu. Hanya karena mereka menuntut bayaran, mereka berani melakukan kekerasan. Kalau sampai Zef tidak bisa membayarnya, dia tidaka akan dibebaskan. Mereka menyandera Zef hanya karena masalah sepele. Kita harus melakukan sesuatu." Kata Arsa.
"Aku ngga nyangka semua ini terjadi. Hal ini benar-benar ngga bisa di percaya. Bagaimana hal sepele seperti ini menjadi besar seperti ini? Yang aku tahu Zef ngga pernah seperti ini sebelumnya." Arsa bergumam lagi dengan ekspresi bingung.
__ADS_1
"Manurutmu bagaimana Arsa? " Adit bertanya.
"Ngga banyak yang bisa aku lakukan. Aku hanya ingin datang dan melihat mereka, setelah itu menyuruh mereka pergi dengan sendirinya. Menurutmu juga apa yang bisa kita lakukan? " Arsa langsung berdiri dari tempat duduknya dengan sedikit emosi.
"Aku nggak yakin kita bisa melakukan banyak hal. Tapi dari yang terakhir aku dengar dan aku lihat ada sekitar 8 atau 9 orang yang saat ini memukuli Zef. Mungkin saja lebih. Kamu tau kan kita hanya berdua saja. Bisa saja akan ada hal yang terjadi sama kita." Kata Adit ragu.
"Kamu pikir kita hanya berdua saja? aku yakin nanti akan ada beberapa orang yang mau membantu kita. Ayo, kita selesaikan masalah ini sekali ini dan untuk selamanya." kata Arsa.
Ada beberapa remaja dan lelaki paruh baya yangbterlihat sedang bertindak kasar. Ada beberapa orang di antara mereka yang tubuhnya di penuhi dengan gambar-gambar tato, bahkan sampai ke lehernya. Wajah-wajah kebengisan terpampang jelas dari raut wajah mereka.
__ADS_1
Sedangkan di dalam Planet Caffe Internet (read- Warnet), Zefran berada. Wajahnya penuh dengan lebam, babak belur tak berbentuk. Sepertinya lelaki yang menjadi teman sekamar Arsa dan Adit itu baru saja di pukuli dengan Brutal oleh orang-orang tadi.
"Bagaimana kabarmu Zefran? Apa kamu sudah menyuruh seseorang untuk datang kesini membawa uang untuk membayar tunggakanmu? " Seorang lelaki muda berambut pirang berkata sambil mencengkeram kerah baju dan melemparkannya dengan sadis.
"Aku tidak tahu. Kamu masih mengikatku seperti ini bagaimana mungkin aku bisa menghubungi siapa-siapa?" Kata Zef dengan sinis. Di saat mendengar apa yang di katakan oleh Zef, lelaki itu mengepalkan tangannya dan langsung memukul Zef yang sudah lemah tak berdaya. Zef mengepakan tangannya. Meskipun emosi nya benar-benar memuncak, dia menyadari kalau dirinya tidak mungkin bisa melawan orang di depannya itu.
"Aku kasih saran, lebih baik kamu bayar hutangmu atau kamu akan menyesal karena sudah berani menipu kita." Kata lelaki itu di dekat wajah Zef. Iya kembali melayangkan pukulan ke wajah Zef yang sudah babak belur itu.
"Kamu tahu? Kalau kamu mau mengoleskan peremn karet ini ke wajahmu lalau memakannya, aku akan berbaik hati untuk melepaskan kamu." Kata lelaki itu dengan senyum. Iya mengedipkan sebelah alisnya seolah bercanda dengan keadaan Zef yang sudah benar-benar mengenaskan. Zef yang mendengar itu merasakan kebas di hatinya. Tatapannya tajam seakan siap menghunus dengan kejam. Hatinya sudah tak bisa lagi menerima perlakuan mereka. Langsung saja seorang lelaki yang sejak tadi berdiri di samping lelaki rambut pirang itu melambaikan tangan. Memberi isyarat kepada yang lain untuk mendekat.
__ADS_1
"Teman-teman, pegang dia. Aku akan memberikan ini." Kata Lelaki itu dengan nada mengejek. Mereka semua mendekat ke arah Zef lalu memegang lelaki yang sudah tidak berdaya itu agar tidak melawan. Dengan paksaan, Para pemuda itu mengoleskan permen karet bekas di makan Zico ke wajah Zefran. Setelahnya, salah satu pemuda itu mencengkeram pipi kanan dan kiri Zef lalu memasukkan permen karet bekas ke mulutnya. Membuat Zef sudah tidak bisa lagi untuk bergerak melawan mereka semua. Pemuda itu seakan tak punya hati untuk sekedar mengasihi orang yang sudah tak berdaya lagi.