Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Pertama Bertemu Setelah Kelulusan


__ADS_3

Ketua kelas Arsa saat SMA adalah seorang gadis, dan Arsa memiliki kesan yang baik tentangnya di sekolah menengah atas dulu. Gadis itu pernah menawari Arsa bantuan sesekali saat itu. Sejujurnya, dia sangat berterima kasih pada ketua kelasnya saat itu.


Waktu telah berlalu, dan hari dimana rencana reuni SMA Arsa datang dalam sekejap mata. Bertempat di Kinan Hotel. Pukul empat sore, Arsa mengendarai Lamborghininya menuju alamat yang diberikan ketua kelas kepadanya. Mereka semua siap untuk bertemu di tempat makan malam yang sudah di rencanakan. Tempat itu adalah di hotel bintang tiga di Kota Surabaya. Tapi, meskipun hanya bintang 3, hotel itu merupakan tempat yang sempurna untuk makan malam kelas mereka.


Arsa memarkir mobilnya di tempat parkir dan langsung pergi masuk ke hotel. Di lantai pertama hotel, Nindira Tiana, mantan ketua kelas saat SMA itu berdiri di lobi untuk menerima tamu undangan yang akam datang.


"Ms. Nindira Tiana. " Arsa tersenyum dan langsung menyapanya. Mereka sudah lama tidak bertemu satu sama lain. Selama tiga tahun lamanya, Arsa bisa menilai kalau Nindira telah banyak berubah. Jauh di jika di bandingkan dengan semasa SMA dulu. Gadis itu dulu benar-benar pendiam dan tidak berdandan sama sekali. Dia tampak sangat biasa. Namun kini, Nindira telah merombak wajahnya dengan riasan yang indah, dan satu lagi yang membuatnya terlihat berbeda, dia mengeriting rambutnya. Dibandingkan saat mereka masih SMA, Nindira terlihat lebih dewasa dan lebih cantik sekarang.


"Arsa, ini benar-benar kamu kan! Kamu tidak datang pada acara makan malam yang terakhir itu, tapi, akhirnya aku bisa bertemu denganmu malam ini." kata Nindira sambil tersenyum.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu selama ini nona ketua kelas? " tanya Arsa.


"Aku kuliah, itu saja. " jawab Nindira sambil tersenyum. Setelah terdiam beberapa saat, Nindira melanjutkan kalimatnya.


"Kamu ke atas saja dulu, belok kiri di lantai tiga, dan pergi ke ruangan yang berada di ujung. Sebagian besar teman yang lain seharusnya sudah ada di sana. Silakan dan susul mereka terlebih dahulu." kata Nindira dengan suara ramah.


"Baik!" Arsa mengangguk dan berjalan ke lift. Di ruangan yang berada di ujung lantai tiga, lebih dari 30 mantan siswa telah berkumpul di sana dan mengobrol dengan gembira bersama. Arsa berjalan perlahan ke arah mereka dan menatap wajah-wajah yang dikenalnya, tapi beberapa teman-teman SMA nya berdandan hari ini. Dan hal itu adalah hal yang membuatnya merasa aneh.


Saat itu, banyak anak laki-laki di kelas yang menganggapnya sebagai dewi. Dia bertempat duduk di depan Arsa saat itu, dan karena Arsa mendapat nilai yang sangat bagus, Erika akan selalu bertanya padanya apa yang harus dilakukan ketika dia menemukan masalah yang tidak bisa dia lakukan, jadi mereka berdua sedikit akrab satu sama lain. Justru, karena alasan inilah beberapa preman di kelas Arsa merasa cemburu, sehingga para preman itu suka mencari-cari kesalahan Arsa yang akan membuatnya sangat terganggu. Akibatnya, ejekan mereka sangat mempengaruhi mental Arsa di saat itu.

__ADS_1


Arsa tidak melihat Erika selama tiga tahun terakhir. Setelah berdandan, Erika terluhat benar-benar menjadi lebih cantik dari saat dia duduk di bangku SMA. Hanya saja sikap manja dan kekanak-kanakan dari gadis itu sebelumnya sudah tidak ada lagi.


"Ini benar-benar kamu, Arsa. Aku tidak menyangka kamu datang hari ini. Kamu tidak datang saat terakhir kali kita mengadakan reuni." kata Erika.


" Mm... hmm." Arsa balas tersenyum.


"Erika, jika aku tidak salah ingat, kamu kuliah di perguruan tinggi seni di Universitas yogyakarta ya. Bagaimana kabarmu sekarang? " tanya Arsa.


"Yah, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" tanya Erika Sebelum Arsa sempat menjawab, sebuah suara nyaring terdengar dari belakang.

__ADS_1


"Sudah pasti, dia masih sengsara. Febrian dan aku berada di Kendi Square tiga hari yang lalu, dan kita bertemu dengannya yang sedang membagikan selebaran di sana." Arsa melihat ke belakang bahu Erika dan melihat kalau yang sedang berkata itu adalah Roni, yang masuk melalui pintu dengan Febrian dan Varo. Arsa membagikan brosur di Kendi Square kemarin lusa. Dua teman sekelas lama yang ia temui adalah Roni dan Febrian. Adapun Varo, yang berjalan di depan kedua pria itu, merasa merinding saat melihatnya. Varo adalah wakil ketua kelas di sekolah menengah Atas. Roni dan Febrian adalah antek Varo saat itu. Arsa masih ingat dengan jelas, kalau Varo-lah yang memimpin penindasan terhadap dirinya sebelumnya. Saat itu, Arsa sangat membenci Varo. Bahkan kini, Arsa bisa merasakan kebencian itu masih ada. Selain itu, Varo selalu mengejar Erika, namun Erika tidak pernah memperhatikannya. Kali ini Varo mengajak Roni dan Febrian berjalan mendekat ke arah Arsa dan Erika. Varo mengenakan jas setelan biru muda. Dia mengenakan kacamata hitam dengan kepala terangkat tinggi. Bitu angkuh karena iya juga sedikit membusungkan dada. Jadi, dia masih terlihat memiliki penampilan yang arogan dan tidak ada duanya.


"Arsa, menurut kedua saudaraku ini, kamu rela memutari ke Kendi Square untuk membagi-bagukan brosur, benarkah itu? " kata Varo dengan begitu merendahkan.


__ADS_2