
Setelah Deka pergi.
"Arsa, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi." Juliana bergegas menghampiri Arsa. Gadis itu terlihat sangat bahagia.
"Juliana, saat terakhir kali aku melihatmu, kamu saat itu masih kecil. Aku tidak menyangka kamu akan tumbuh menjadi seorang gadia seperti ini sekarang." Arsa tersenyum dan mengusap kepala Juliana. Saat Arsa duduk di bangku SMP, dia tidak punya teman di kelas, hanya Andre yang menjadi teman baiknya. Arsa sering pergi ke rumah Andre. Sudah pasti dia juga mengenal 1Juliana. Juliana itu lucu, dia selalu mengikuti Arsa. Sesekali, Arsa juga pernah membuatnya menangis.
"Arsa, terima kasih untuk yang barusan. Temanmu sangat luar biasa. Dia bisa mengalahkan orang-orang jahat hanya dengan beberapa pukulan saja." Juliana tersenyum manis. Andre pun melangkah maju dan mendekati teman lamanya tersebut.
"Ya Arsa, terima kasih banyak, terima kasih untuk yang barusan, kalau tidak, aku benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini." Andre tahu, kalau Arsa tidak ada di sana dan membantu mereka berdua. Maka apa yang terjadi hari ini akan menjadi bencana untuk dirinya dan Juliana. Setelah itu, Andre menatap Hudoyo lagi. Iya meregangkan otot-otot tangannya dan tersenyum. Setelah itu berterima kasih pada orang yang di kiranya teman dari teman baiknya tersebut.
"Temanku, terima kasih telah melakukan hal yang tidak pernah aku sangka. Keahlianmu benar-benar membuatku takjub." kata Andre penuh rasa kagum. Kekuatan, kepiawaian serta sikap tenang yang ditunjukkan oleh Hudoyo barusan benar-benar mengejutkan Andre. Dia belum pernah melihat seseorang dengan keterampilan yang sangat bagus seperti itu.
"Aku hanya membantu Arsa. Berterima kasihlah padanya." Hudoyo mencoba meleburkan sikap dingin yang biasanya ada pada dirinya. Mencoba merubah sikap dinginnya agar lebih hangat kepada orang lain.
Andre menatap Arsa lagi.
__ADS_1
"Arsa, aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepadamu." kata Andre dengan pandangan haru.
"Andre, jangan berterima kasih. Kita dari dulu sudah berteman baik. Saat kamu mendapat kan masalah, tentu aku tidak akan duduk diam dan melihat saja. " Kata Arsa.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa ada di sini? Dan bagaimana Juliana juga bisa bekerja di sini? Apa yang terjadi? " tanya Arsa sambil menatap sahabat lamanya itu. Karena, setelah lulus SMP, Andre pindah dan pergi dari kota Surabaya. Saat itu, belum ada ponsel secanggih sekarang, dan tidak ada pihak yang dapat saling meninggalkan informasi untuk bisa di hubungi. Jadi sejak itu, Arsa tidak pernah melihat Andre lagi. Bukan hanya itu, Arsa juga tidak pernah mendengar kabar dari sahabatnya itu.
"Arsa, ini bukan tempat yang tepat untuk menceritakan semuanya. Kamu ingat kan kalau kamu tadi baru saja memukuli orang bertato bunga tadi. Dia tidak akan tinggal diam begitu saja. Aku yakin, dia pasti akan kembali dengan mengajak Fiko kesini. Lebih baik ayo kita pergi dulu dari sini, kita akan berbicara di tempat lain." Kata Andre karena merasa khawatir.
"Tidak, aku akan tetap ada di sini menunggunya kembali. Jika kita tidak menyelesaikan masalah ini sampai tuntas, masalah ini tidak akan selesai. Kalau kita pergi sekarang, mereka akan mencari dan menemukanmu untuk membalas dendam." kata Arsa sambil duduk.
"Tidak, aku bisa menyelesaikan masalah ini. Kamu jangan khawatir." Arsa berkata lalu tersenyum pada Andre.
Pada saat itu, Sela juga berjalan mendekati Arsa, ternyata saat kejadian itu terjadi, ia melihat semuanya dengan mata kepalanya.
"Kak Arsa, lebih baik anda dengarkan saranku, cepatlah pergi dari sini dengan teman-temanmu! Pria bertato ini adalah anak buah Fiko Reliso. Jika Fiko membawa seseorang untuk membalas dendam, maka hal itu akan sangat merepotkan." Kata Sela dengan suara khawatir juga.
__ADS_1
"Sela, apakah Fiko itu orang yang sangat berkuasa? " tanya Arsa menatap Sela.
"Tentu saja, semua tempat hiburan di bar ini di kuasai oleh Fiko. Ada lebih dari 300 orang di bawah pimpinananya, termasuk Bar kami ini. Fiko juga sangat terkenal." kata Sela.
"Sela, terima kasih atas pemberitahuanmu. Tapi aku tidak akan pergi. Sedangkan untuk Fiko, aku sama sekali tidak takut terhadapnya. Jika dia berani datang ke sini, aku akan meladeni apa yang dia inginkan." Kata Arsa. Sambil mengambil anggur di atas meja, dia menyesap minuman itu. terlihat sangat santai, tanpa rasa takut.
"Kak Arsa, nada suara kamu terdengar begitu keras kepala. Katakan padaku, apakah kamu akan mencoba untuk melawannya? Apakah kamu akan mengandalkan 4 orang yang terdiri dari kamu sendiri?" Sela menggelengkan kepalanya. Meskipun Sela tidak mengetahui detail tentang Arsa. Dia tetap mencoba untuk mengingatkan.
"Jangan khawatir, aku sudah cukup memikirkan semua hal ini" kata Arsa dengan tenang. Tapi di benaknya, jika Fiko benar-benar datang dengan semua anak buahnya, empat orang termasuk dirinya tidak mungkin bisa menghadapinya. Sela menggelengkan kepalanya, hanya merasa kalau orang ini terlalu sombong. Sela pun akhirnya memilih untuk pergi. Dia yang awalnya ingin membujuk dan memberitahu Arsa, jadi mengurungkan niatnya. Itu semua karena dia melihat Arsa yang tidak mau pergi sama sekali, dia menggelengkan kepalanya dan tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Bagi Sela, dia dan Arsa tidak saling kenal dan dekat satu sama lain. Dia memberitahu karena Arsa adalah tamunya, tapi Arsa sangat sombong menurutnya, dia merasa tidak perlu membujuknya lagi.
"Kak Arsa, kalau begitu kamu bisa memikirkan semua ini kembali." Setelah Sela selesai berbicara, dia berbalik dan pergi.
Setelah Sela pergi.
"Arsa, ayo cepat kita pergi saja, jangan sampai kita pergi saat sudah terlambat, aku tahu dengan pasti bagaimana Fiko, karena aku bekerja di bawah komandonya. Aku serius dengan apa yang aku katakan, aku tidak bohong Arsa." kata Andre dengan nada cemas. Dia juga tidak mengerti kenapa Arsa tidak mau pergi. Arsa bersedia membantunya. Tentu saja, dia sangat senang. Tapi dia juga tidak ingin temanya itu merasakan akibat dan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Setelah andre mengucapkan kata-katanya, pintu bar didorong dari luar lalu terbuka dengan cepat. Seorang pria paruh baya dengan kepala botak, memimpin sekelompok pria berbadan besar dan berrompi hitam. Mereka semua bergegas masuk ke bar. Dengan kaget, Andre mengatakan kepada Arsa.
__ADS_1
"Itu... Itu Fiko. Tamatlah riwayat kita semua, Fiko ada di sini." kata Andre dengan pelan. Dari ekspresinya, menunjukkan dengan jelas raut wajah keputusasaan setelah melihat pria botak yang baru datang itu.