Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Membungkam dengan Tindakan


__ADS_3

Arsa menoleh ke arah pemuda berambut merah itu.


"Bajingan kecil, itu adalah orang yang kutelepon. Apakah kamu puas?" kata Arsa datar.


"Anda... Anda adalah Tuan Arsa yang legendaris itu? " Pemuda berambut merah itu memandang Arsa dengan ketakutan.


Fiko Reliso baru saja memanggil Arsa Kenandra 'Tuan Arsa' dan Pemuda berambut merah itu mendengarnya dengan jelas. Pemuda berambut merah itu tahu betul siapa Tuan Arsa. Dia adalah orang besar di belakang kelompok pasukan bawah tanah Kota Surabaya, dan juga pimpinan Kendi Grup cabang Kota Surabaya!


"Benar. Kamu Benar sekali." Arsa mengangguk. Bagaimana pemuda ini bisa menyinggung perasaannya?


"Tuan Arsa... Hilangkan saja nyawa saya. Aku telah menyinggung perasaan anda." Pemuda kecil berambut merah itu sangat ketakutan sehingga dia berlutut di tanah dan tidak bisa berhenti gemetar! Para pemuda di sebelah nya juga ikut berlutut. Mereka takut dengan adanya Arsa, hingga tubuhnya tidak bisa berhenti gemetaran. Mereka tahu bahwa diri mereka sangatlah kecil berada di depan pria besar ini. Mereka bahkan tidak sebaik semut!


"Walaupun kalian semua brengsek, aku tidak mau banyak bicara dengan kalian, tapi aku akan bertanggungjawab banyak pada pendidikan kalian. Aku akan mendidik kalian, untuk orang tua kalian." kata Arsa datar.


"Fiko." panggil Arsa Kenandra sambil melambai.


"Iya tuan Arsa." jawab Fiko.


"Berikan semua keledai kecil ini. Aku perlu mendidik mereka." kata Arsa.


"Iya tuan." Setelah itu, laki-laki besar berbaju hitam menjawab, mereka langsung bergegas menuju kelompok anak muda itu. Sekarang, Bagaimana pemuda kecil ini bisa menolaknya? Mereka hanya berani berdiri di tempat dan di beri pelajaran.

__ADS_1


Di saat itu pula, Arsa menoleh ke arah Rena.


"Rena, aku sudah bilang sebelumnya kalau aku telah memimpin ribuan orang berkelahi hingga terjadi pertumpahan darah. Kamu bilang bercanda saat aku bilang padamu. Sekarang, apakah kamu sudah percaya? " Arsa berkata sambil tersenyum. Rena tidak menjawab Arsa, tetapi menelan ludahnya dan berkata,


"Kamu... Kamu adalah Tuan Arsa yang terkenal itu!" ucap Rena dengan terbata-bata. Saat berada ada di bar sebelumnya, dia mendengarkan Aldo yang bercerita tentang Tuan Arsa! Di depan matanya, saat ini sosok itu berdiri. Bagaikan mendapatkan wahyu yang mengejutkan dari Tuhan! Dia tidak pernah menyangka kalau Arsa, orang yang iya lihat biasa saja, akan menjadi Tuan Arsa yang mereka maksud.


"Benar... Kamu baru tahu kan? " Arsa mengangguk sambil tersenyum.


"Tuan Arsa, a... Aku salah. Aku pernah memandangmu rendah sebelumnya. Tolong, jangan bunuh aku! " Rena tampak ketakutan .


"Membunuhmu? Kenapa aku harus membunuhmu?" tanya Arsa sambil tersenyum.


"Rena, menurutku kamu benar-benar gadis yang luar biasa." kata Arsa sambil tertawa. setelah itu, Arsa melanjutkan,


"Lagipula, aku teman kakakmu, kan?" tanya Arsa.


" Ya, aku tidak menyangka kalau kakakku akan menemukannya laki-laki sepertimu, kalau bisa, jadilah pacarnya. Dia terlalu baik. Sedangkan aku, mencari pacar yang seperti sampah!" kata Rena.


"Pacarmu? Dia juga seorang pemuda yang suka bersosialisasi. Sebagai seorang anak buah yang terbiasa menguasai jalan? Tapi sayang, dia sltidak bisa berbuat apa-apa sama sekali." Arsa menggeleng.


Arsa kemudian melambaikan tangan kepada Fiko dan anak buahnya yang berada di sekitarnya itu, memberi isyarat agar dia membawa si Aldo.

__ADS_1


Tak lama kemudian, si Aldo pun dibawa ke dekat Arsa.


"Tuan Arsa!" Aldo sangat ketakutan sehingga dia tidak mampu berkata dengan lancar. Bahkan anak itu tidak berani menatap ke arah Arsa.


Si Aldo tak menyangka kalau Arsa Kenandra yang beberapa waktu lalu disindirnya itu adalah Tuan Arsa.Dia teringat saat berada di depan Arsa sambil memamerkan kesombongannya. Dia pikir dia konyol!


Arsa menoleh ke Rena dan berkata, "Rena, aku akan membereskan pacarmu."


"Tuan Arsa, saya... Saya khawatir kita salah paham. Saat dia berlutut padanya tadi, dia bukan pacarku lagi! " Kata Rena.


Arsa mengangguk, lalu berjalan ke arah Aldo. Saat ini, Aldo seperti seseorang yang tersengat aliran arus liatrik. tubuhnya yang tadi tegak dengan begitu angkuh, tidak bisa berhenti gemetar.


"Aldo, kamu mengancam akan memukulku beberapa kali sebelum ini, tapi kamu dihentikan oleh Rena, dan sekarang tidak ada yang menghentikanku, aku bisa memukulmu sesukaku! " Arsa berkata dengan suara meremehkannya.


"Tuan Arsa, saya tidak tahu siapa Anda sebelumnya, dan saya mengaku salah atas apa yang telah saya perbuat tadi. Kali ini, saya tidak punya nyali. Saya... saya takut hanya untuk sekedar memanggil anda Tuan Arsa!" Aldo berkata sambil bergetar.


Arsa melihat lebih dekat dan menemukan celana pemuda di depannya itu basah.


"Lihat ke atas! " kata Arsa.


"Kamu pipis di celanamu sendiri karena takut. Hal Ini sangat kontras dengan keributan yang kamu buat sebelumnya." kata Arsa lagi. Aldo mendongak, tapi wajah dan matanya dipenuhi rasa takut.

__ADS_1


__ADS_2