
"Pak Rektor saya... Saya bertindak tegas dan tidak pilih kasih. Anak itu absen kumulatif selama 37 jam dalam 1 tahun. Menurut peraturan kampus, dia harus benar-benar dikeluarkan." Daniel menundukkan kepalanya dan berkata dengan pelan.
"Ya pak Rektor. Dia sering bolos mata kuliah, pengaruhnya sangat buruk, jadi dia harus dikeluarkan! " Kata teman Daniel. Sedangkan Rektor yang mendengar hal ini, wajahnya menjadi pucat.
"Beraninya kamu? Diam! Apakah kamu tahu siapa Tuan Arsa? Apakah kamu pikir dia adalah orang yang bisa kamu sakiti? Aku pikir kalian berdualah yang ingin dikeluarkan!" Rektor tersebut berteriak keras pada Daniel. Karena mendengar kemarahan Rektor, Daniel dan gadis berambut pirang itu sangat ketakutan hingga wajahnya pucat dan tidak berani berkata apa-apa lagi.
Mereka tidak menyangka kalau pak rektor akan sangat marah karena mereka berdua memintanya untuk mengeluarkan Arsa.
"Kalau kalian berdua tidak ingin di Drop Out, minta maaflah kepada Tuan Arsa!" Pak Rektor memasang wajah datar dan berteriak dengan nada dingin.
__ADS_1
"Beraninya kalian berdua bersikap seperti itu kepada tuan Arsa." Kata Rektor lagi. Mereka tidak punya pilihan selain berjalan mendekat ke arah Arsa. Daniel dan temannya itu tidak seperti tadi yang menyombongkan diri dengan jabatan yang mereka miliki saat ini di kampus. Kali ini, mereka seperti tanaman yang kekurangan air, benar-benar layu. Tak ada satu pun dari mereka yang berani bersikap bodoh lagi. Bahkan Rektor Universitas tersebut terlihat sangat menghormati Arsa. Mereka takut karena Arsa memiliki latar belakang yang tak biasa dan mereka telah menyinggung mahasiswa yang di anggapnya biasa tersebut.
"Aku baru saja membantumu untuk mengatakan kepada Rektor kalau kalian ingin mengeluarkan aku. Tapi kenapa kalian sekarang bersikap seperti orang bodoh? Apa kalian sudah percaya sama aku? " Arsa berkata sambil tersenyum. Sedangkan kedua mahasiswa yang tadi merendahkan dirinya dan berkata sombong itu terlihat semakin ketakutan setelah mendengar apa yang Arsa katakan.
"Arsa... Kami... Kami berdua minta maaf padamu." Daniel dan temannya tadi menunduk di depan Arsa dan berkata dengan suara pelan.
"Apa yang kamu katakan? Aku tidak dengar." Kata Arsa menaikkan sebelah alisnya karena tidak terlalu jelas mendengar apa yang di katakan oleh dua mahasiswa di depannya itu,
"Kami minta maaf. Tolong maafkan kami." kata Daniel dengan menaikkan volume suaranya.
__ADS_1
"Tidak akan pernah." Arsa tersenyum dingin. Saat keduanya mendengar jawaban Arsa, wajah mereka benar-benar berubah. Mereka tidak menyangka Kalau Arsa akan menjawab seperti itu.
"Karena tuan Arsa tidak memaafkan kalian, jabatan kalian di serikat mahasiswa cukup sampai di sini saja." Kata Pak Rektor dengan tegas. Iya yang berdiri di dekat Arsa dan dua mahasiswa itu memutuskan. Setelah keputusan Rektor di dengar oleh Daniel dan rekannya, wajah keduanya sudah sepertin mayat hidup. Sangat tidak mudah untuk mendapatkan posisi sebagai ketua Serikat mahasiswa di kampus itu, dan dalam sekejab iya kehilangan jabatannya. Sedangkan teman Daniel sebagai wakil juga harus menelan pahitnya kehilangan jabatan yang selalu di banggakan di kampus tersebut. Mereka tidak percaya semua akan berakhir seperti ini sedangkan Rektor telah memutuskan. Apa lagi yang bisa mereka berdua lakukan? Tidak ada. Dan menyesal pun juga tidak akan mmapu mengembalikan keadaan seperti sedia kala. Mereka juga merasa menyesal telah bersedia membantu William untuk membalaskan dendamnya. Selain itu, penyesalan terbesar adalah karena mereka telah berani membuat masalah dengan Arsa.
"Tuan Muda apa anda merasa puas dengan keputusan saya ini? " Rektor memandang Arsa dengan bibir terukir di senyumnya.
"Iya, tapi saya sangat membenci adanya birokrasi serikat mahasiswa di kampus ini. Saya harap pak Rektor bisa menertibkan lagi dengan baik." Kata Arsa karena merasa kesal.
"Baik tuan muda. Saya akan mendisiplinkan mereka semua. Termasuk seluruh mahasiswa yang bermasalah yang berada di dalamnya. Mereka semua harus mendapatkan hukuman." Rektor itu pun mengangguk dan berkata. Daniel dan temannya lagi-lagi hanya menatap ke arah Arsa dan rektor. Hati mereka di selimuti kegelisahan, di hantam gelombang kekhawatiran. Mereka benar-benar telah melakukan kesalahan fatal tanpa di sadari. Mereka berdua sangat tahu bagaimana kehidupan orang kaya dengan latar belakang yang kuat. Di lihat dari cara Arsa menginstruksikan sebuah perintah kepada Pak rektor dengan sangat mudah. Seperti sedang memerintahkan kepada bawahannya. Dan dengan mudah pula Rektor tersebut mengangguk setuju.
__ADS_1
"Pak Rektor, karena anda harus menyelesaikan pekerjaan, saya permisi ke kelas terlebih dahulu." Setelah mengatakan hal tersebut Arsa pun berbalik dan pergi meninggalkan Rektor. Iya Pun masuk ke dalam kelas.