
" Bagaimana dengan kamu sendiri Arsa? Apakah kamu masih belajar di Universitas Kota Surabaya?Dan, kenapa kamu tidak bersama pacarmu si Mila itu? tanya Riki.
"Aku sudah lama tidak bersamanya. Dia mengira aku miskin dan dia lebih memilih untuk bersama orang lain," kata Arsa sambil tersenyum masam. Setelah mendengar kata-kata Arsa, Riki hanya bisa menghela nafas.
"Sayangnya, sebagian besar wanita masa kini sangat materialistis. Kamu tahu kan betapa sederhana dan polosnya Erika dulu saat masih SMA. Tapi sekarang, melihat Varo sedikit yang terlihat beruang saja, dia rela menjungkirbalikkan diri di depan Varo seperti itu." kata Riki.
"Ya. aku tahu bagaimana dulu Erika. Aku juga tidak menyangka." Arsa menggelengkan kepalanya dan menghela nafas.
"Arsa, lihatlah. Banyak teman-teman sekelas kita dulu yang mendekat ke Varo dan bersulang untuk nya." Riki menunjuk ke depan di mana teman-teman masa SMA nya itu berada. Arsa pun langsung menoleh. Dan benar saja, banyak mantan siswa yang berlari ke meja Varo untuk berusaha bisa bersulang dengannya, kemungkinan besar untuk mendapatkan koneksi dan menjilat lelaki sombong bernama Varo itu. Alasannya sangat sederhana, karena mereka hanya melihat, kalau Varo sekarang adalah orang kaya dan ingin bisa memanfaatkan moment ini. Bantuan Varo nanti sama dengan sedikit cahaya untuk mereka yang membutuhkan.
"Arsa, kalau kamu perhatikan baik-baik, beberapa orang yang ingin bersulang itu adalah orang-orang yang dulu pernah di-bully oleh Varo." Riki melanjutkan perkatannya. Setelah itu, Arsa kembali menatap mereka, dan memang benar demikian.
" Riki, apakah kamu mau pergi ke sana? " tanya Arsa sambil tersenyum .
"Tidak mungkin kalau aku datang ke sana hanya untuk bersulang dengannya. Dia selalu menindas kita di sekolah menengah atas dulu, dan aku tidak akan pernah melupakannya!" Kata Riki dengan gigi terkatup.
"Lihat caranya tersenyum puas. Dia terlihat ramah. Ini adalah salah satu golongan masnyarakat yang menyombongkan diri. Dan sebenarnya adalah, tentang siapa yang menjalin hubungan dengan orang-orang yang berada di puncak hierarki, dan mereka adalah bajingan yang mencari nafkah dari hal itu." Setelah terdiam beberapa saat, Riki berkata dengan kejam. Arsa hanya tersenyum dan menepuk bahu Riki.
__ADS_1
"Ayo kita minum! " Setelah percakapan singkat mereka berdua, Arsa dapat melihat kalau Riki masih sama dengan Riki yang dulu. Setelah mereka menghabiskan segelas anggur, Riki tersenyum pada Arsa.
"Tapi kamu jauh lebih berani sekarang sa. Kamu baru saja berani menantang Varo secara terbuka. Aku tidak suka sama dia, tapi sejujurnya, aku juga tidak berani menantangnya secara terang-terangan. Sangat merepotkan kalau nanti sampai mendapat masalah dengan orang-orang seperti dia." kata Riki dengan jujur.
"Mengapa tidak? Dia hanya kentut di mataku." Arsa berkata dengan nada meremehkan. Dengan kekuatan Arsa saat ini, mudah baginya untuk menekan Varo sampai terjatuh dan sulit untuk berdiri.
"Arsa, aku tidak menyangka kamu akan belajar bagaimana cara untuk membual seperti itu." kata Riki sambil tersenyum.
"Aku tidak membual. Aku bilang kalau aku punya Lamborghini dan itu adalah sebuah kebenarannya." kata Arsa dengan tenang.
"Kamu tidak percaya padaku? Oke, kalau begitu aku beritahu kamu ya. Ini adalah kunci mobil Lamborghini daniel ku." Arsa mengeluarkan kunci mobilnya dan menaruhnya di atas meja. Riki mengambilnya dan melihatnya dua kali.
"Di toko mana kamu membelinya? Pengerjaannya sepertinya sangat bagus. Terlihat sempurna. Yang belum tahu pasti mengira itu adalah kunci asli." kata Riki sambil tersenyum. Arsa hanya tersenyum lembut, lalu mengambil kuncinya kembali tanpa menjelaskan apa pun. Arsa tahu, kalau apa pun yang dia katakan sekarang, hanya akan di anggap bualan belaka. Dan wajar jika Riki pun tidak percaya padanya. Bagaimanapun juga, Riki mengenal bagaimana keadaan keluarganya saat dulu. Sekali lagi, Arsa akan mengungkapkan kebenarannya di saat yang tepat.
Makan malam dalam acara reuni itu berlangsung satu jam penuh.
Pada saat ini, Varo berada di meja meja yang paling meriah, dan dialah yang paling bangga saat ini. Dia tidak hanya menikmati sanjungan dari teman-teman sekelasnya, tapi Erika bahkan duduk di sampingnya. Menurut alur cerita saat ini, Varo dan Erika mungkin akan mendapatkan kesempatan langka. Varo juga tampak sangat bangga dengan pemikiran ini.
__ADS_1
Adapun Arsa, kecuali mengobrol dengan Riki, hampir tidak ada yang datang untuk berbicara dengannya, kecuali mantan ketua kelas yang datang untuk memberi penghormatan kepada keduanya.
Setelah satu jam, Varo berdiri dan berteriak,
"Semua sudah hampir selesai makan, jadi ayo kita pergi ke tempat lain. Ayo kita pergi ke bar saja dan karaokean di sana. Aku sudah memesan satu ruangan besar untuk kita semua, semua biaya, aku yang akan menanggungnya." kata Varo dengan suara yang sombong dan sikap Arogan.
" Baiklah! " Para mantan siswa yang hadir bersorak pada Varo. Mengiyakan apa yang di katakan oleh mantan teman sekelas Arsa itu. Setelah itu, mereka berdiri dan keluar satu per satu.
Di luar hotel, seorang teman mantan sekelas bertanya.
"Kita akan pergi ke bar mana Varo?"
"Seberapa jauh bari itu dari sini? " tanya yang lain.
"Kamu sangat bijaksana Varo." sahut seseorang lagi.
"Baiklah... Yakinlah kalau aku siap menanggung semua malam ini. Aku sudah menyewa seseorang, dan dia akan langsung mengantarkan kalian." Kata Varo. Orang-orang yang berada di kerumunan itu berkata satu demi satu. Dengan pujian publik yang di dengarkan, Varo sudah pasti tampak sangat menikmatinya, sehingga iya sangat membanggakan diri.
__ADS_1