
"Ayo kita pergi." Andika menatap tajam ke arah Arsa, lalu iya cepat-cepat berbalik dan pergi. Setelah Andika pergi, yang lainnya pun langsung mengikuti.
"Tuan Arsa, saya sangat menyesal karena keponakan saya sudah berani berbuat buruk kepada Anda seperti itu. Dia sangat bodoh sekali. Saya akan membawa dia kepada Anda untuk meminta maaf." Danang dengan hormat meminta maaf kepada Arsa.
"Tuan Danang sangat sopan dan begitu menghormatiku" Arsa berpikir dan berkata dalam hati. Iya hanya melambaikan tangannya untuk memberitahu kalau dirinya tidak apa-apa. Danang benar-benar sangat menghormati Arsa dan meminta maaf atas nama Andika. Karena berulang kali meminta maaf, Arsa tidak ingin lagi merepotkan Danang. Dan di saat Danang melihat Arsa memberikan isyarat, dia baru bisa bernafas dengan lega.
Keributan itu tidak menarik perhatian banyak orang. Karena terlalu banyaknya yang datang dan sibuk dengan urusan masing-masing. Apalagi yang datang adalah para bos besar, jadi tidak ada yang memperhatikan apa yang terjadi di sana.
Begitu juga dengan ayah Rita Maharani, tuan Endrow. Karena dia sedang berbicara dengan tuan Kelvin, dia tidak memperhatikan Arsa ada di sana. Dan saat itu pula, Fendi yang tadi pergi ke toilet, sudah masuk. Fendi melihat kalau suasananya sedang tidak baik-baik saja.
"Tuan Arsa, apa yang terjadi?" tanya Fendi.
"Oh, tidak apa-apa. Tadi hanya ada beberapa badut yang melompat-lompat." jawab Arsa sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Tuan Danang, anda pasti sangat sibuk hari ini. Anda bisa melanjutkan aktivitas anda kembali." Arsa melambaikan tangannya sambil berkata.
__ADS_1
"Oke, kalau begitu saya akan meninggalkan Anda sekalian. Mohon maaf dan permisi." kata Danang dengan tersenyum dan mengangguk. Setelahnya iya lalu berbalik dan pergi.
Setelah Danang pergi, Fendi memberi tahu Arsa sesuatu.
"Tuan Arsa, saya baru saja bertemu dengan pemilik Kejora Group. Wasis Adiguna ada di luar. Saya rasa sebentar lagi dia akan masuk." Kata Fendi dengan pelan.
"Wasis Adiguna? " gumam Arsa.
"Iya. Dia pasti akan masuk lewat sini, dan kemungkinan akan bertemu dengan kita." kata Fendi. Mereka berdua saat ini sedang berada di dekat pintu masuk.
"Selamat malam tuan Wasis."
"Selamat malam, Tuan Wasis." beberapa orang menyapanya. Kemana pun pria paruh baya itu lewat, semua orang di sekitarnya dengan hormat menyambut dirinya. Aura kebengisan menjalar dari tubuhnya. Tapi iya hanya melangkah maju mengabaikan suara-suara yang menyapa di sekitarnya.
Dia adalah ketua Kejora Group, Wasis Adiguna. Dalam sekejap mata, Wasis berjalan ke arah Arsa. Dan saat itu pula, iya berhenti tepat di depan Arsa.
__ADS_1
"Mungkinkah ini Tuan Wasis yang terkenal itu? " kata Arsa menatap Wasis yang berada di depannya sambil tersenyum.
"Anjing macam apa ini, berani-beraninya menghalangi jalanku?" Wasis mengangkat kepalanya. Arsa pun sedikit mengernyitkan alisnya. Meskipun tak ada satu pun dari mereka yang pernah melihat secara langsung satu sama lain, Arsa percaya kalau Wasis sudah pernah melihat foto dirinya, dan satu kenyataan kalau Fendi juga berdiri di sampingnya, cukup untuk menunjukkan siapa dirinya. Tapi Wasis berpura-pura tidak mengenalnya, dan seolah menjelaskan kalau dia ingin mempermalukan Arsa.
"Kupikir akting tuan Wasis sudah cukup, tapi sayang aku masih bisa kalau hanya membuat anda merasa malu lagi." kata Arsa mencibir. Wasis yang masih membusungkan dadanya mendengar kata-kata dengan jelas apa yang di katakan oleh Arsa. Matanya tiba-tiba berkedut, dan ekspresi di wajahnya seketika sulit untuk di artikan. Bagi Wasis, kejadian ini jelas merupakan titik rasa sakit di hatinya. Apa yang di ucapkan Arsa benar-benar membuat rasa sakitnya mencuat kembali.
"Arsa Kenandra! Kamu... Apakah kamu mencari mati?" Mata Wasis terbakar amarah.
"Oh tuan Wasis , Anda tahu nama saya Arsa Kenandra? Apakah Anda hanya pura-pura tidak mengenal saya? Kalau boleh saya tahu, kenapa kamu berpura-pura? " kata Arsa sambil tertawa.
"Kamu...!" Wasis menahan napas dan wajahnya hampir membiru karena menahan amarah. Dia tidak tahu bagaimana membantah apa yang di katakan anak muda di depannya itu.
"Arsa, percaya atau tidak, aku akan membunuhmu sekarang juga! " teriak Wasis. Iya memelototi Arsa dengan tatapan tajam. Setelah itu, dia langsung mengeluarkan belati seperti milik para anggota militer yang dibawanya dan mengarahkannya ke leher Arsa. Arsa masih bersikap tenang. Iya menatap Wasis lalu berkata.
"Semua orang sedang melihat kita. Apa kamu benar-benar akan membunuhku? Apa yang membuatmu berbuat seperti ini? Apakah karena kakek saya adalah Andi Sudiryo? Anda akan mati berdiri jika kakekku tahu akan hal ini." kata Arsa dengan tenang. Arsa tidak takut kalau misalnya Wasis benar-benar melakukannya. Pertama, Arsa yakin kalau Wasis tidak bodoh untuk melakukan hal tersebut di depan umum. Yang kedua adalah Arsa memiliki Hudoyo yang akan selalu melindunginya. Jika Wasis benar-benar tidak punya otak dan melakukan hal itu terhadapnya, Hudoyo pasti akan melakukannya juga. Dua poin ini membuat Arsa tidak takut sama sekali.
__ADS_1