Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Membalas kata-kata pedas


__ADS_3

"Kamu bukan pacar kakakku, kan? Selera kakakku buruk sekali sih. Kamu bahkan mencariku. Mungkin hal itu untuk menunjukkan kalau kamu adalah seorang pacar yang baik. Mengajaknya keluar bukan hal yang memalukan, aku saja malu kalau harus keluar sama kamu." kata Rena yang memandang penampilan Arsa Kenandra. Iya mungkin merasa kalau Arsa tidak selevel dengannya. Di lihat dari penampilannya saja sudah kelihatan.


Ketika Arsa Kenandra mendengarnya, hatinya terdiam.


"Jangan berpikir seperti itu. Aku hanya temannya Mela." jawab Arsa.


"Kalau hanya rekan kerja, kenapa kamu mau berbaik hati membantu Mela untuk menjemputku? Jangan menyombongkan diri." Kata Rena.


"Sayang!" Saat ini, orang berambut kuning yang tadi meminta rokok pada Arsa, datang mendekat. Dia berjalan sambil memegang satu buah buah melon. Ketika Rena melihat pria berambut kuning itu, dia berlari ke arahnya sambil tersenyum. Sepertinya pria berambut kuning ini adalah pacar Rena.


"Rena, siapa pria ini? Kenapa kamu bisa berbicara dengannya?" Pria berambut kuning itu bertanya.


"Dia pacar saudara perempuanku." Kata Rena.


"Kakakmu itu juga cantik. Bagaimana dia bisa mendaaptkan pacar yang begitu rendahan seperti dia?" pria Rambut Kuning itu memandang Arsa dengan tatapan jijik, sementara dia masih memegang buah melon.


Pada saat ini, seorang lelaki tua dengan pakaian petugas kebersihan. Laki-laki tua itu menyapu kulit melon yang baru saja di buanh oleh si pemuda Rambut Kuning. Petugas kebersihan itu lalu mendongak.


"Anak muda, tidak bisakah kamu membuang kulit melonmu ke tempat sampah? Kulit melon tidak baik untuk di huang di sembarang tempat." kata petugas kebersihan itu. Lelaki Rambut Kuning itu memandangnya dan tersenyum.


"Pak tua, kalau kita tidak membuang sampah di sini, bukankah semua pekerja kebersihan harus di PHK? Aku lemparkan kulit melon itu untuk memberikan pekerjaan kepada pekerja kebersihan, oke? " jawab Lelaki berambut kuning itu. Setelah laki-laki berambut kuning itu selesai berbicara, dengan bangganya dia terus membuang kulit melon dan berserakan di tanah.

__ADS_1


"Jangan begitu. Kamu... Kamu jahat sekali!" Petugas sanitasi tidak tahu bagaimana menyanggahnya.


"Bodo amat. Kalau begitu, kamu juga ceritakan padaku tentang semua sampah yang pernah di buang semua orang, kan kamu juga membersihkannya." Lelaki berambut Kuning tertawa. Setelah mengatakan itu, pria berambut kuning itu hanya memakan melon lagi dan langsung melempar kan kulitnya ke sembarang arah. Tidak lain dia buah sampah itu di hadapan lelaki tua itu.


"Kamu... Kenapa tidak punya sopan santun sama sekali..." Lelaki tua itu tidak tahu harus berkata apa.


"Jangan marah padanya!" Arsa berdiri menghadap ke arah lelaki tua itu, dan kemudian memandang kepada laki-laki berambut kuning tadi.


"Dek, apa yang kamu inginkan? Kamu mau memberi kesempatan pada lelaki tua ini untuk membersihkan sampahmu. Hanya karena itu adalah tugasnya, kamu membuang sembarang tempat. Bagus sekali?" kata Arsa. Laki-laki berambut kuning itu memandang dengan jijik pada Arsa.


"Kamu tadi bilang kalau kamu membuang sampah untuk berkontribusi pada petugas kebersihan bukan?" Arsa menatap Lelaki berambut kuning itu.


" Benar sekali!" Pria berambut kuning itu memberikan pandangan yang sangat masuk akal.


"Kamu…” Pria berambut kuning itu tiba-tiba mengubah wajahnya.


"Kamu ... Kamu..."Arsa menepuk kepalanya lagi dan tertawa.


" Bagaimana kalau dengan krematoriumnya? Aku pernah mendengar juga bahwa krematorium juga tidak berjalan dengan baik, jadi kenapa kamu tidak berkontribusi di sana saja? " Wajah laki-laki berambut kuning itu semakin jelek. Dia belum pernah bertemu dengan orang seperti itu di manapun.


"Anak muda ini benar!" Lelaki tua itu tidak dapat menahan tawanya.

__ADS_1


"Wah, kamu sedang mencari apa yang bisa kamu buat kontribusi kan?" Lelaki berambut kuning itu langsung mengangkat kerah baju Arsa. Arsa menunduk memandangnya dan memegang tangannya, lalu berkata perlahan, "Beraninya kamu menarik kerah bajuku? Asal kamu tahu, semuanya tidak akan baik-baik saja kalau kamu berani menyentuhku."


"Kalau begitu kita lihat siapa yang tidak akan baik-baik saja!" Kata laki-laki berambut kuning itu sambil melemparkan tinjunya ke arah Arsa.


"Sayang, jangan lakukan itu, kalau tidak kakakku pasti akan memarahiku lagi. Aku tak mau mendengarnya menhoceh setiap hari." Rena buru-buru menggenggam tangan pria berambut kuning itu.


"Wah, Hari ini adalah hari keberuntunganmu. Kalau bukan karena kakak Rena, aku pasti akan menghajarmu hari ini! " Laki-laki berambut kuning itu menunjuk ke arah Arsa. Arsa hanya tersenyum dingin.


"Harusnya aku yang bilang kamu beruntung, kalau kamu berani melakukannya, satu-satunya yang bisa aku jamin adalah orang yang pergi ke rumah sakit atau ke krematorium hari ini pasti kamu! " kata Arsa.


Arsa menoleh ke Rena.


"Rena, si rambut kuning ini pacarmu bukan? Menurutku seleramu terlalu rendah." Ketika lelaki berambut kuning mendengar ini matanya berkilat marah.


"Wah, kamu mau cari mati kan? Sudah kubilang, aku akan menghajarmu! " Lelaki berambut kuning itu menatap lebar ke arah Arsa, memperlihatkan keganasan. Lelaki berambut kuning itu menarik lengan bajunya hingga memperlihatkan tato naga di lengannya. Tampaknya, dia sengaja menunjukkan tato itu untuk menakuti Arsa.


" Itu saja Kemampuanmu? Apa kamu berfikir kalau dirimu itu hebat? Kamu pikir Anda ahlinya, bukan? Arsa tersenyum dingin.


Di Kota Surabaya ini, kini ada dua pasukan, satu pasukan Wasis Adiguna dan satu lagi pasukan Arsa. Jadi, Arsa di anggap sebagai seorang tokoh besar di kota Surabaya. Dan sekarang, seorang pemuda berani menyombongkan diri di hadapan Arsa dan berkata bahwa dia seorang handal.


"Ayo sayang, tinggalkan dia sendiri saja. Ayo kita ke bar! " kata Rena pada laki-laki berambut kuning itu.

__ADS_1


"Baiklah, ayo pergi!" Laki-laki berambut kuning itu mengibaskan rambutnya.


"Rena, aku ingin kamu kembali ke rumahmu bersamaku." Arsa menghentikannya.


__ADS_2