Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Hinaan dari Teman sekelas


__ADS_3

Di Dalam Kelas


Kelas pertama telah selesai. Kini Kelas kedua mata Kuliah lain sedang berlangsung. Arsa yang masuk melalui pintu lain di kelas tersebut langsung duduk tanpa di ketahui oleh dosen mata kuliah itu. Tapi dosen yang mengajar di kampus tersebut sudah mendapat pemberitahuan dari Rektor dan menghimbau kepada mereka untuk tidak mempermasalahkan ketidakhadiran Arsa. Apalagi sampai membuat masalah dengan mahasiswa yang satu itu. Dan setelah kelas berakhir, Arsa pun langsung menuju ke kursi Talita.


"Talita, Bagaimana keadaan tante? " tanya Arsa.


"Baik Arsa." Jawab Talita.


"Rumah sakit sudah menjadwalkan operasi untuk ibuk. Dan besok operasi itu akan dilakukan." jawab Talita dengan tersenyum dan terlihat sangat bahagia.


"Arsa, aku sangat beruntung bisa mendapatkan bantuan beberapa kali dari perusahaan besar seperti Kendi grup." kata Talita lagi dengan nada bahagia. Dia tidak tahu kalau sebenarnya Arsa lah yang membantunya.


"Iya." Ara menjawab drngan senyuman.


"Arsa, kenapa kamu tadi ngga masuk di kelas pertama. Apa ada masalah yang terjadi? " Tanya Talita dengan serius.


"Ada sesuatu yang harus aku lakukan." Jawab Arsa sambil menggaruk hidungnya yang tidak gatal itu.


Di saat yang bersamaan, seorang teman perempuan yang duduk di samping Talita berkata.


"Kalian berdua terlihat sangat dekat akhir-akhir ini. Apa kalian saling jatuh cinta?" Teman sekelas wanita yang berbicara adalah Helen. Teman sekamar di asrama sekaligus sahabat Talita. Talita merasa tersipu mendengar apa yang di katakan oleh Helen.


"Helen, jangan bicara yang tidak-tidak, kita hanya berteman!" Jawab Talita.

__ADS_1


"Talita, kamu itu cantik sekali, bagaimanapun juga, kamu harus menemukan pria yang kaya. Arsa tidak bisa memberimu kebahagiaan." Kata Helen. Arsa yang mendengar itu pun merasa jengah. Sejujurnya, yang paling dibenci Arsa adalah orang sombong seperti ini. Arsa tidak mengatakan apa-apa karena Helen adalah teman Talita.


Awalnya Arsa tidak berniat untuk membalas atau mengatakan apapun, dia berusaha untuk tidak mendengarkan. Sesaat kemudian, Helen menatap ke arah Arsa.


"Arsa, aku harap kamu bisa tahu diri. Kamu tidak pantas mendapatkan ketua kelas kita ini. Jangan mengganggu Talita lagi lah." Kata Helen. Arsa hanya mengernyitkan dahinya sejenak. Lalu menjawab apa yang di katakan oleh Helen.


berkata sambil tersenyum


"Helen, bagaimana kamu bisa memvonis kalau aku tidak punya masa depan? Dan bagaimana juga kamu bisa tahu kalau aku tidak baik untuk Talita? " Arsa berkata sambil tersenyum.


"Arsa, apa harus aku mengatakan itu? Kamu tinggal di daerah kumuh. Dan juga, kamu itu hanya berasal dari keluarga miskin. Bahkan kamu membayar uang kuliahmu dengan kerja paruh waktu kan. Kamu juga menerima bantuan. Apa kamu tidak sadar diri, seluruh mahasiswa di kelas ini sudah tahu siapa kamu."


"Di sisi lain, ketua kelas kita ini, si Talita, dia cantik dan juga berprestasi. Banyak siswa yang mengejar Talita. Yang tentunya sudah jelas lebih baik darimu." Kata Helen panjang lebar.


Karena tadi Helen sudah terlanjur banyak bicara dan menghina Arsa, banyak mahasiswa di sekitar mereka yang mendengarnya. Talita pun menoleh ke arah Arsa.


"Arsa, dia memang begitu. Jangan berdebat dengannya hanya karena masalah sepele." Talita berkata dengan nada tidak enak kepada Arsa.


"Arsa,apa yang du katakan oleh Helen memang benar. Kamu hanyalah seoang mahasiswa yang miskin dan benar-benar tidak layak untuk Talita.


"Benar sekali. Kamu seperti kodok yang ingin makan daging angsa." Terdengar suara sumbang lainnya yang tidak jauh dari sana. Dan saat ini, banyak mahasiswa di kelas itu mulai berbicara. Semuanya membicarakan Arsa yang tidak pantas untuk Talita. Bahkan ada kata-kata yang lebih buruk dari itu juga. Di mata para mahasiswa, Talita itu cantik, dengan prestasi gemilang serta karakter yang baik, sedangkan Arsa hanyalah anak seorang anak dari keluarga miskin. Wajah Arsa terlihat kesal ketika mendengar kata-kata ini.


Teman baik Arsa, di ndut Adit, tidak bisa hanya diam dan melihat semuanya begitu saja. Pria gendut itu berdiri langsung dari tempat duduknya dan berteriak

__ADS_1


"Omong kosong apa yang kamu bicarakan! Apakah kamu tahu siapa Arsa? Dia Orang yang menyumbangkan 1 mikyar ke kampus ini. Beraninya kamu menertawakannya Arsa?" Kata Adit.


"Apa? Dia adalah orang kaya misterius yang menyumbangkan 1 milyar itu ke kampus?" Begitu kata-kata Adit itu terucap, seluruh mahasiswa di kelas tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha... Dia? " Kata seseorang dengan tawanya yang keras.


"Adit, betapa konyolnya apa yang kamu katakan tadi! Apa kamu lihat kalau dia itu adalah orang kaya yang bisa dengan mudah menyumbangkan uang sebanyak 1 miliar ke kampus. Bahkan untuk menghasilkan uang 1 juta pun dia itu kesusahan.


"Jika Arsa bisa mendapatkan uang sebanyak 1 miliar, aku rela tidak dipanggil dengan Namaku." kata seorang mahasiswa lagi Yang terdengar mengejek. Tidak ada yang percaya kalau Arsa adalah orang kaya misterius yang menyumbangkan uang 1 milyat ke kampus tersebut.


"Kamu... lihat saja nanti kalau kalian sudah mengetahui sebuah kenyataan." Dan semua yang ada di kelas tersebut tidak mempercayai apa yang dikatakan Adit, sehingga mereka tertawa lebih keras dari tadi. Adit pun merasa marah, Iya tidak tahu Harus Berbuat Apalagi.


"Ndut, meskipun kamu adalah teman Arsa, kamu tidak perlu berbohong demi dia." kata seseorang.


"Aku tidak berbohong." Jawab Adit.


"Meskipun kamu tidak berbohong, kamu fikir kita semua percaya dengan apa yabg kamu katakan? " mahasiswa itu terdengar mencibir.


"Hentikan Dit." Kata Arsa berbalik ke belakang dan mengedipkan matanya. Dia memberikan isyarat kepada Adit untuk berhenti berbicara. Adit yang melihat instruksi dari Arsa pun hanya bisa diam dan mengangguk.


Sedangkan Talita juga tampak cemas begitu melihat banyak mahasiswa yang membully Arsa. Di saat yang bersamaan, dia merasa kesal kepada Helen.


"Arsa, ini semua adalah salahku. Karena aku kamu jadi bahan olok-olokan semua teman di kelas." kata Talita merasa sangat bersalah. Tapi ia juga tidak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan semua olok-olokan teman sekelasnya kepada Arsa.

__ADS_1


__ADS_2