
"Apakah dengan kata maaf, semuanya akan selesai? Apa kamu tidak tahu seberapa mahal pakaianku ini? Apa bisa kamu membelinya kalau sampai kamu membuatnya rusak?" Wanita paruh baya itu berkata dengan nada sombong dan tidak masuk akal.
"Tapi kami sudah meminta maaf." Adit berkata tanpa daya.
"Meminta maaf itu hanya omong kosong, Tapi hal itu tidak berguna dan tidak bisa mengembalikan ke keadaan semula. Oh iya, kenapa aku tidak manggil polisi dan penegak hukum saja." Kata wanita paruh baya itu dengan angkuh.
"Ah... Hoeeekkk..." Pada saat itu juga, Arsa tiba-tiba muntah, sehingga muntahannya langsung diseburkan ke wanita paruh baya di depannya itu. Wanita paruh baya itu berteriak seperti baru saja melihat hantu. Adit juga tampak terkejut dan tak berdaya, karena dia tidak menyangka Arsa akan muntah dengan tiba-tiba seperti ini.
"Kamu... Kamu bajingan. Kamu benar-benar muntah ke aku! Apakah kamu tidak tahu siapa aku? Aku adalah istri dari bos bar ini! Aku beritahu kamu, kalau kamu berada dalam masalah besar hari ini!" Teriak wanita paruh baya itu. Karena teriakan wanita paruh baya itu, kepala security bar segera membawa serta beberapa penjaga keamanan. Mendengar suara itu, mereka semua segera datang.
"Nyonya Dian, ini anda ternyata. Apakah sesuatu telah terjadi? " Ketika Kepala security melihat wanita paruh baya itu, dia dengan cepat tersenyum dan bertanya padanya. Karena, kepala security tahu kalau wanita paruh baya yang bernama dian ini adalah nyonyanya, istri dari pemilik bar ini.
"Ben, lihat sendiri! Anak ini muntah ke baju aku." teriak wanita paruh baya itu sambil menunjukkan muntahan Arsa di bajunya. Kepala security melirik muntahan pada baju nypnya Adian, lalu, iya menoleh dan berkata kepada Arsa dan Adit.
"Arsa, apa yang harus kita lakukan?" Adit mengguncang Arsa di saat mengerti arti tatapan tersebut.
"Kalian berdua benar-benar muntah di baju nyonya Dian. Tamatlah riwayat kalian hari ini." kata kepala security itu. Adit belum pernah mengalami hal seperti itu, jadi dia merasa bingung.
__ADS_1
Saat ini, Arsa, yang telah muntah, baru saja tersadar kembali.
"Uh, maaf, karena aku telah memuntahimu, jadi biarkan aku memberimu uang sebagai gantinya." Jawab Arsa.
"Aku kasih tahu ya, kalau kamu tidak bisa membayarnya hari ini juga, maka kamu tidak akan bisa pergi dengan mudah dari tempat ini!" Wanita paruh baya itu berkata dengan keras.
"Tidak, uang ini sekarang sudah menjadi milikmu." Dengan tatapan sinis wanita kepada wanita paruh baya itu, Arsa merogoh sakunya. Dan akhirnya, menemukan selembar uang seratus ribuan yang sudah kusut. Arsa menyerahkan uang berwarna merah yang sudah kusut itu kepada wanita paruh baya yang kini sedang naik darah itu. Ketika wanita paruh baya itu melihat uang seratus ribuan, wajahnya menjadi merah karena menahan amarah. Merasa di permainkan
"Nak, kamu... Apa kamu berniat membodohiku? Apakah kamu benar-benar berani membodohiku?" kata nyonya Dian dengan emosi. Wajah Arsa tiba-tiba meredup, merasa tidak senang dengan sikap wanita setengah tua itu. Setelah Nyonya Dian mengambil uang itu, dia langsung meremasnya menjadi bulatan mirip bola kecil, lalu melemparkan uang itu dengan keras ke wajah Arsa.
"Dengan apa aku membodohimu coba? Aku sudah memberitahumu kalau aku sedang dalam suasana hati yang buruk hari ini. Kalau kamu tidak bisa menerima kebenaran ini, maka keluarlah! Kalau tidak, dan jika sampai kamu menyinggung perasaanku, aku pastikan kamu tidak akan sanggup menanggung akibatnya!" kata Arsa dengan suara dingin. Meski tadi Arsa pusing karena terlalu mabuk, tapi kesadarannya masih ada. Dia tidak sengaja menabrak nyonya Dian sebelumnya, dan Adit sudah meminta maaf padanya, tapi nyonya Dian masih terus bersikap cuek dan bahkan marah-marah, bahkan menyebut Arsa bodoh. Arsa hanya mendengarkan ocehan nyonya Dian sejak tadi. Jadi, ketika Arsa merasa mau muntah, dia tidak meghindarkan dan malah langsung memuntahkannya ke nyonya Dian.
Setelah itu, nyonya Dian menoleh ke arah di mana Kepala security berada.
"Ben, kamu harus menemukan cara untuk memberiku satu juta sebagai kompensasi, jika tidak, tuan akan memecatmu!" Nyonya Dian berkata dengan lantang.
Kepala security mengangguk dengan cepat. Segera setelah itu, Kepala security memberi perintah.
__ADS_1
"Kalian semua, kepung kedua anak laki-laki ini untukku." Lima satpam segera bergegas dan mengepung dua bocah bernama Arsa dan Adit itu.
"Hei, aku beritahu kalian. Berikan uang sebanyak 1 juta sebagai kompensasi Nyonya Dian. Aku berjanji kalau kalian mmeberikan uang itu, aku akan melepaskan kalian dengan mudah.Tapi, jika kalian tidak memberikan sebanyak Satu juta, maka sebaiknya kalian tidak berpikir bagaimana cara kalian dapat keluar dari bar ini hidup-hidup." Kepala security menunjuk ke Arsa.
" Kalau begitu izinkan aku juga memberi tahu kamu, kalau kamu tidak menyingkir sekarang dan membiarkan aku masuk kembali ke ruangan untuk terus minum, aku pasti akan menghancurkan bar ini." kata Arsa dengan mata menyipit.
" Kalau begitu, kamu pasti sedang menatang kami untuk cari mati." Ketika Kepala security mendengar kata-kata Arsa, dia dengan cepat mengambil tongkat dan berusaha mengayunkan kepada Arsa .
"Arsa, hati-hati! " Adit memiliki penglihatan dan gerakan yang bagus, dan dengan cepat iya melangkah maju untuk melindungi Arsa.
"Buuk" Tongkat security itu langsung melayang mengenai Adit. Ketika Arsa melihat ini, matanya berkilat marah.
"Aku berjanji akan membuat kalian semua membayar mahal untuk ini kejadian ini." Arsa berkara dan segera mengeluarkan ponselnya .
"Halo, Andre! Kamu dan Fiko harus membantu aku, datanglah ke Funny Bar secepat mungkin." kata Arsa.
"Mengapa? Yang jelas untuk menghancurkan bar ini! " Nada bicara Arsa terdengar
__ADS_1
dingin.