
"Halo.. Arsa, aku punya kabar baik." Kata Talita. Arsa yang belum berbicara dengan Talita sejakĀ mereka pergi ke bar kemarin malam. Suara bahagia Talita terdengar dari sebereng telepon.
"Oh ya, kabar baik apa? " Tanya Arsa dengan buru-buru.
"Baru saja seorang manager dari Kendi grub mendatangi aku. Mereka bilang kalau perusahaannya sedang melakukan kegiatan mensejahterakan masyarakat, dan keluargaku terpilih." Kata Talita di ujung telepon dengan sangat bersemangat.
"Benarkah? hal itu sangat bagus." Arsa pun tersenyum mendengar berita ini. Apa yang di sebut oleh Talita dengan kegiatan mensejahterakan masyarakat adalah rencana Arsa. Hanya saja sebenarnya Arsa tidak mengahrapkan di lakukan dalam waktu dekat. Efisiensi Fendi sangatlah besar. Baru tadi pagi Arsa menyampaikan, dan siang menjelang sore ini sudah terealisasi.
"Arsa Aku ada di rumah sakit saat ini. Dan pihak rumah sakit sudah mulai melakukan pengobatan kepada ibuku. kita tinggal menunggu dokter. Semua biaya rumah sakit di tanggung oleh Kendi Group. Aku senang banget akhirnya Ibuku bisa sembuh. Selain itu, Kendi grup juga memberikan saya uang 50 juta sebagai hibah." masih ada kegembiraan di suara Talita. Arsa hanya membayangkan kalau saat ini sahabatnya tersebut sedang loncat-loncat karena kegirangan. Hati Arsapun menghangat saat mendengar Talita yang sangat bahagia. Dirinya bukan lagi orang miskin yang tidak berguna. Kini dia sudah memiliki kemampuan untuk membantu orang yang ingin dia bantu.
"Terus kamu Sudah nerima uang yang 50 juta itu?" Arsa bertanya karena ia sudah mengenal karakter Talita. Dan dengan sifatnya yang seperti itu, Talita Tidak mungkin mau menerima uang itu.
"Aku tidak mau menerimanya. Aku sangat senang mereka mau membantu ibuku. Aku sangat puas. Tapi mereka memaksa aku untuk menerima uang tersebut. Mereka bilang kalau aku tidak mau menerima, mereka juga tidak akan membantu membiayai pengobatan ibuku. Jadi mau tidak mau aku menerimanya." kata Talita. Arsa yang mendengar kalau Talita menerima uang itu pun bernafas lega. Meskipun pada kenyataannya uang Rp50.000.000 adalah jumlah yang kecil untuk Arsa saat ini. Tapi untuk Talita uang itu jumlahnya sangat besar.
__ADS_1
"Kendi grup sudah membantu saya dengan menyumbangkan dana sponsor kemarin. Dan hari ini mereka membantu aku dan ibuku untuk melakukan pengobatan. Kendi grup benar-benar perusahaan yang sangat dermawan. Nanti kalau misalnya aku udah lulus, aku harus kerja ke perusahaan kendi grup untuk membayar semua yang telah mereka lakukan." suara tulus Talita terdengar di seberang telepon. Arsa bisa membayangkan betapa Berterima kasihnya Talita kepada Kendi grup. Hanya saja Talita sama sekali tidak mengetahui kebenaran Di balik semua ini. orang yang membantu dirinya sebenarnya adalah Arsa. Kalau misalnya Talita mengetahui ini, entah bagaimana Arsa akan bersikap.
"Kamu memang gadis yang pandai bersyukur. Aku tahu kamu sangat berterima kasih dengan semua yang telah kamu dapatkan hari ini." kata Arsa sambil tersenyum.
"Ehmmm, Arsa, kamu tadi nelpon aku Ada apa ya?"tanya Talita.
"Tadinya aku mau tanya apa kamu ada di kampus. Aku mau ngajak kamu makan malam. Tapi karena Sekarang kamu ada di rumah sakit, Mungkin lain kali saja." kata Arsa. Iya tahu kalau Talita sedang menunggu ibunya yang sedang sakit. Jadi ia tidak mungkin mengajaknya untuk pergi. akhirnya panggilan pun berakhir.
"Arsa, kita mau makan di mana?" tanya Adit.
"Ke restoran yang kemarin itu." Jawab Arsa.
"Kita masih mau ke restoran itu? Kamu ingat nggak terakhir kali kita pergi ke sana.? " tanya Adit. terakhir kali Arsa dan Adit makan di restoran itu, dompetnya hilang karena dicuri. Dan manajer restoran bersikeras menuduh Arsa kalau dia adalah pembohong. Dia bilang kalau Arsya hanya mau makan gratis saja. dia bahkan akan melaporkan Arsa ke polisi. Tiba-tiba saja datang seorang gadis cantik bernama Nayra yang membantunya.
__ADS_1
"Karena apa yang terjadi terakhir kali saat kita di sana, kita harus lebih sering datang ke sana, setidaknya manajer restoran itu harus tahu kalau kita bukan orang miskin yang tidak mampu membayar makanan yang sudah kita beli." kata Arsa. Dan saat itu juga manajer restoran itu benar-benar membuat Arsa marah karena ejekannya. Kalau bukan karena Nayra yang buru-buru pergi dan Arsa ingin mengejarnya, sudah pasti saat itu Arsa akan membuat perhitungan dengan manajer restoran tersebut. Dan kali ini Arsa datang untuk membuktikan kalau apa yang dikatakan oleh manajer restoran tersebut salah besar.
"Arsa, aku tahu apa yang kamu maksud. kalau begitu ayo kita memperbaiki nama baik kita di restoran tersebut." kata Adit. Arsa yang mendengar itu pun mengangguk lalu tersenyum.
"Benar sekali. Sekarang ayo kita pergi." Kata Arsa. Mereka pun berjalan bersama.
Dalam perjalanan menuju ke restoran tersebut, Arsa menelpon Fendi dan memintanya untuk menghubungi pemilik restoran untuk membeli restoran tersebut.
"Fendi, kamu hubungi pemilik restoran yang berada di dekat kampusku. Kamu minta kepada ownernya untuk menjual restoran tersebut kepada Kendi Group. Kalau misalnya pemilik restoran tersebut menolak untuk menjual, naikkan jumlah harga yang kamu katakan sebelumnya." kata Arsa langsung di saat Fendi baru saja mengangkat panggilannya. Saat ini Arsa bukanlah orang yang kekurangan uang. restoran yang dimaksud Arsa merupakan restoran mewah yang berada di dekat Universitas Surabaya.
"Selamat datang." Sapa seorang saat Marsha dan Adit masuk ke dalam restoran tersebut. Dan di saat mereka memasuki Hotel, seorang pelayan menyambut mereka dengan ramah dan hangat.
"Permisi, tolong berhenti dulu tuan. Silahkan lewat di sini." pelayan tadi memberi isyarat kepada Arsa dan Adit untuk melewati jalan yang sudah ditunjukkannya. Pelayan itu membawa mereka berdua menuju ke sebuah meja. Tidak lama setelah masuk, mereka berdua mendengar suara yang sangat nyaring.
__ADS_1