
"Talita, jangan merasa bersalah seperti ini, Ini semua bukan salahmu." Arsa tersenyum pada Talita dan mencoba membuat Gadis itu untuk tidak khawatir.
"Helen, apa yang kamu ketahui sekilas belum tentu itu adalah kenyataan yang benar. Demi Talita, kali ini aku tidak ingin berdebat denganmu. Tapi ingat ya, memandang rendah orang lain hanya akan membuatmu menyesal di kemudian hari." Arsa Berkata sambil menoleh dan menatap ke arah Helen. Dia berkata dengan nada dingin. Setelah mengatakan ini, Arsa pun Kembali ke tempat duduknya.
"Kamu pikir aku mau mendengarkan ceramahmu itu? dasar bocah miskin. Kamu itu seperti pungguk yang Merindukan Bulan." jawab Helen Terdengar sangat menghina. Tapi Arsa tak menghiraukannya lagi.
"Arsa, Maafkan Aku. Aku hanya ingin membela kamu di depan mereka, tapi aku malah membuat suasana semakin buruk." kata Adit merasa bersalah.
"Ngga apa-apa Dit, Ini semua bukan salahmu." kata Arsa sambil menepuk pundak teman baiknya itu.
"Tapi keadaan seperti ini benar-benar menjengkelkan. Mereka semua berani menghina kamu serta merendahkan dirimu seperti itu. Mereka semua sudah memandang rendah terhadap dirimu. Kenapa kamu tidak mengungkapkan identitasmu yang sebenarnya sebagai pewaris Kendi Group. Sehingga mereka tidak melakukan hal seperti ini lagi kepadamu." kata Adit pelan.
"Kalau aku memberitahu mereka semuanya sekarang juga, apa mereka akan percaya dengan apa yang aku katakan kalau aku adalah Pimpinan kendi grup? Aku khawatir kita di berdua ini dianggap konyol serta mereka mengecap saya sebagai seorang pembual." Arsa pun bertekad tidak akan mengungkapkan identitasnya yang sebenarnya di hadapan teman-teman sekelasnya saat ini. hanya Bayu Lesmana yang tahu siapa Arsa sebenarnya. Saat itu karena Arsa memberi pelajaran kepada orang sombong seperti Bayu. Tapi Bayu pun telah pindah ke kampus lain dan dia tidak memberitahu siapapun tentang identitas Arsa kenandra. Sebenarnya pula, Adit ingin Arsa mengungkapkan identitasnya di kelas itu sejak lama. Adit ingin semua orang tidak memandang rendah ke Arsa. Tapi Arsa tidak melakukannya sampai sekarang.
"Kamu bener banget. Sedetail ini kamu ya." Adit pun mengangguk dan ia paham apa yang dimaksud oleh Arsya.
__ADS_1
"Tapi aku tahu kalau aku tidak boleh terus-terusan bersikap rendah hati. Seperti seekor harimau yang sedang tertidur, mereka semua akan mengira kalau harimau itu adalah seekor kucing lembah yang tidak berdaya." kata Arsa dengan sedikit kesal. Apa yang baru saja terjadi di dalam kelas tersebut benar-benar membuat Arsa geram. Tapi dirinya tidak mau menonjolkan diri saat ini. Iya menunggu saat yang tepat untuk memberi pelajaran kepada semua orang di kelas itu yang sudah menghina dan merendahkannya. Weperti yang sudah-sudah.
"Iya, kamu jangan mau terus-terusan diinjak-injak seperti ini harga dirimu oleh semua orang. Kamu bisa menunjukkan kepada semua orang yang telah berbuat seperti itu dengan identitasmu yang sebenarnya." kata Adit kembali.
Pada sore hari, sebelum mata kuliah berakhir, seorang konselor di kampus tersebut mendatangi kelas Arsa.
"Selamat sore anak-anak. Hari ini karena bersangkutan dengan hari Sumpah Pemuda, maka akan diadakan makan malam bersama untuk meningkatkan tali persaudaraan di antara kita semua. Karena saya hari ini sedang buru-buru, saya menyerahkan tugas ini kepada ketua kelas. Talita tolong diurus semuanya dan disusun rencana ke mana kalian akan makan malam bersama." Kata pak konselor kampus.
"Baik pak." Jawab Talita. Setelah mengatakan itu dan disanggupi oleh Talita, lelaki itu pun pergi dari kelas tersebut.
"Teman-teman, kita mau makan malam di restoran mana? Ayo semuanya dapst mengungkapkan pendapat." tanya Talita selaku ketua kelas.
"Ayo kita ke Depot Meriah 0724 saja. Harganya terjangkau, menunya banyak serta porsinya tidak mengecewakan." Kata Helen secara langsung. Usul dari Helen pun mendapat banyak tanggapan dari semua mahasiswa di kelas tersebut.
"Bener, Depot meriah 0724 systemnya prasmanan. Dan yang terpenting adalah harganya sangat terjangkau. Paling banyak satu orang akan menghabiskan 30-50 ribu saja." Sahut seseorang. makan malam wajib setiap hari besar mengharuskan semua mahasiswa membayar dengan uangnya sendiri. mereka semua juga harus memperhatikan keadaan dompet. Sebagai mahasiswa tentu Mereka bukanlah orang yang banyak uang. Wajar saja jika mereka lebih memilih tempat yang terjangkau dari segi transportasi dan juga harga. Dan Depot meriah 0724 adalah sebuah tempat yang cocok untuk mahasiswa.
__ADS_1
"Oke kalau begitu, ayo kita ke sana sekarang." Talita pun akhirnya berkata setelah melihat banyak yang setuju dengan apa yang diusulkan oleh Helen.
"Apa? Tempat makan prasmanan Meriah 0724? Harganya terlalu murah." tiba-tiba saja terdengar suara yang sumbang di telinga masing-masing mahasiswa. Setelah seluruh mahasiswa melihat ke sumber suara tersebut, mereka semua melihat yang tadi mengatakan tersebut adalah Arsa. Talita pun juga memandang Arsa dengan penuh tanda tanya. Dia tidak tahu kenapa Arsa tiba-tiba mengatakan kalimat seperti itu.
"Arsa, apa yang kamu katakan? Beraninya kamu mengatakan kalau harga di Prasmanan depot Meriah terlalu murah? " Seorang teman di antara mahasiswa tersebut mencibir. Banyak mahasiswa satu kelas Arsa yang tidak biaa menahan diri untuk menutup mulut mereka dan tertawa.
"Orang miskin bilang kalau harga di sana terlalu murah, benar-benar luar biasa." Kata seorang lagi.
"Bukan seperti itu? Sebuah restoran dengan harga 30-40ribu per orang harganya terlalu murah untukku." Kata Arsa dengan pelan. Dan semua mmahasiswa yang mendengar itu langsung tertawa serta menyemprot Arsa dengan kata-kata pedas.
"Arsa, apa kamu tidak tahu malu? Seharusnya level hidupmu itu yang terlalu rendah untuk bisa makan di tempat seperti Depot Meriah." Seseorang lagi mencemooh Arsa.
Seorang mahasiswa dengan rambut merah juga berkata.
"Arsa, kamu tadi mengatakan kalau Depot Meriah terlalu murah. Jadi sekarang beri tahu aku, restoran mana yang cukup layak untukmu?" mahasiswa berambut merah ini adalah mantan sahabat karib Bayu Lesmana. Para mahasiswa yang hadir kembali tertawa.
__ADS_1