
"Haloo, Andre! Kamu dan Fiko harus membantu aku, datanglah ke Night Bar secepat mungkin." kata Arsa.
"Mengapa? Untuk menghancurkan bar ini! " Nada bicara Arsa terdengar dingin.
"Oh, kamu ingin menakut-nakuti aku dengan berpura-pura menelepon? Saya kasih tahu kamu ya. Kalau saya tidak melihat satu juta rupiah dalam dua jam, maka saya pasti akan membunuh Anda." Teriak Kepala security.
"Huh, dua orang bodoh bahkan berpura-pura datang ke sini." Nyonya Dian juga mencibir dan berkata.
Sekitar sepuluh menit kemudian.
Di dalam lorong bar lantai empat. Mereka memegang tongkat baseball dengan tidak senang dan bergegas langsung ke Funny Bar. Mereka memukul dengan mereka yang bertugas sebagai staf keamanan sampai ke atas, sehingga para penjaga yang menghalangi mereka terlempar ke lantai.
"Oh, Nak... Sepuluh menit telah berlalu, jadi biarkan aku melihat berapa lama kamu bisa bersikap stabil seperti." Kepala security itu berkata dengan dingin. Pada saat yang bersamaan, seorang satpam bergegas mendatangi.
"Kapten! Situasi sedang tidak terlihat baik! Sekelompok orang tiba-tiba masuk dan membuat keributan di bar ini. teman-teman kita banyak yang terluka. Mereka terlalu banyak, dan semua staf keamanan kita tidak bisa menghentikan mereka semua!" kata satpam itu dengan suara lantang tadi terdengar ketakutan.
"Apa? Sudah berapa banyak orang yang datang ke simk?" tanya Kepala security dengan cepat.
"Kalau tidak salah, lebih dari seratus orang!” jawab satpam itu.
Ketika Kepala security mendengar jumlah orang ini, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat.
" Ho ! Ho ! Ho! " Saat ini, teriakan terdengar di koridor lantai empat. Ada kerumunan orang yang marah, bagaikan gangster yang sedang mangamuk. Yang semuanya memegang tongkat baseball. Kepala security sangat ketakutan sehingga dia mundur berulang kali. Nyonya Dian pun juga ketakutan dengan pertempuran itu.
Di barisan paling depan, kelompok orang ini pemimpinnya adalah Andre Rama dan Fiko Reliso.
__ADS_1
"Tuan Arsa ! " Andre dan Fiko memberi hormat kepada Arsa Kenandra.
"Semua sudah siap, tuan muda!" kata Fiko.
"Ini, ini..." Kata Nyonya Dian. Orang banyak di belakang Andre dan Fiko juga membungkuk pada Arsa pada saat bersamaan. Aura ruangan itu terasa begitu menakutkan. Kepala security dan nyonya Dian yang melihat adegan ini sangat ketakutan, hingga mata mereka terbelalak membulat sempurna. Mereka tidak menyangka kalau orang-orang ini benar-benar dipanggil oleh Arsa.
"Andre, Fiko, bisakah kamu melihat dua orang di sana?" Arsa menunjuk ke Kepala security dan nyonya Dian yang berdiri di sana.
" Kami melihat mereka." Andre dan Fiko keduanya mengangguk dan menjawab secara bersamaan.
"Beri mereka berdua pelajaran. Lalu hancurkan Funny Bar ini!" Kata Arsa dengan mata menyipit. Andre dan Fiko langsung menanggapi.
"Tidak masalah! Kita akan melakukan dengan baik." jawab Fiko.
Adapun untuk nyonya Dian dan Kepala security, mereka langsung dipukuli tanpa ampun. Mereka sekarang sangat menyesal, tidak berdaya, dan putus asa. Tapi tidak ada yang mau membantu mereka karena mereka membuat marah Arsa Kenandra!
Setelah kembali ke ruangan, Arsa yang sedang dalam suasana hati buruk itu terus minum dengan Adit, sambil menutup mata terhadap pemukulan di luar ruangan tersebut..
Sekitar dua puluh menit kemudian, seorang pria paruh baya dengan perut buncit bergegas masuk ke dalam ruangan di mana Adit dan Arsa berada.
"Tuan Arsa, saya adalah pemilik Funny Bar. Saya minta maaf karena wanita bau tanah itu telah menyinggung Anda." Pria berperut buncit itu berulang kali meminta maaf kepada Arsa sambil terlihat sangat ketakutan. Dia takut dengan siatuasi yang mungkin akan terjadi lagi. karena sebelum pria berperut buncit itu datang, dia sudah tahu Kalau Arsa Kenandra adalah bos Kendi Grub dan cucu dari Andi Sudiryo.
Arsa yang saat ini sudah sangat mabuk menjawab.
"Kamu... Kamu bosnya, kan? Jangan khawatir. Karena aku menghancurkan tempat kamu, aku akan bertanggungjawab dan membayar semua kerugian yang kamu alami." kata Arsa. Setelah itu, Arsa mengeluarkan uang seratus juta dan melemparkannya ke pria berperut besar itu.
__ADS_1
"Sekarang, ini adalah uang yang aku bayarkan kepada kamu atas insiden penghancuran tempat ini, dan semua yang telah hancur jangan di sesali. Apakah kamu baik-baik saja sekarang? Kata Arsa.
" Tidak, tidak... Tidak apa-apa tuan." Bos pemilik bar itu menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Oke, sekarang keluarlah, jangan ganggu aku saat aku sedang minum." Arsa melambaikan tangannya pada lelaki paruh baya yang berdiri di sampingnya.
Ke esokan Harinya. Ketika Arsa bangun di pagi hari, dia sudah berada di kamar hotel.
Di dalam asrama kampus Universitas Surabaya.
Tadi malam, Arsa benar-benar mabuk dan dibawa oleh Adit untuk beristirahat di hotel terdekat dari bar. Arsa kembali ke asrama pada sore hari setelah makan siang di hotel.
"Arsa, kamu sudah kembali. Apakah kamu masih merasa pusing? " tanya Adit. Begitu Arsa masuk ke Asrama kampus, Adit langsung menyambutnya.
"Jauh lebih baik Dit. Terima kasih sudah menemani aku minum tadi malam." Arsa tersenyum. Mabuk sepanjang malam benar-benar bisa membuatnya melampiaskan emosi dalam jiwanya. Meski insiden dengan Talita masih membuat Arsa tidak nyaman, Arsa mampu menekan emosinya. Arsa percaya, kalau nanti Talita sudah bertemu dengan pria baik yang lebih darinya, dia akan segera melupakannya. Selama semuanya baik-baik saja, Arsa tidak apa-apa. Arsa tidak ingin melukai Talita lebih jauh lagi.
"Arsa, aku mau main basket sore ini. Kalau kamu mau, ayo kita pergi bersama," kata Adit sambil tersenyum. Arsa hanya memperhatikan kalau saat ini, Adit mengenakan kaus olahraga. Adit suka bermain basket. Arsa tahu itu adalah hobbynya. Bahkan Adit juga bergabung dengan tim basket Universitas.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan ikut kamu," kata Arsa sambil tersenyum. Setelah itu, keduanya meninggalkan asrama dan langsung menuju lapangan basket kampus.
"Arsa, sebentar lagi pertandingan akan dimulai, jadi ayo kita ke sana dan belajar bermain dulu?” Adit memegang bola basket sambil berkata.
"Silakan! Kamu tahu kan aku hanya penonton." kata Arsa sambil tersenyum.
"Oke, kalau begitu aku akan melakukan pemanasan dulu." jawab Adit. Setelah Adit selesai berbicara, dia pergi ke tengah lapangan untuk melakukan pemanasan, dan Arsa berdiri di pinggir lapangan basket menonton pertandingan.
__ADS_1