Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Hudoyo


__ADS_3

"Namanya Hudoyo. Biasa di panggil Doyo. Dia bertugas di pasukan khusus sekelompok mafia besar di Indonesia saat dia masih muda. Setelah pensiun, dia menjadi pejuang bawah tanah (Organisasi tertutup dan rahasia). Aku pernah menyelamatkan nyawanya sekali. Dan sejak saat itu, dia ikut dengan kakek selama 10 tahun terakhir.” kata tuan Andi menjelaskan. Arsa tertegun mendengar hal itu.


"Pensiunan pasukan khusus? Pejuang bawah tanah?" Arsa berkata dengan bingung. Orang bernama Hudoyo itu memiliki latar belakang yang buruk, Arsa sama sekali tidak pernah berhubungan dengan organisasi yang berada di level ini.


"Sejujurnya Arsa, kakek telah meminta Hudoyo untuk melindungimu selama seminggu terakhir. Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada cucuku yang berharga." kata kakek Andi sambil tersenyum.


" Benarkah kek? Terima kasih kakek." Arsa mengangguk. Saat diculik, ia merasa hidupnya tidak akan lama lagi. Tapi ternyata kakeknya sudah memikirkan keselamatannya, dan jika penculik itu tidak melepaskan Arsa, Hudoyo mungkin bisa menyelamatkannya.


"Tapi kek... Bagaimana jika kita berhadapan dengan banyak musuh? Dia mungkin tidak bisa melakukannya sendiri." Arsa menggeleng ragu.


"Tuan muda, apakah Anda meragukan kemampuan saya?" Hudoyo membela diri dengan suara seraknya.


"Aku tidak meragukan kemampuanmu. Aku hanya bersikap realistis." Arsa berhenti berbicara.


"Hudoyo, kenapa kamu tidak menunjukkan kemampuanmu kepada cucuku?" Kata Tuan Andi sambil tersenyum. Hudoyo pun mengangguk, iya langsung berbalik dan meninju dinding.


Dengan satu pukulan, Hidoyo mampu meninggalkan retakan besar di dinding. Mata Arsa terbelalak tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. "Jika seseorang di pukul sekali saja dengan begitu kuat seperti itu, orang itu bisa langsung mati." Gumam Arsa dalam hati. Sedangkan Arsa hanya merasa ngeri sekaligus kagum dengan apa yang ada di fikirannya.


"Tuan Arsa, saya harap saya tidak mengecewakan Anda." Hudoyo menenangkan dirinya sejenak dengan mengatur nafas, setelahnya dan menjawab dengan nafas berhembus kasar,


"Mengesankan." Arsa langsung mengacungkan kedua jempolnya.


"Arsa, mulai hari ini, secara resmi kakek menyerahkan Hudoyo kepadamu. Dia akan menjadi pengawalmu dan memastikan keselamatanmu. Yakinlah bahwa dia benar-benar setia kepadaku." Saat kakek Andi melihat Arsa yang begitu terkesan dengan Hudoyo, dia langsung berkata.


"Arsa menyeringai dan tidak menolak apa yang di berikan oleh kakeknya. Peristiwa penculikan saat itu membuatnya mengerti, bahwa menjadi kaya tanpa tahu cara membela diri bisa sangat membahayakan nyawanya. Dia menyadari pentingnya memiliki pengawal yang handal untuk menjamin keselamatannya.


"Hudoyo, mendekatlah ke cucuku." Tuan Andi langsung berkata pada Hudoyo. Hudoyo pun mengangguk, dia mendekati Arsa dan membungkuk.


"Tuan" Ucapnya.


"Hudoyo, kamu tidak perlu khawatir. kalau di pikir-pikir, menjagaku akan sangat mudah bagimu karena aku tidak punya banyak musuh." kata Arsa sambil tersenyum.


"Lagian, Hudoyo hanya akan menjagamu dari kejauhan, dan akan muncul saat kamu dalam bahaya. Jadi, kamu akan merasa tidak ada yang berubah." Ucap kakek Andi.


"Tidak masalah kek." Arsa menanggapi ucapan kakeknya dengan senyuman.

__ADS_1


"Satu hal lagi, ibumu sakit karena terlalu banyak bekerja selama beberapa tahun terakhir, jadi aku akan membawanya ke luar negeri sebentar untuk melakukan pengobatan." Kata Kakek Andi lagi. Demi ibunya, Arsa hanya mengangguk dan menyetujui apa yang kakeknya katakan.


Di Saat yang bersamaan, Ibu Arsa tiba-tiba datang dan memberi tahu Arsa dengan ekspresi khawatir di wajahnya.


"Arsa, kamu harus menjaga dirimu baik-baik selama aku pergi. Hubungi aku atau kakekmu jika kamu membutuhkan sesuatu." Martin berjalan kedepan dan meraih tangan ibunya yang sudah sedikit keribut.


"Bu, aku berjanji untuk menjaga diriku sendiri dan ibu harus melakukan hal yang sama. Jaga diri ibu baik-baik. Lakukanlah pengobatan dengan baik juga selama di luar negeri." Arsa merasa senang karena ibunya akhirnya tidak harus bekerja keras lagi. Ayah Arsa sudah meninggal lebuh dulu. Dan ibunya membesarkan dirinya sendirian sejak Arsa masih kecil. Arsa tahu dengan pasti betapa sang ibu sangat menderita. Setelah semua selesai di bicarakan. Arsa dan keluarganya makan malam bersama sebelum ibunya berangkat ke luar negeri untuk berobat.


Keesokan harinya di Universitas. Di ruang kelas, seorang lelaki gendut dengan bersemangat bertanya,


"Arsa, kamu sudah dengar? Bayu sudah pindah ke kampus lain. Aku yakin kamu membuatnya takut untuk datang ke kampus ini lagi." Ucap Adit.


"Dia pindah ke kampus lain? " Arsa tersenyum tapi tidak menganggapnya terlalu serius.


"Oh sayang sekali aku kemarin terlambat dan tidak melihat kamu berhadapan dengan Bayu. Hal itu pasti seru kan? " Ucap Adit. Dia menggelengkan kepalanya. Seluruh mahasiswa di kelas itu juga membicarakan Bayu.


"Apakah kamu sudah mendengar? Bayu sudah mengambil dokumen akademiknya dan dipindahkan ke kampus lain."


" Kenapa dia tiba-tiba pindah? "


" Ini tidak mungkin ada hubungannya dengan Arsa kan? Keluarga anak itu sangat miskin, bagaimana dia bisa membuat Bayu pindah? "


"Aku tahu, dia telah menerima beasiswa selama dua tahun berturut. Bagaimana mungkin dia bisa mengalahkan Bayu? Pasti ada alasan lain."


"Iya, menurut bukti dan kabar yang ada, kepindahan Bayu yang tiba-tiba sepertinya ada hubungannya dengan Arsa. Tapi tidak ada yang percaya karena mereka semua tahu kalau keluarga Arsa sangat miskin, Tapi kita juga tidak tahu apa-apa."


Semua yang di katakan oleh teman sekelas Arsa itu di dengar oleh Talita. Beban berat di hatinya tiba-tiba hilang kareba kepindahan Bayu. Berarti Bayu tidak akan lagi mengganggu Arsa.


Beberapa saat kemudian, seorang pria bertubuh tinggi tegap serta berwajah tampan masuk ke kelas.


"Wow, itu William Arseno." Beberapa mahasiswa berbisik-bisik saat lelaki populer itu berjalan ke arah kelas mereka. Yang Arsa tahu bahwa William adalah Ketua serikat mahasiswa. Di ketahui bahwa lelaki itu sangatlah playboy. Banyak gosip yang beredar, namun tidak menyurutkan kepopulerannya. Bahkan, banyak gadis yang mengejar Willy karena penampilannya. Arsa merasa muak dengan orang munafik seperti Wlillian itu.


"Kenapa dia datang ke kelas kita? " Arsa mengerutkan kening dan berkata. Setelah William masuk kelas, dia langsung menghampiri Talita.


"Apa ada yang bisa aku bantu Willi? " Talita menatap Willy.

__ADS_1


"Ikutlah aku keluar kelas, kita harus bicara." Willy berkata seperti memaksa. Karena Talita adalah sekertaris serikat Mahasiswa, dia langsung mengangguk. Iya berjalan mengikuti William keluar dari kelas.


"Ndut, ayo kita ikuti mereka! " Arsa berdiri lalu pergi keluar kelas dengan Adit. Arsa tidak percaya pada William. Arsa merasa kalau lelaki itu akan melakukan sesuatu yang tidak baik pada Talita. Jadi dia memutuskan untuk mengikuti mereka.


Di luar kelas, di ruang BEM, Talita dan William saling berhadapan untuk berbicara.


"Apa ada yang harus di lakukan? " Talita bertanya.


"Talita, sebagai Ketua serikat, aku akan memberi kamu tugas." kata William.


"Pihak kampus akan mengadakan Perlombaan, dan kita membutuhkan sponsor yang bisa menyumbangkan tiga puluh juta untuk acara tersebut. Aku pikir sangat tepat memberikan tugas ini kepada kamu." William mulai berdiskusi dengan Talita.


" Tiga puluh juta? Willi, bukankah uang segitu sangat banyak? " Talita terkejut saat mendengar jumlah yang di katakan oleh William.


"Dulu jumlah sponsor yang mereka minta hanya berkisar antara lima sampai tujuh juta saja. Dan jarang ada yang meminta lebih dari itu. Mencari sponsor adalah tugas yang sangat sulit, apalagi untuk meminta dana sebesar tiga puluh juta, hal itu sangat mustahil." Ucap Talita lagi.


"Aku rasa ini hanya sebuah kebohongan" kata Arsa di tempat persembunyiannya sambil menguping, dia menggelengkan kepalanya.


" Tahun ini lomba akan akan diadakan lebih meriah. Tentunya dananya juga akan lebih besar." Jawab William.


"Talita, semakin sulit tugasnya, semakin kamu bisa melatih kemampuanmu. Ini adalah kesempatan langka. Aku menghargaimu dan karena itulah mengapa aku memberimu tugas ini. Apa kamu mengerti? " Tanya William.


"Dasar munafik, bilang saja kalau kamu tidak bisa melaksanakan tugas ini."Gumam Talita dalam hati.


"Nanti saat aku sudah berhasil mendapatkan dana itu, kamu yang akan di puji-puji." Gumam Talita dalam hatinya lagi. Ketua serikat itu sudah merekrut lebih dari sepuluh sekretaris wanita dari para mahasiswi pilihannya untuk melakukan tugas-tugas seperti ini.


Ssedangkan Arsa yang masih bersembunyi bertanya-tanya


"Apa universitas lain juga seperti ini? " Tanya Arsa. Adit pun mengangguk.


"Ya, anak ini melakukan hal yang tidak masuk akal. Untungnya, aku sudah keluar dari serikat mahasiswa lebih awal, kalau tidak aku akan dimanfaatkan begitu saja." Adit memberitahu.


Kembali lagi ke Dalam ruang BEM. Talita merasa terganggu setelah mendengar jawaban William.


"William, Aku benar-benar merasa kalau aku mungkin tidak bisa menyelesaikan tugas. Tiga puluh juta adalah jumlah terlalu banyak." Kata Talita.

__ADS_1


"Talita, kamu adalah gadis tercantik do serikat ini. Selama kamu rela mengorbankan tubuhmu, aku rasa akan mudah saja untuk mendapatkan dana dari sponsor tiga puluh juta itu." kata William dengan senyum jahat.


__ADS_2