Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Kehancuran di Depan Mata


__ADS_3

Good Company telah bekerja sama dengan Adi selama bertahun-tahun, jadi dia segera menjawab panggilan itu begitu teleponnya berdering.


"Halo tuan Budi, Saya lihat anda ingat menelepon saya." Adi berkata sambil tersenyum.


"Tuan Adi, saya hanya ingin memberi tahu Anda secara resmi, kalau kerja sama antara kita, saya akhiri sampai di sini saja. Saya tidak ingin kita bekerja sama lagi." kata tuan Budi.


"Anda menghubungi saya untuk mengakhiri kerjasama secara resmi? Apakah Anda bercanda tuan Budi? " kata Adi terperangah.


" Kita telah bekerja sama selama bertahun-tahun. Anda mensuplay perusahaan saya bahan-bahan baku, dan Anda juga menghasilkan banyak uang dari kerjasama dengan saya ini." kata Tuan Adi. Tapi, tuan Budi segera menutup sambungan telepon tuan Adi, bahkan sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.


"Sialan, dia menutup teleponku! " Adi melempar ponselnya ke sofa dengan hati marah. Saat itulah Adi duduk di sofa kembali.


"Berani-beraninya dia memutuskan kerjasama! Tanpa saya, penghasilan mereka akan berkurang dalam setahun ini!" Adi tidak tahu mengapa Good Company tiba-tiba memutuskan kerjasama dengannya, tetapi sebelum dia bisa berpikir jernih, ponselnya sudah berdering lagi. Dan panggilan itu dari bos star Group.


" Halo... Aku tahu kamu biasanya sangat sibuk, tapi apa yang membuatmu meneleponku? " tanya Adi tanpa basa-basi.


"Sebenarnya tujuanku menelepon anda, agar aku bisa secara resmi memberi tahu kamu, bahwa Grup Star akan menghentikan kerja sama dengan Anda mulai sekarang." jawab pimpinan Star Grub.


"A...Apa? " kata Adi. Sebelum dia mengatakan sesuatu, pihak lain di seberang sana sudah menutup telepon.


Tak lama setelah itu, panggilan dari nomor lain masuk, dan Adi melihat bahwa yang menelpon itu adalah bos kooperatif lain dari sebuah perusahaan, jadi dia segera menjawabnya.


"Tuan Adi, perusahaan kami telah memutuskan untuk menghentikan kerjasama kami dengan Anda." Bos perusahaan yang baru menelpon itu langsung berkata to the point. Nada suaranya terdengar acuh tak acuh, dan dia langsung ke intinya. Setelah itu, dia menutup telepon sebelum Adi menanyakan alasannya.


"A... Apa yang terjadi? " Adi bertanya pada dirinya sendiri sambil melihat ponselnya. Jika pembatalan itu adalah dari satu perusahaan, dia dapat memahaminya dan dapat dianggap sebagai kebetulan, tetapi dia sudah menerima banyak panggilan telepon dan pada saat yang sama. Sehingga dia berpikir kalau tidak mungkin hal itu adalah sebuah kebetulan.


Pada saat itu juga, telepon Adi mulai berdering lagi. Ketika dia melihatnya, suara itu adalah panggilan telepon dari bos lain yang mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan penelepon sebelumnya.

__ADS_1


Sepanjang sore, Adi terus menerima panggilan telepon dari semua perusahaan yang bekerjasama dengannya, berapa pun lamanya waktu mereka sudah bekerja sama. Apakah kerjasama itu baru atau sudah lama di mulainya, mereka semua menghentikannya karena mereka tidak ingin terlibat dengan Sucipto Group .


Adi ingin bertanya kepada mereka, mengapa membatalkan kerjasama itu., tetapi semua bos perusahaan itu menggantung dan tidak memberinya satu pun Alasan. Mereka langsung menutup telepon dan tidak memberinya satu kesempatan pun untuk bertanya mengapa.


Setelah menerima lebih dari belasan kali panggilan telepon, Adi membanting cangkir yang ada di atas meja.


"Kenapa ini terjadi padaku?" teriak Adi. Jika satu perusahaan tiba-tiba menghentikan kerja samanya, Adi akan menerimanya. Tapi ini semua perusahaan. Kalau hal itu sampai terjadi, maka itu tidak akan berdampak besar pada perusahaan mereka. Tapi, sekarang banyak perusahaan ingin menghentikan kerja sama mereka dengannya, dia khawatir tentang fakta kalai Grup Sucipto mungkin akan menghadapi krisis dan bahkan kebangkrutan.


"Tu... Tuan Adi, sangat banyak perusahaan yang ingin mengakhiri kerjasama mereka dengan perusahaan kita pada saat yang sama. Semua Ini pasti sudah direncanakan oleh seseorang ! " kata sekretaris tuan Adi.


"Aku tahu, sialan... Siapa yang sudah membuat rencana seperti itu? " kata Adi dengan emosi.


"Aku tidak tahu siapa orang yang memiliki begitu banyak kekuatan untuk menyuruh begitu banyak perusahaan menghentikan kerja sama mereka dengan Sucipto Group. Aku sama sekali tidak menyinggung siapa pun." kata Adi dengan nada frustasi.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Mereka harus tetap bekerja sama dengan perushaan ini. Aku khawatir ini akan menempatkan perusahaan dalam keadaan krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya!" gumam Adi mencoba mencari solusi. Setelah itu, Adi menelepon beberapa perusahaan yang selalu ingin bekerja sama dengan Sucipto Group, tetapi yang mengejutkannya, semua perusahaan itu menolak tawarannya.


"Sialan, sekarang malah aku yang sudah ingin bekerja sama dengan mereka, mereka tidak mau?" kata Adi dengan marah. Jauh di lubuk hati nya, dia tahu betul jika keadaan seperti ini terus berlanjut, perusahaan akan benar-benar berakhir dan hancur.


" Tuan Mario, dapatkah Anda memberi tahu saya kenapa semua perusahaan yang bekerja sama dengan perushaaan saya pada menghentikan kerja sama mereka dengan kami? Apakah Anda tahu siapa yang bisa mengacaukan perusahaan saya? " tanya Adi. Tuan Mario terdiam sejenak, tapi akhirnya, dia memutuskan untuk memberitahu Adi juga.


" Sejauh ini, menyangkut persahabatan lama kita, saya hanya bisa mengatakan bahwa Anda telah menyinggung Tuan Arsa, anak muda yang saat ini menjabat sebagai pimpinan Kendi Grup. Dia menelepon semua miliarder dan memberi tahu kami kalau dia menyuruh perusahaan yang bekerja sama denganmu untuk membatalkan kerjasama itu. Sekarang aku permisi dulu ya. Aku ada urusan." jawab orang bernama Mario itu dari seberang telepon.


Setelah selesai berbicara, Adi mengetahui bahwa tuan Mario sendiri tidak ingin berurusan dengannya. Namun, ponselnya terlepas dari tangannya saat dia menyadarinya.


"Tu.. Tuan Arsa? " Adi menggumam pada dirinya sendiri. Dia sangat mengetahui latar belakang Arsa, tapi ketika dia menyadari kenada Arsa tidak mengundangnya untuk makan malam, kesadaran menghantamnya lebih keras daripada yang pernah dia bayangkan.


"Aku tidak pernah menyinggung dia! " teriak Adi. Dia tidak bisa memikirkan alasan mengapa Arsa ingin mengacaukannya. Nyatanya, dia sama sekali tidak menyinggung Kendi Grup ataupun Arsa.

__ADS_1


Saat itu juga, general manager berlari ke arah Adi.


"Tuan Adi, sesuatu terjadi!" katanya dengan penuh kecemasan.


"Ada apa?" tanya Tuan Adi secara langsung.


"Restoran kita punya banyak tamu!" kata General Manager itu.


"Itu hal yang baik, bukan?" Kata Adi sambil memberi pandangan bingung kepada general manajer itu.


"Sebenarnya, para tamu semuanya berasal dari Perusahaan Kendi Grub. Ketika mereka memasuki restoran, mereka memesan makanan yang paling murah dan menempati semua tempat duduk. Sepertinya mereka sama sekali tidak berniat untuk pergi. Dan percuma saja jika kita memanggil polisi karena mereka sudah memesan makanan."


" Persetan, Sialan... Pasti Arsa yang melakukan ini! " Adi menggelengkan kepalanya karena marah.


" Siapkan mobil! Aku akan menemui Arsa secara pribadi! " tambahnya sambil menatap sekretarisnya. Satu-satunya cara agar dia tahu bagaimana keluar dari kekacauan yang dia hadapi adalah dengan menemui Arsa secara langsung dan bertanya kepadanya. Jika tidak, Sucipto Group akan segera bangkrut.


Sementara itu di Kendi Grup, Arsa menerima telepon dari seorang gadis di meja depan, yang bertugas sebagai resepsionist.


" Tuan Arsa, tuan Adi datang untuk menemui Anda.


"Apakah putranya ikut juga?" tanya Arsa.


"Dia hanya sendirian tuan." jawab resepsionist."


"Kalau begitu suruh dia pergi, dan suruh kembali lagi dengan membawa putranya baru bisa menemuiku!" Kata Arsa sambil menutup telepon. Gadis itu meletakkan telepon begitu Arsa menutup panggilannya.


"Nah? Apa katanya?" tanya Adi dengan tidak sabar.

__ADS_1


"Tuan Arsa meminta saya untuk memberi tahu Anda untuk membawa putra Anda dan menemuinya lagi." jawab petugas resepsionis tersebut. Tiba - tiba saja, sesuatu seperti di perluhatkan secara langsung di dalam pikiran Adi.


"Bajingan itu pasti telah menyinggung Tuan Arsa!" kata tuan Adi yang menyebut putranya bajingan.


__ADS_2