Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Makan siang Bersama


__ADS_3

Begitu pembawa acara menyelesaikan kalimatnya semua orang yang hadir di sana mulai banyak membicarakan hal ini.


"Tanah ini benar-benar seperti harta karun. Lokasinya juga dekat dengan pusat perbelanjaan Kota Surabaya."


"Iya, Tapi sayangnya Tanah ini terdaftar sebagai kawasan yang dilindungi dan dilarang untuk ada perkembangan di dalamnya. Negara benar-benar melarang adanya pembangunan di tanah tersebut. Percuma Membeli tanah yang luas tersebut meskipun dengan harga yang murah. "


"Yang saya ingat, Tanah ini juga dilelang. Harganya saat itu masih 1 trilyun." Orang-orang yang hadir di sana pada membiacarakan tentang tanah tersebut. Dan untuk sementara waktu, belum ada tawaran untuk tanah yang dilelang tersebut.


"Tanah yang tidak bisa digunakan untuk apa-apa tidak akan berguna meskipun dijual dengan harga yang sangat murah. Saya yakin pasti tidak ada yang mau membelinya. "


"Apakah ada yang menawar Tanah ini." tanya pembawa acara.


"Saya bayar 500 milyar." Terdengar suara. Semua orang menoleh ke arah sumber suara itu dan memandang orang yang memberikan penawaran. Siapa lagi kalau bukan Arsa kenandra.

__ADS_1


"Apa? Pimpinan kendi Grup ingin membeli tanah ini? Meskipun dia punya uang, seharusnya tuan muda tidak membuang-buang uang sebesar itu."


"Kenapa tuan muda menyia-nyiakan uang sebanyak itu? " Begitulah tanggapan semua orang yang ada di sana. Dan saat ini Arsa telah menjadi pusat perhatian.


"Bodoh sekali, Kenapa kamu membeli tanah yang tidak bisa di gunakan untuk apa-apa? " kata tuan Wasis mencibir Arsa. Iya menggelengkan kepalanya heran dengan apa yang di lakukan oleh Arsa.


"Tuan Arsa, butuh waktu yang sangat lama untuk bisa mengembangkan tanah ini. Mengapa Anda ingin membelinya?" Fendi melihat Arsa yang sedang menawar. General Manager itu tampak bingung.


"Tuan Arsa menawar 500 milyar untuk tanah yang baru kita tawarkan. Apakah ada yang lebih tinggi?" kata pembawa acara dengan lantang. Setelah beberapa saat menunggu, tak ada suara yang menawar sama sekali.


"Oke! Tanah ini milik Tuan Arsa pimpinan dari kendi Grup!" Ketika pembawa acara tersebut melihat tidak ada yang menawar, dia langsung mengetuk palu dan memberikan keputusan. Dia tahu kalau tanah ini belum bisa terjual karena memang peraturan dari pemerintah melarang untuk mengembangkan lahan tersebut menjadi lahan bisnis. Jadi tidak ada orang yang meliriknya meskipun di jual dengan harga murah. Siapa yang mau membeli tanah sedangkan tanah tersebut tidak bisa menghasilkan keuntungan sama sekali.


Setelah tanah itu terjual, 2 kavling yang lain juga ikut terjual. 1 kavling di ambil oleh Arsa juga seharga 25 milyar. Sedangkan yang satunya lagi, di ambil oleh seorang bos dengan harga 8,5 Milyar. Hanya itu saja.

__ADS_1


Lelang akhirnya berakhir setelah semua tanah sudah ada pemilikya. Arsa mengambil 5 lahan. Meskipun 2 lahan terbaik tak bisa iya dapatkan, Arsa tetap bersyukur. 5 tanah yang di belinya itu salah satunya adalah tanah yang menurut orang-orang tak bisa menghasilkan keuntungan. Tapi Arsa malah mengambilnya. Yang pasti dari ke lima tanah tersebut harganya lumayan murah. Semula, uang yang iya siapkan adalah untuk membuat Wasis tak bisa mendapatkan tanah sama sekali sehingga wasis tidak bisa melanjutkan bisnisnya. Meskipun terkesan kejam tapi itu adalah sebuah cara dari sang kakek. Tapi Arsa mengubah haluan karena ada hal yang tak terduga. Sebagai pimpinan perusahaan, iya harus bisa mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Menurut pendapat Arsa, cara yang di gunakannya itu benar-benar membuat lawannya kehilangan banyak uang dan iya bisa menghemat uangnya sendiri. Lagi pula, keputusannya tepat karena iya bisa nendapatkan tanah dengan harga normal.


Setelah acara pelelangan selesai, hari juga sudah siang. Pihak penyelenggara acara sudah menyiapkan makan siang untuk semua bos yang membeli tanah tersebut. Secara langsung, pemilik tanah baru di undang oleh pihak biro tanah. Di dalan restoran di lantai paling atas dari hotel starlight, ketua biro tanah, alberto, sangat senang karena tananhnya sudah terjual semaunya. Keuntungan pun benar-benar maksimal.


Sepuluh pemilik real estate duduk di meja yang sama, termasuk Arsa Kenandra dan Wasis Adiguna. Setelah mendapatkan segelas anggur, mereka pun  bersulang.


"Terima kasih para bos yang terhormat, karena anda semua telah mendukung pekerjaan kami . " Alberto segera berdiri dan memimpin bersulang.


"Tuan Alberto, saya pikir anda harus bersulang terlebih dahulu dengan tuan Wasis. Dia yang sudah memberikan kontribusi terbanyak hari ini." kata Arsa dengan tenang.


"Oh iya! Saya akan bersulang dengan tuan Wasis. " Tuan Alberto hanya bisa tertawa garing. Wajah Wasis berubah menjadi muram, dia merasa telah ditipu hampir 1 trilyun. Hatinya bergetar kesal. Meskipun Wasis bisa menghasilkan banyak uang selama bertahun-tahun, tapi, uang milyaran ini juga harus diperoleh selama bertahun-tahun. Tapi menghadapi hidangan makan siang dari tuan Alberto, Wasis masih bisa tersenyum. Amarahnya masih bisa di kendalikan. Dan saat ini pula, keduanya sedang bersulang.


"Menghabiskan uang 900 miliar lebih untuk membeli tanah yang harga yang sebenarnya tidak sampai segitu benar-benar membuat Tuan Wasis terlihat kalau ia ingin berkontribusi pada biro pertanahan. " kata Arsa secara perlahan lalu tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2