Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Gugurnya Nama Kekasih Hati


__ADS_3

"Aprilia, dengarkan aku dulu. Tuan Arsa menggajiku sebanyak 20 juta dalam 1 bulan. Dan kamu tahu, aku bisa mendapatkan gaji sebanyak 240 juta dalam setahun. Dengan uang sebanyak itu, aku juga bisa memberimu hidup yang lebih baik bukan?" kata Evan sambil tersenyum.


"Apa 240 juta juga akan menjadikanmu seekor anjing? Apakah uang itu akan membuatmu menggonggong seperti seekor anjing?" tanya Aprilia dengan suara keras.


"Evan Arlando, saya akan memberi Anda kesempatan. Jika Anda masih ingin bersama saya, tunjukkan integritas Anda. Keluar dari pekerjaan Anda di sini dan kembali ke kampus pascasarjana itu sekarang juga!" setelah terdiam beberapa saat, Aprilia melanjutkan kalimatnya.


"Aprilia, jangan terlalu serius. Dengan kemampuan yang aku miliki, ditambah 24o juta gaji tahunanku, pria seperti apa yang ingin kamu dapatkan lagi? Jika aku di suruh memilih antara kamu dan 240 juta gaji tahunan, aku pasti akan memilih 240 juta gaji tahunan itu. Lagi pula, untuk apa aku harus memilih." kata Evan dengan penuh percaya diri. Dan sudah terlihat kalau Evan tidak takut untuk menunjukkan wajah aslinya. Sedangkan Aprilia menutupi dadanya. Dia tampak pucat.


"Evan Arlando, bajingan kamu! " Aprilia menampar wajah Evan. Setelah itu, Evan membalas menampar Aprilia dengan punggung tangannya. Evan meraih lengan halus Aprilia.


"Beraninya kamu memukulku? Siapa kamu?" Tamparan keras langsung ke wajah Aprilia. Aprilia, yang hampir roboh, terbanting ke tanah. Dia duduk di atas tanah dan menangis. Evan langsung berbalik dan mengabaikannya.


Di Lantai atas Gedung Kendi, di Ruang CEO.


Di komputer Arsa, terlihat semua rekaman CCTV di luar gedung. Baru saja Video Evan yang sedang berbicara dengan Aprilia menarik perhatian Arsa.

__ADS_1


"Binatang yang luar biasa." Arsa menyipitkan mata dengan rasa dingin di matanya. Meskipun Aprilia selalu memandang rendah dirinya, ditambah dengan pemikiran aneh tentang dia, pikiran Arsa aneh. Arsa harus mengakui satu hal, Aprilia sangat baik hati. Hal Itu cukup untuk di tunjukkan dengan Aprilia yang bisa menghabiskan sebagian besar waktu liburannya sebagai sukarelawan, dan juga dia rela menghabiskan lebih dari setengah gajinya untuk kebutuhan panti asuhan.


" Tuan Arsa! " seseorang yang baru datang membungkuk. Mencari tahu kenapa Arsa memanggilnya. Arsa terlihat sedang marah setelah melihat video Evan memukul Aprilia. Arsa pun akhirnya berkata kepada sekretarisnya yang baru datang itu,


" Suruh kepala keamanan untuk membawa Evan Arlando dan Aprilia Dewi ke sini." perintah Arsa.


"Baik tuan." sekertaris Arsa itu langsung keluar.


Dalam waktu kurang lebih lima menit, kepala Security dan beberapa petugas keamanan membawa Evan dan Aprilia masuk ke dalam ruangan Arsa. Evan dan penjaga keamanan memberi hormat kepada Arsa satu demi satu.


"Arsa Kenandra, apa maksudmu dengan memintaku datang ke sini? Untuk menunjukkan kalau kamu menang? Oke. Aku akui kamu memang menang!" teriak Aprilia dalam pertanyaannya.


Arsa menatap Evan lagi.


"Evan Arlando, kamu benar-benar monster berbaju relawan. Kenapa kamu memukulnya dengan begitu mudah padahal dia sangat tulus padamu? Aku bahkan tidak bisa menyaksikan kejadian saat kamu memukulnya lagi. Aku yang melihat saja merasa malu sebagai seorang lelaki." Kata Arsa dengan kejam.

__ADS_1


"Tuan Arsa, dia yang mulai duluan." Evan berkata dengan senyum kering karena tak menyangka Arsa akan melihat semuanya. Evan tidak menyangka kalau adegan itu dilihat oleh Arsa.


"Hentikan omong kosong itu. Aku harus menyuruh banyak orang hari ini dan memberimu pelajaran ! " Arsa langsung berdiri.


"Kepala keamanan, pukul dia!" Arsa menunjuk Evan dan berkata.


"Baik, Tuan Arsa!" Setelah kepala satpam dan beberapa satpam mendengar kata-kata perintah itu, mereka bergegas ke Evan dengan kepalan tangan dan tangan siap menghajar. Mereka langsung melaksanakan perintah dari tuannya.


"Tuan Arsa, tolong selamatkan hidupku. Saya mohon ampun tuan." Evan yang dipukuli berteriak minta ampun lagi dan lagi. Di sisi lain, Aprilia akhirnya merasa lega saat melihat Evan dipukuli.


Sekitar lima menit, Arsa berbicara.


"Baiklah, hentikan sekarang juga! " Beberapa satpam berhenti atas perintah Arsa. Saat ini, Evan jatuh ke tanah seperti anjing mati. Mulutnya penuh dengan darah, dan dia benar-benar malu.


"Evan Arlando, mulai besok, kamu tidak perlu bekerja di Kendi," kata Arsa dengan tenang.

__ADS_1


"Apa? " Evan bangkit dengan perasaan shock. Bukankah Evan lebih memilih meninggalkan Aprilia demi pekerjaan yang bergaji 240 juta setahun ini? Tapi Sekarang, Arsa Kenandra malah menyuruhnya untuk tidak masuk kerja.


"Apakah kamu benar-benar berpikir kalau aku akan memberikan sampah seperti kamu gaji tahunan sebesar 240 juta, dan membiarkan kamu menyia-nyiakan serta membohongi seorang gadis, lalu berpura-pura menjadi orang baik? Apa kamu sedang berkhayal dalam mimpimu!" Arsa tersenyum dan berkata. Di saat itu juga, Evan merasa sebuah kehancuran.


__ADS_2