
Di sisi lain, setelah Seno mencubit dan menggoyang-goyangkan tubuh Wasis beberapa saat, Wasis pun terbangun.
"Tuan Wasis, Anda sudah bangun." kata Seno yang terlihat senang saat tuannya sudah sadarkan diri.
"Tanahnya resmi diambil menjadi milik kita? " Itulah kalimat pertama yang di ucapkan oleh tuan Wasis.
"Iya tuan, tanah itu sekarang sudah menjadi milik anda. Anda menawarnya dengan harga 900 milyar." jawab Seno terdengar sangat putus asa. Wasis pun merasa frustasi mendengar apa yang di katakan asistandnya. Dia baru saja membeli tanah dengan harga hampir sebelas milyar akibat kebodohannya sendiri. Dan kini, uang 900 milyar melayang juga karena ambisinya yang terlalu besar. Iya tak habis fikir dengan kecerobohan diri sendiri. Hampir seluruh pebisnis real estate menginvestasikan uang mereka dalam bentuk proyek. Tapi, tidak mudah mengumpulkan uang sebanyak itu. Dan saat ini, Wasis harus memikirkan cara untuk mendapatkan keuntungan di 900 Milyar ini dalam waktu singkat.
"Tuan Wasis, kesehatan anda jauh lebih penting. Kita bisa mencari uang lebih banyak lagi dari ini." Kata Seno meyakinkan bosnya. Saat itu pula, Wasis langsung berdiri. Lalu melihat Arsa yang dengan santai duduk di sebelahnya.
"Arsa, Kenapa kamu tidak mengambil tanah itu?" Teriak wasit dengan histeris.
"Tuan Wasis, Saya tidak menyangka anda itu benar-benar bodoh. Anda mau saja ditipu oleh diriku dua kali berturut-turut pada waktu dan tempat yang sama. Dan semua kesalahan ada pada diri anda sendiri akibat terlalu sombong dan percaya diri. " Arsa merentangkan kedua tangannya sambil berkata.
"900 Milyar dan 10,95 milyar. Satu trilyun kurang. Tuan Wasis, anda benar-benar kaya. Dua tanah itu bisa di dapatkan dengan harga murah, tapi anda mau-maunya menghabiskan hampir 1 trilyun." kata Arsa lagi sambil tersenyum dan menaikkan kedua bahunya.
__ADS_1
"Kamu..." suara Wasis terdengar gemetar karena marah.
"Tuan, tenanglah." tiba-tiba Seno berkata untuk menenangkan tuannya. Meskipun amarahnya sudah memuncak, Wasis tidak bisa berbuat apa-apa di tempat itu.
"Arsa, tunggu saja waktu yang tepat. Aku akan memastikan kamu menyesal. Urusan kita belum seleaai." kata Wasis, setelah mengatakan ini, iya duduk kembali ke kursinya dengan terhuyung. Iya berusaha memulihkan kekuatannya karena pelalngan akan di lanjutkan.
Setelah keadaan benat-benar tenang, Pelelangan pun berlanjut.
"Lelang berikutnya adalah lahan seluas 63 hektare dengan harga mulai 70 Milyar." kata pembawa acara di atas panggung. Terlepas dari lokasi atau luasnya, tanah ini sedikit berbeda dari dua tanah yang sebelumnya, tapi itu juga salah satu yang di lirik oleh Arsa.
"Tuan Wasis, apakah kita masih akan bersaing untuk mendapatkan tanah ini? " kata Arsa.
"Hmmm..." Setelah Wasis mengucapkan kata ini, dia menutup matanya. Setelah dua kali pelajaran yang di berikan oleh Arsa, Wasis tak punya keberanian lagi untuk menawar. Dia benar-benar yakin kalau Arsa akan menawar dengan harga di atas 50 juta lagi. Bahkan sampai ratusan juta.
"Tanah ini di tawar 50 juta oleh pimpinan kendi Grub!" kata Pembawa acara. Ruangan tampak sunyi seperti tak ada kehidupan.
__ADS_1
"Kedua kalinya seharga 70 milyar lima puluh juta. Apakah ada yang menawar lebih dari ini? " suara pembawa acara di atas panggung menggema di seluruh ruangan dan di dengar oleh seluruh penonton. Suasana semakin sunyi karena tidak ada yang menawar. Alasannya sangat sederhana. Mereka baru saja melihat betapa agresifnya Arsa saat menawar, dan mereka telah melihat betapa mengerikannya berhadapan dengan Arsa Kenandra. Ditambah lagi, harga 70 milyar 50 juta itu sudah mahal. Jadi, tidak ada yang berani menawar.
"Untuk ketiga kalinya dengan harga 70 milyar 50 juta. Karena tak ada yang menawar, maka tanah ini menjadi milik tuan Arsa." kata Pembawa acara di atas panggung. Iya yang melihat tidak ada yang menaikkan harga lagi, maka dia langsung menjatuhkan palu.
"Bagus." Arsa mengangguk puas. 70 milyar lebih 50juta bisa memenangkan tanah ini. Suatu hal yang sangat berharga, dan prosesnya berjalan sangat lancar. Meskipun nilai tanah ini tidak sebesar dua tanah yang tadi, setelah pengembangan yang di lakukan kendi grub, maka harga jual nanti akan meningkat jadi triliunan. Berbeda dengan dua tanah yang sebelumnya tadi. Jika Arsa memenangkan keduanya, maka iya juga akan kehilangan uang yang tidak sedikit.
"Sialan." Wasis merasa geram melihat Arsa begitu mudah mendapatkan tanah tersebut. Tanpa rintangan sama sekali. Dia merasa iri dengan apa yang di dapatkan oleh Arsa. Rasa emosi di hatinya semakin tak terhenti. Tapi iya juga tak bisa berbuat apa-apa.
Pelelangan pun dilanjutkan, dan masih 3 tanah lagi yang akan dilelang. Dua di antaranya di beli oleh Arsa dengan harga 40 dan 30 milyar. Harga yang di tawarkan oleh Arsa adalah harga normal dari tanah-tanah tersebut. Begitu Arsa menawarkan harga, tidak ada yang berani bersaing dengannya.
Ada juga sebidang tanah karena sangat kecil sehingga Arsa tidak meliriknya.
Selama periode lelang yang terakhir tadi, Wasis hanya bersandar di kursi dengan wajah pucat dan tidak membuat penawaran lagi. Iya sudah kehilangan akalnya.
"Semuanya, apa yang akan dilelang selanjutnya adalah tanah terbesar dalam lelang ini, tanah yang berada di kawasan lindung dengan luas total 500 hektar dan harga awal 500 Milyar" Kata pembawa acara. Tanah terluas tersebut dalam pelelangan sebelumnya ditawarkan dengan harga 1 triliun. Tapi dalam pelelangan kali ini, berubah harga dan turun 50% menjadi 500 milyar saja.
__ADS_1