
Sebuah gelang kristal menarik perhatian Talita. Gelang tersebut terlihat sangatlah mahal. Sepasang gelang giok yang dibeli Arsa seharga rp 150.000.000 di pelelangan tadi. Talita menatap gelang itu dengan seksama.
"Gelang apa ini? Apakah gelang ini mahal?" Keluarga Talita bukanlah orang yang berada. Dan sudah pasti dirinya belum pernah melihat atau memiliki batu giok seperti itu. Dan ditambah dengan pengetahuannya yang belum ada tentang batu giok, jadi dia tidak akan pernah tahu bahwa sepasang gelang batu giok ini berharga ratusan juta. Arsa pun tersenyum padanya.
"Harganya ini murah kok, apa kamu tidak menyukainya? " kata Arsa.
"Kenapa aku tidak menyukainya? Selama barang itu pemberian dari kamu, meskipun harganya hanya satu sen, aku tidak akan pernah menolaknya." jawab Talita. Di saat itu pula, Arsa membuka pintu pintu mobilnya.
"Oke, ayo turun." Setelah turun dari mobil, Arsa membantu Talita keluar, dan bersama-sama mereka naik lift langsung ke lantai tiga. Di lantai tiga ini, di khususkan untuk menjual pakaian. Wajar saja, harga pakaian di sini tidak murah. Harga terendah 1 juta hingga mencapai puluhan juta. Arsa ingin Talita membeli baju baru. Jadi, mereka langsung menuju area pakaian wanita. Tapi karena Arsa tidak mengerti atau tidak memiliki pengetahuan luas tentang merek pakaian, dia hanya memilih toko pakaian wanita yang lebih besar dan berdekorasi mewah. Iya pun masuk bersama Talita.
"Wow! Pakaian ini sangat indah." Saat Talita memasuki toko, dia melihat deretan pakaian yang sangat menarik hatinya, tiba-tiba matanya berbinar. Setelah melihat-lihat beberapa barang, serta melihat label harganya, Talita segera kembali ke tempat Arsa berada.
"Arsa, ayo pergi. Aku tidak suka semua pakain yang ada di sini." kata Talita dengan serius.
__ADS_1
"Kok bisa? Menurutku semua pakain yang ada di sini lumayan bagus. Kamu berkata seperti Itu karena menurutmu harganya mahal ya? " Arsa mengatakan dengan senyum di wajahnya.
"Yah, tidak masalah. Aku tahu maksud kamu. Kita datang ke sini hari ini adalah untuk berbelanja, jadi jangan lihat harganya." Sebenarnya, Arsa tadi melihat kalau Talita baru saja melihat daftar harga pakaian tersebut. Dia juga melihat ekspresi di wajah Talita yang berubah sebelum kembali mendekat ke arahnya dan mengatakan bahwa dia tidak menyukai pakaian yang ada di sana. Karena ekspresi tersebut, Arsa tahu kalau Talita meremang mengetahui harga baju-baju di sana. Arsa tadi hanya melirik label harga baju di sana dengan acuh tak acuh. Dua pakaian yang dilihat Arsa bernilai 8 juta dan 16.000 juta lebih.
Kalau saja Arsa saat ini itu masih miskin, berbelanja di tempat seperti ini hanya sebuah angan untuknya. Harga yang tertera di sana benar-benar terlihat mahal. Tapi untuk Arsa yang saat ini, harga segitu baginya Hanya seperti setetes Air.
"Hei... Kenapa tidak ada yang melayani kita. Kemana para waitres ini. Kenapa tidak ada yang mendekat? " Teriak Arsa di dalam toko pakaian tersebut. Di saat Arsa memasuki pintu butik tersebut, dia melihat Kalau tidak ada penjaga yang menyapanya. Hal itu terasa aneh untuk Arsa. Iya sudah melihat beberapa pelanggan lain yang datang ke sana disambut dengan hangat oleh para penjaga toko. Arsa masih bisa mengerti kalau semua penjaga yang ada di sana sibuk melayani pembeli yang lain. Tapi nyatanya, masih ada beberapa penjaga toko, sebut saja karyawan yang menganggur dan malah mengobrol sendiri tidak jauh dari tempat Arsa berdiri.
"Lupakan saja Arsa. Ayo kita pergi ke toko pakaian yang lain." kata Talita saat iya melihat kesengitan para karyawan toko.
"Toko yang di sebelah ini ya." kata Talita lagi. Arsa hanya mengangguk dan langsung keluar dari toko dengan Talita yang berjalan di sampingnya. Arsa juga melihat ke arah toko pakaian wanita di sebelah dan memasuki toko itu bersama Talita.
Saat memasuki toko, Arsa masih mengalami hal yang sama. Sama kalau tidak ada karyawan di toko tersebut yang datang untuk menyambutnya dan Talita. Tapi mereka malah melayani tamu lain dan berpura-pura sibuk.
__ADS_1
"Arsa, kenapa mereka mengabaikan kita?" Melihat hal yang serupa terjadi lagi, bibir Talita cemberut dan langsung bertanya pada Arsa.
"Ya seperti ini. Sudah bisa di tebak. Mereka semua memandang rendah dan mendiskriminasi kita, karena kita berpakaian terlalu biasa." Dengan sabar, Arsa menjawabnya.
"Bagaimana bisa mereka melakukan ini? " Talita menginjak dengan marah dan bertanya lagi.
"Talita, orang kaya memang seperti ini. Sudah sering terjadi, orang yang tidak punya uang akan di pandang rendah. Ayo kita beli baju dari tempat lain."Arsa menjelaskan lagi kepada Talita. Iya pun mengajak Talita untuk melanjutkan berbelanja di dalam toko lain.
Setelah berjalan selama dua menit, Arsa berhenti di depan gaun indah berenda. Terlihat sangat berkelas dan indah. Gaun itu dipajang di sebuah manekin yang berdiri di barisan paling depan. Arsa langsung memberitahu Talita dan berhenti sejenak.
"Talita, menurut aku gaun yang ini bagus." Arsa pun mengulurkan tangannya, siap untuk menurunkan baju tersebut. Tapi saat Arsa hendak meraih gaun itu, terdengar suara kasar yang mengatakan kepadanya,
"Singkirkan tangan kotormu itu! Kalau sampai kamu menodai gaun itu dengan tangan kotormu, maka kita tidak akan mau melayanimu lagi!" kata seorang wanita dengan riasan tebal berjalan ke arah Arsa dan Talita dengan ekspresi muram di wajahnya.
__ADS_1