
"Menghabiskan uang 900 miliar lebih untuk membeli tanah yang harga yang sebenarnya tidak sampai segitu, benar-benar membuat Tuan Wasis terlihat kalau ia ingin berkontribusi pada biro pertanahan. " kata Arsa secara perlahan lalu tersenyum.
"Kamu." Tuan Wasis membanting cangkir yang berada di atas meja dengan terpaksa. Ia memelototi Arsa.
"Kenapa tuan Wasis. Anda menghabiskan uang dalam jumlah banyak untuk tanah yang tidak senilai dengan nominal itu. Semua orang tahu akan hal itu, kenapa saya tidak boleh berkata seperti itu? " kata Arsa sambil tersenyum. Dan di saat Alberto melihat ini, iya pun berinisiatif untuk menengahi.
"Kita berbicara yang baik-baik saja. Sekarang ayo kita minum minuman yang sudah tersedia ini. Saya akan bersulang untuk anda berdua." kata Alberto.
"Tidak masalah." jawab Arsa sambil tersenyum dan mengambil gelas yang berisi minuman. Terlihat tuan Arsa yang tidak bersemangat sama sekali. Iya mengangkat gelasnya dan terlihat tak ada tenaga lagi.
"Arsa, apa yang kamu banggakan? Dalam pelelangan ini, meskipun aku menghabiskan banyak uang, tapi aku berhasil mendapatkan 2 tanah dengan prospek terbaik." kata Wasis dengan bangga. Wasis menahan amarahnya ketika berada di dalam ruang pelelangan tadi. Dan sekarang dia harus menemukan cara bagaimana bisa membalas rasa sakit hatinya tersebut kepada Arsa. Ada dendam terpendam di dalam hatinya. Sedangkan Arsa duduk di atas kursi dengan bersandar sambil tersenyum dan meletakkan kedua tangannya di atas meja.
"2 tanah yang kamu ambill memang benar-benar bagus. Tapi, di bandingkan dengan tanah kawasan lindung yang aku beli itu, kedua tanahmu itu hanya seperti sampah. Benar-benar tidak sebanding." jawab Arsa dengan tenang.
__ADS_1
"Kamu masih bisa membanggakan tanah yang itu? Kamu ini bodoh atau memang sangat bodoh? Kamu bilang 2 tanah yang aku peroleh tidak ada apa-apanya? Sedangkan kamu juga tahulah, tanah yang kamu beli itu tidak bisa menghasilkan keuntungan." kata Wasis mencibir. Hanya karena kawasan tersebut di larang oleh pemerintah untuk di bangun atau di kembangkan oleh para pebisnis real estate, Wasis mengatakan kalau Arsa itu bodoh. Dan dia berani mengejek secara terang-terangan pimpinan kendi grup. Para bos yang berada di sana mengangguk membenarkan apa yang di katakan oleh Wasis.
"Kamu tahu, meskipun tanah di kawasan itu bagaikan sebuah kekayaan yang tak ada habisnya, tapi itu dalah kawasan tanah lindung yang di larang oleh pemerintah. Di sana benar-benar di larang untuk di adakan pembangunan. Tidak ada gunanya membeli tanah seperti itu. Karena tidak bisa di gunakan sama sekali." kata Wasis lagi. Tapi Arsa yang mendengar itupun malah tertawa.
"Tuan Wasis, saya membeli tanah tersebut tidak hanya untuk menghilangkan rasa gabut. Saya akan berdiri tegak di atas tanah ini. Saya akan membangun sebuah pusat perbelanjaan tingkat atas. Di tambah dengan adanya komunitas kelas atas di sana, saya akan menjadikan tempat tersebut tempat paling makmur di kota Surabaya. Tanah seluas 500 hektar jika benar-benar ingin di kembangkan dan di kelola dengan baik, prospek kedepannya akan sangat baik. Potensinya akan luar biasa." jawab Arsa dengan senyum yang belum menghilang dari bibirnya.
"Apa? Kamu mau membangun pusat perbelanjaan di atas tanah ini? "Kata tuan Wasis sambil tertawa.
"Kamu itu terlalu bermimpi. Tanah itu dinyatakan sebagai tanah lindung. Dan pembangunan di larang berdiri di sana. Apa kamu tidak mengerti? " kata Wasis mencibir.
"Apa tadi katamu? " kata Wasis yang langsung berdiri.
"Kenapa tidak ada berita sama sekali. Atau mungkin itu hanya alasanmu saja." kata Wasis dengan suara lantang.
__ADS_1
"Kalau anda tidak tahu, berarti selama ini anda tidak ada gunanya ya." kata Arsa sambil menaikkan kedua tangannya. Di saat yang bersamaan pula, Arsa mengeluarkan sebuah dokumen dan melemparkannya ke atas meja.
"file pencabutan itu ada di sini. Kalau anda tidak percaya, buka saja mata anda dengan lebar dan lihat baik-baik." kata Arsa yang sudah tidak memperdulikan lagi rasa sopannya. Dokumen itu adalah dokumen yang di berikan oleh kakek Arsa secara pribadi kemarin. Inilah yang dimaksud hadiah luar biasa itu.
Dengan tidak percaya, Wasis langsung mengambil dokumen tersebut.
"Ini..." Setelah membaca dokumen tersebut, Wasis langsung terduduk di kursi kembali. Wajahnya terlihat sangat putus asa. Dalam seketika, dokumen itu langsung jatuh ke atas meja.
"Apa anda sudah percaya sekarang? " tanya Arsa dengan senyum puas. Di saat itu pula, Alberto mengambil berkas tersebut dari atas meja.
"Ini nyata. Sungguh ini bukan sebuah mimpi kan? " Alberto pun berkata setelah membaca file tersebut. Suaranya tiba-tiba terdengar sangat jelas. Dan apa yang di katakan oleh Alberto pun membuat ruangan menjadi gaduh dalam seketika.
"Yaa Tuhan... Kawasan ini sudah di larang selama 9 tahun. Dan sekarang peraturan itu benar-bener di cabut? "
__ADS_1
"Kalau pembangunan di izinkan, maka total keuntungan akan berkali-kai lipat dari modal pembelian awal. Tanah ini benar-benar tanah dengan prospek yang sangat bagus."
"Kalau kendi grub ingin mengembangkan tanah ini menjadi suatu tempat yang paling makmur se kota Surabaya, maka perusahaan itu pasti akan bisa menghasilkan banyak keuntungan dari proyek ini.' suara-suara itu terdengar jelas di telinga Arsa. Sebagai pemilik bisnis real estate, mereka sangat paham berapa banyak keuntungan yang akan di peroleh oleh pemilik tanah setelah ada perkembangan nantinya.