Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Mendatangi Tim Basket SMK


__ADS_3

Dalam sekejap mata, Adesta berjalan menuju ke arah Arsa.


"Hei, kenapa kamu ada di sini? Apakah kamu mau belajar dari kami bagaimana caranya menjadi pemain profesional?" Adesta memandang rendah Arsa.


"Apakah menurutmu, tim kita tidak mampu untuk menjadi seperti kalian? Kami adalah orang-orang yang beradab. Kami sangat tahu bagaimana cara bermain di lapangan," kata Arsa sambil tersenyum.


"Apakah kamu ingin mati?" ucap Adesta tersulut emosi.


"Kamu pikir kita tidak beradap saat bermain di lapangan?" Wajah Adesta tiba-tiba menjadi suram. Beberapa pemain di belakang Adesta langsung mengepung mereka. Mereka memberi isyarat, dan sepertinya mereka akan memukul Arsa.


"Kenapa? Apa kamu mau memukulku? Aku juga punya seseorang yang bertugas untuk merekam video. Jika kamu melakukan itu, pikirkan sendiri konsekuensinya." Arsa mencibir. Setelah Adesta mendengar apa yang dikatakan Arsa, wajahnya terlihat menjadi lebih marah. Dia tidak menyangka kalau trik yang dia gunakan tempo hari akan digunakan hari itu oleh Arsa untuk melawannya.


"Mundur! " Adesta memelototi anggota timnya. Setelah para pemain basket SMK itu mendengar kata-katanya, pertama-tama mereka mengacungkan jempol kepada Arsa dan rekan-rekannya, lalu mereka mematuhi apa yang di katakan oleh kaptennya.

__ADS_1


"Karena kamu di sini bukan untuk bermain basket. Apa yang kamu inginkan? Katakan padaku! " Adesta menatap Arsa dengan marah.


"Aku di sini hari ini untuk menantangmu." Arsa menyerahkan sebuah surat tantangan kepada Adesta. Adesta menerima surat tantangan itu dan melihat serta membacanya.


"Kamu menantang tim bola basket SMK Surabaya yang profesional ini? Aku jadi bisa melihat dengan jelas, kalau kamu dan semua tim basketmu, benar-benar tidak memiliki ingatan yang baik. Tim kita baru saja mengalahkan kamu kemarin, tapi sekarang kalian berani datang ke sekolah kita untuk menantang kami? " Adesta mencibir. Para pemain di belakang Adesta juga tertawa.


"Dasar pecundang, kami hanya akan mempermalukanmu seperti orang bodoh yang tidak berguna." kata Adesta lagi. Arsa hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum saat mendengar kata-kata itu.


"Apa katamu? Kamu menyewa tim Handal dari Pemain Nasional? Apakah kamu sedang bercanda? Ha ha ha! " Adesta menatap Arsa dari atas ke bawah lalu dia tertawa.


"Bocah ini bilang dia menyewa Tim Handal? Betapa lucunya dia! " Para pemain di belakang Adesta juga tertawa. Mereka mencondongkan tubuh ke depan dan ke belakang, beberapa dari mereka bahkan bertepuk tangan menghina.


Murid SMK Surabaya yang menonton semuanya tertawa bersama. Mereka sepertinya mendengar lelucon besar dari ahlinya. Tim Handal adalah tim terbaik di Pemain Nasional Indonesia. Dan mereka berada di puncak yang teramat tinggi. Bagaimana mungkin anak lusuh seperti Arsa, dapat mengundang Tim Handal ke Kota Surabaya, bermain basket untuk Universitas Kota Surabaya? Omong kosong atau hanya sekedar fantasi, atau bahkan sebuah halu? Bahkan mereka juga berfikir kalau tim terbawah di Pemain Nasional Indonesia pun tidak bisa diundang oleh Arsa.

__ADS_1


"Hey kawan, aku sarankan kamu pergi saja ke rumah sakit jiwa secepatnya. Kamu sangat parah sakit jiwanya." kata Adesta kepada Arsa sambil tersenyum. Setelah itu, Adesta menatap Adit dan yang lainnya di belakang Arsa. Dia tersenyum penuh penghinaan.


"Kamu itu seperti babi yang benar-benar bodoh. Anak ini bilang dia bisa mengundang Tim Handal. bisa-bisanya kamu percaya begitu saja?" kata Adesta sambil menatap Adit. Para pemain di belakang Adesta langsung tertawa kembali. Tapi Arsa tidak mengubah eskpresi wajahnya sama sekali. Dia tetap tenang tak terprovokasi.


"Kamu hanya perlu menjawab saja. Apakah kamu berani menerima tantangan atau tidak? " tanya Arsa sambil tersenyum dan suara yang terdengar begitu tenang.


"Kami menerima tantangan ini! Besok, kami akan mengajarimu yang saat ini menjadi pecundang, bagaimana caranya menjadi manusia bermartabat lagi." Kata Adesta dengan sangat bangga.


"Oke, bagaimana kalau kita menaikkan sedikit taruhan? Jika kita kalah, kita akan berlutut di lapangan dan berteriak kalau Universitas Kota Surabaya adalah cemen, seperti yang kalian katakan kemarin. Tapi, jika kalian yang kalah, kalian akan berlutut di tanah dan secara terbuka meminta maaf kepada kami, bagaimana dengan taruhan itu? " kata Arsa sambil tersenyum.


"Oke, tapi bagaimana jika tim kalian menolak untuk memenuhi taruhan setelah kamu kalah seperti kemarin? " tanya Adesta.


"Kalau begitu mari kita saksikan bersama. Dan kamu tanda tangani saja surat perjanjiannya. Aku telah membawa perjanjian itu. Selama kamu tanda tangani, perjanjian itu akan memiliki kekuatan hukum. Orang yang mangkir harus membayar 100 juta sebagai ganti rugi." Arsa melemparkan selembar surat perjanjian di dalam map pada Adesta. Adesta langsung menandatangani perjanjian itu. Dia yakin kalau dia akan menang. Dia terlihat benar-benar tidak takut sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2