Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Kebijaksaan Dan Keberanian


__ADS_3

"Apakah anda ingin cari mati? " Adapun lelaki paruh baya berjas itu, begitu iya mendengar kata-kata Arsa. Wajahnya langsung menjadi gelap. Tak percaya dengan apa yang Arsa lakukan


"Tuan Arsa Kenandra, Anda sangat berani. Tidak ada yang berani bicara seperti itu padaku di Kota Surabaya ini!" Pria paruh baya Berjas itu berbicara dengan suara dingin.


"Yah, akan ada satu, hari ini." Ucapan Arsa langsung terhenti.


" Kalian semua, lakukan perintahku! " Arsa berteriak dengan suara lantang.


"Jangan berani-beraninya kalian menuruti perintahnya! " Pria paruh baya itu memberikan peringatan dengan tegas, lalu mengeluarkan pistol dari pinggangnya. Pada saat yang sama, Dia mengarahkannya ke kepala Arsa.


"Perilaku dan kejahatanmu sudah cukup bagiku untuk menembakmu di tempat ini! " Pria paruh baya itu menatap Arsa dengan wajah muram karena emosi. Adegan ini membuat wajah Andre Rama, Fiko Reliso dan orang-orang dari perusahaan keamanan menjadi ketakutan.


Begitu juga dengan Bu Kartini dan Devina. Ketika mereka melihat Arsa ditodong dengan pistol, wajah keduanya langsung menjadi pucat. Mereka menutup mulut karena ketakutan dan mata mereka penuh kekhawatiran. Mereka tahu kalau Arsa akan membela mereka lagi. Jika sesuatu terjadi pada Arsa, bagaimana hati nurani mereka bisa berdamai?


Di tengah halaman panti asuhan, wajah Arsa menjadi gelap setelah dia ditunjuk oleh seorang pria paruh baya berjas yang menjabat sebagai Kapolda itu.

__ADS_1


"Mau menembakku? Ayo, coba! Ayo! Aku menantangmu untuk menembakku! " Arsa meraung dan menyandarkan kepalanya langsung ke moncong pistol tanpa rasa takut sedikit pun.


" Kamu..." Pria paruh baya berjas itu langsung menjadi pucat ketika mendengar raungan Arsa.


"Aku tahu kamu pasti sangat berkuasa, dan kamu juga orang besar, tapi aku tidak takut padamu. Jika kamu berani menembak, aku yakin kakekku pasti tidak akan tinggal diam. Dia akan membiarkanmu mati di tangannya! Jika kau ingin mati, maka tembak saja aku! " Arsa mencibir. Sedangkan Pria paruh baya itu tidak menjawab, tapi ekspresi di wajahnya menjadi lebih buruk.


"Silakan! Apa yang kamu tunggu? Mengapa kamu tidak membuka pelatuknya! " Teriak Arsa.


Dalam adegan ini, Budi malah yang ketakutan melihat Wasis, karena mereka tahu identitas pria paruh baya berjas itu di Kota Surabaya. Tidak ada yang berani membentaknya seperti itu.


Budi dengan buru-buru mengambil pistol di tangan pria paruh baya berjas itu, sementara dia mendesah dalam hatinya kalau Arsa benar-benar kuat. Bahkan kekuasaan atasannya ini ditundukkan oleh anak muda belia itu.


Wajah Wasis terlihat sangat jelek. Dia tidak menyangka Arsa akan begitu berani. Dengan keadaan yang seperti ini, tidak ada yang bisa dia lakukan kepada Arsa.


Ketika Arsa melihat lelaki itu meletakkan senjatanya, Arsa tersenyum.

__ADS_1


"Sepertinya kamu juga bajingan." kata Arsa dengan tenang.


"Hanya karena aku meletakkan senjata, bukan berarti aku bajingan! Jika kamu berani melawan Wasis Adiguna secara terbuka, bahkan kakekmu dan orang-orang di belakangnya tidak akan bisa menahannya begitu kekacauan ini menjadi masalah besar." Pria paruh baya bersetelan itu berkata dengan dingin.


"Aku benar-benar minta maaf, tapi kamu tidak bisa menakutiku. Wasis Adiguna menghancurkan panti asuhan ini. Tuhan melarangnya. Dan lewat aku, panti asuhan ini akan di selamatkan. Bahkan jika hal itu terjadi di manapun, atau bahkan di ibu kota sana, hal seperti ini pasti akan tidak di izinkan." Nada suara Arsa terdengar menjadi garang. Ketika Wasis Adiguna yang tidak jauh dari situ mendengar hal ini, tiba-tiba otot-otot wajahnya menyembul keluar, karena menurutnya apa yang dikatakan Arsa itu masuk akal. Jika masalah ini menjadi sangat besar, dia harus menanggung semua akibatnya, yang tentunya lebih berat daripada Arsa!


Pria paruh baya bersetelan itu menghela nafas panjang.


"Baik, Tuan Arsa Kenandra, saya harus mengagumi keberanian dan kebijaksanaan Anda di usia yang begitu muda. Saya akan mengurus masalah ini hari ini." Kata pria paruh baya itu. Setelah berkata seperti itu, lelaki paruh baya itu berbalik langsung ke Wasis Adiguna.


Dia langsung mendekat ke Wasis Adiguna, dia membungkuk padanya dengan senyum tersanjung.


"Wasis Adiguna, beri tahu ekskavator Anda untuk mundur dan keluarkan orang-orang Anda dari sini! Dia benar, ini adalah masalah besa. Dan Anda adalah orang yang paling akan di salahkan." kata pria paruh baya berjas itu.


"Tapi..." Meskipun Wasis memahami kebenarannya, dia tampak sangat enggan.

__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapian" Pria paruh baya bersetelan itu segera berkata dengan tegas dan nada suaranya menjadi dingin.


__ADS_2