
"Tuan Wasis memiliki orang yang sangat kuat dan dia juga keterlaluan, peluang menang untuk tuan Arsa tipis sekali! "
"Memang benar petarung andalan Tuan Wasis terlalu kuat ! Tuan Arsa takut kalah." Semua orang menghela nafas tanpa henti karena semua orang baru saja melihat betapa kuatnya Panjol di atas panggung. Kebanyakan dari mereka merasa kalau peluang Arsa Kenandra untuk menang sangat kecil.
"Lihat. Orang Tuan Arsa sudah berada di atas panggung, dan perang akan segera dimulai! " Semua bos yang hadir memperhatikan panggung dengan penuh perhatian, dan semua orang tahu kalau pertarungan ini adalah puncak dari tinju bawah tanah hari ini.
Di atas panggung.
Semua orang ingin tahu siapa pemenang pada akhirnya. Hudoyo telah melangkah ke atas panggung.
" kontestan dari kedua belah pihak sudah berada di posisinya, dan permainan akan dimulai saat ini! " Wasit segera mengumumkan.
"Aku akan membunuhmu dan membalaskan dendam Tiger." Hudoyo menyipitkan matanya ke arah Panjol, si macan kumbang.
__ADS_1
"Kamu. Siapa namamu? " Panjol menatap Hudoyo dengan heran. Karena saat Panjol melihat Hudoyo dari jarak dekat. Apalagi setelah melihat mata Hudoyo, tiba-tiba dia teringat pada seseorang yang akan membuatnya mengalami mimpi buruk yang pernah di alaminya itu datang kembali.
"Hudoyo! " Hudoyo mengatakan siapa namanya dari mulutnya dan berkata dengan dingin. Ketika Panjol mendengar kata "Hudoyo", seluruh tubuhnya gemetar. Wajahnya keseluruhan menjadi pucat pasi seolah-olah dia sangat ketakutan.
"Kamu. Kamu benar-benar seorang Hudoyo? Kamu... Apa yang kamu lakukan di sini?" Panjol menatap Hudoyo dengan ketakutan yang tak ada habisnya dari sorot matanya, seolah-olah dia telah melihat iblis yang sangat kuat.
"Apakah kamu kenal aku?" Hudoyo mengerutkan kening.
"Namaku Panjol, dan aku... Aku pernah bertarung melawanmu di pertarungan tinju hitam di Bandung, apakah kamu lupa? " Suara Panjol sedikit bergetar. Karena Panjol mengingat pertarungan mimpi buruk dan betapa parahnya dia dikalahkan dalam pertandingan itu, dia masih ingat dengan jelas.
"Kamu. Bukankah kamu juara tinju bawah tanah di Bandung? Kamu... Bagaimana kamu bisa datang ke Indonesia? Kenapa kamu bisa ada di sini?" Panjol tidak pernah bermimpi kalau dia akan menghadapi mimpi buruknya yang terulang lagi, kembali berhadapan dengan Hudoyo di sini.
"Hentikan omong kosong itu, ayo kita mulai, aku janji, aku akan menghajar otakmu itu sampai kamu tidak bisa apa-apa! " Mata Hudoyo berbinar. Mata Hudoyo berbinar karena rasa kesal. Setelah mendengar kata-kata itu, Panjol menekuk kedua kakinya. Sebab, dia pernah mengetahui betapa kuatnya Hudoyo, dan saat itu dia terluka parah oleh pukulan Hudoyo dan hampir mati, dan itu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa pulih. Selain luka fisik. Waktu itu juga meninggalkan bayangan psikologis yang besar di hatinya.
__ADS_1
"Jangan berkelahi! Jangan berkelahi! Aku mohon. Aku akan menyerah! " Panjol yang ketakutan buru-buru berlutut di tanah. Begitu bayangan mengerikan itu muncul kembali, Panjol tidak bisa menguatkan hati untuk berjuang sedikit pun.
"Apa yang terjadi? " kata penonton.
"Kok pejuang Tuan Wasis bisa berlutut dan menyerah? " Setelah Panjol berlutut dan mengakui kekalahan, semua orang tercengang. Ada bos di tempat tersebut, semua menatap panggung dengan cermat. Mereka menantikan pertarungan itu terjadi. Mereka mengira ini mungkin pertandingan yang sangat sengit. Bahkan sebagian besar dari mereka para bos, berpikir Panjol yang kuat akan menang. Namun pada akhirnya, Panjol malah berlutut dan menyerah sebelum pertandingan dimulai. Hal ini benar-benar di luar dugaan semua orang. Dan tentu saja, wajah yang paling jelek karena ketakutan adalah Wasis Adiguna.
"Panjol, kenapa kamu malah berlutut? Siapa yang menyuruhmu menyerah? Jangan menyerah! Berdiri dan pukul dia! Berdiri dan pukul dia! Lakukan yang terbaik seprerti sebelumnya! "Wasis Adiguna dengan wajah pucat berteriak ke arah panggung. Wasis Adiguna tidak pernah menyangka Panjol akan berlutut dan mengaku kalah.
Di atas ring.
Namun, Panjol yang berada di atas panggung tidak berdiri karena perkataan dan teriakan Wasis Adiguna. Bahkan wasit sedikit bingung dan belum memulai.
"Bagaimana dia bisa menyerah begitu saja? " gumam Wasit karena bingungnya. Tapi setelah itu, wasit buru-buru mengkonfirmasi kepada Panjol.
__ADS_1
"Kamu yakin mau menyerah? " Panjol mengangguk lagi dan lagi, dan dia tidak berani melawan Hudoyo sama sekali. Wasit mengangguk dan mengumumkan dengan lantang,
"Baiklah, karena salah satu dari peti ju kita menyerah tanpa sebab yang d ketahui dalam pertandingan ini. Petarung tuan Wasis menyerah, dan Tuan Arsa adalah pemenangnya!" kata demi kata sang wasit menggelegar di seluruh ruangan itu. Hingga membuat para penonton terkejut bukan main.