
"Om Ardi, saya mendekati Putri anda tidak berniat buruk. Aku hanya ingin membalas kebaikannya karena dia sudah membantuku kemarin." Arsa cepat-cepat menjelaskan kepada Papa Naira.
"Tapi Nayra tadi bilang kalau kamu tidak perlu membayarnya. jadi Kamu bisa pergi meninggalkannya." tangan Papa Naira melambai seolah memberikan isyarat kepada Arsa untuk meninggalkan dia dan putrinya. Ardi sangat yakin jika Arsa ingin mendekati Naira. Sebagai seorang ayah, tentu saja Ardi mengetahui hal tersebut dan dia harus melindungi anaknya. Banyak laki-laki yang ingin mendekati Naira akhir-akhir ini. sehingga Tuan Ardi hanya berjaga-jaga saja.
"Ya Tuhan, laki-laki berpakaian lusuh seperti kamu ini berani mendekati Naira? "suara Arogan terdengar dari belakang Arsa. Saat Arsa berbalik, ia melihat seorang pemuda dengan jam tangan mewah dan wajahnya yang terlihat benar-benar sombong. Iya membusungkan dadanya.
"Vincent...? " ucap Naira dan tuan Ardi saat melihat lelaki itu. Terlihat sangat jelas bahwa ekspresi di wajah mereka berdua berubah.
Arsa mengerutkan keningnya mendengar apa yang dikatakan oleh lelaki muda yang baru datang tersebut. 'Laki-laki dengan pakaian yang sangat lusuh'. Sudah jelas apa yang dikatakan lelaki itu ditujukan kepadanya. Pria bernama Vincent Pratama itu menghampiri Arsa dan Naira dalam sekejap.
"Dari mana bocah kampungan ini berasal. Keluarlah dari sini, Naira tidak layak untuk menjadi sampah sama sepertimu." Vincent memandang Arsa dengan Tatapan yang jijik. Setelah itu ia kembali menatap Naira lagi.
" Naira, aku dengar kamu datang kesinj untuk berbicara dengan Kendi grup tentang kerjasama hari ini. Aku ingin bertanya, apakah kesepakatan yang kamu bicarakan sudah selesai? " Vincent memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Lelaki itu terlihat begitu sombong. Seolah-olah ia mampu membuat semuanya menjadi baik.
"Vincent, aku yakin semua ini bukan urusanmu. Bisnis ini bukan hanya milikmu." kata Naira dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
"Kok kamu bilang kalau bukan urusanku. Kamu adalah calon Kekasihku." Vincent tersenyum dengan penuh makna.
"Vincent, jangan asal berbicara." Tuan Ardi menyela pembicaraan antara Naira dan Vincent.
"Om Ardi Kenapa kamu sangat tidak suka kepadaku. Aku disini untuk membantu perusahaan keluargamu." ucap Vincent sambil tersenyum.
"Kalau aku tebak, Kendi grup tidak akan bekerja sama dalam perusahaan anda. Dan kalau anda tidak mendapatkan kerjasama ini, perusahaanmu akan segera bangkrut. Tapi jangan khawatir, aku bisa membantu anda. Tapi selama Naira berjanji mau menjadi pacarku. aku akan membiarkan Papaku untuk membantu anda." ucap Vincent dengan angkuhnya.
"Bantuan? Apa kamu gila dengan kata-katamu yang begitu tinggi itu? " tiba-tiba Arsa menyela pembicaraan orang-orang yang berada di depannya itu. Mendengar apa yang diucapkan Arsa, Vincent berpaling dari Naira dan ayahnya lalu menatap ke arah Arsa dengan Tatapan yang tajam.
"Kamu bilang apa? Apa kamu tahu siapa aku? " Ucap Vincent.
"Arsa, hentikan. Kamu tidak bisa main-main dengan dia." Naira berkata sambil menarik lengan baju Arsa. Meskipun mereka tidak saling mengenal satu sama lain, tapi Arsa melakukan ini semua demi Naira. Arsa tidak ingin Naira terluka karena Vincent.
"Oh." Arsa tersenyum penuh arti. Dia yakin tidak ada seorang pun di Kota Surabaya yang tidak bisa dia marahi. Sebenarnya Arsa tidak mau peduli dengan Vincent ataupun keluarganya. harusnya yakin jika Vincent tidak lebih baik dari dirinya. Bagaimanapun juga, Arsa adalah cucu dari orang terkaya di Indonesia.
"Sangat menarik." Gumam Arsa dalam hati.
"Anak muda, Dia adalah anak dari pemegang saham Kendi group di Kota Surabaya." ucapkan Ardi memberitahu Arsa.
__ADS_1
"Putra pemegang saham?" Arsa sedikit mengernyit. Dia tidak menyangka laki-laki di depannya ini ternyata anak seorang pemegang saham dari perusahaannya sendiri.
"Oh, anak pemegang saham, ya? Dan... Apa yang membuatmu merasa begitu sombong?" Ucap Arsa mencibir Vincent. Vincent pun merasa geram atas ucapan Arsa yang bersifat memprovokasi.
"Hei, beraninya kau bicara seperti itu padaku? Kamu meu mencari perkara denganku, hah? Apa kamu sudah lelah hidup? " Vincent mengacungkan tinjunya ke arah Arsa. Tuan Ardi langsung bergerak untuk menghentikan Vincent yang akan memukul Arsa.
"Vincent, Kita sedang berada di pesta yang diadakan oleh kendi grup. Jika kamu memukul seseorang di sini, berarti kamu sudah berbuat tidak sopan kepada Ketua kendi grup yang baru. Jika masalah ini menjadi besar, maka ayahmu pun tidak akan bisa menjelaskan kepada pimpinan baru meskipun ia memohon." Tuan Ardi bersikap sangat bijaksana. mendengar apa yang diucapkan oleh lelaki paruh baya tersebut, Vincent pun mendengarkan dan ia sedikit tenang.
"Sombong, tapi tidak berotak." Ucap Arsa kembali. karena Vincent mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan Ardi tadi, dia tidak terprovokasi oleh ucapan Arsa yang barusan meskipun amarah sudah benar-benar menguasainya. Dia tidak mau menimbulkan masalah di pesta itu. karena kalau sampai hal itu terjadi, ayahnya pun tidak akan bisa menerima konsekuensi yang akan diberikan oleh Kendi Group.
"Beruntung sekali kamu. Aku tidak akan menyelesaikan masalah denganmu sekarang juga. Tapi nanti saat pesta sudah selesai, aku akan memberikan pelajaran kepadamu karena kamu sudah berani menyinggungku." Vincent mengatakan itu semua dengan nada yang tinggi. Lalu dia menoleh ke arah Naira.
" Naira, pikirkan lagi apa yang sudah aku katakan dengan papamu. Jadilah kekasihku, dan aku akan membantumu. Kalau kamu tidak mau melakukan apa yang aku katakan, Aku pastikan perusahaanmu akan hancur." setelah mengatakan itu semua, dia berbalik dan pergi meninggalkan Arsa dan yang lain.
Arsa memandangi sosok Vincent yang perlahan pergi dengan senyumnya yang dingin.
"Aku juga akan memberikan sesuatu yang berharga kepadamu karena kamu juga berani menyinggungku." gumam Arsa.
"Arsa kamu terlalu berani. Papanya Vincent adalah salah satu pemegang saham di kendi grup cabang Surabaya. Kami tidak bisa main-main dengan apa yang telah dia katakan." ucap Naira dengan nada khawatir. Bagi Arsa, status pemegang saham dan di grup cabang Surabaya mungkin bukan masalah yang besar. Tapi untuk Naira, Vincent adalah sosok yang menakutkan baginya.
"Iya, sebaiknya kamu pergi dari sini." Naira mengangguk sambil berkata. Naira tahu jika Arsa sedang membela dirinya, Itulah sebabnya laki-laki yang baru di kenalnya itu mendapat masalah dengan Vincent. Dan tentu saja, Naira tidak ingin Arsa mendapat masalah karena hal ini. Hati nuraninya tidak bisa menerima itu.
"Jangan khawatir, aku tidak peduli dengan Vincent." Arsa tersenyum dengan sikap acuh tak acuh sambil mengangkat bahunya.
"Kamu bilang kamu tidak peduli dengan Vincent? Anak muda, kamu sombong sekali." Tuan Ardi tidak bisa untuk tidak menggelengkan kepalanya karena heran dengan keberanian Arsa. Meski iya bukanlah seorang ahli penampilan, ia tetap memiliki kemampuan untuk menilai status seseorang dari penampilannya. Dari penilaiannya, Arsa tidak sebanding dengan Vincent. Namun Ia tetap menghargai orang lain walaupun menurutnya orang itu bukanlah orang kaya.
"Oh iya, Ngomong-ngomong, anda baru saja mengatakan ingin bekerja dengan Kendi Grub. Mungkin aku bisa membantu anda." Arsa menawarkan kepada tuan Ardi.
"Kamu jangan mengolok-olokku anak muda. Kamu tidak bisa membantuku dalam hal ini." Tuan Ardi menggelengkan kepalanya tidak yakin.
"Om Ardi, aku yakin aku bisa membantumu. Nanti anda akan tahu kenapa aku bisa berkata seperti ini" kata Arsa dengan senyum penuh makna.
Setelah beberapa saat, Fendi berjalan ke atas panggung.
"Acara akan dimulai beberapa menit lagi. Para tamu yang terhormat, silakan kembali ke tempat duduk Anda." Ucap Fendi mengumumkan. Para tamu undangan mengikuti apa yang di katakan oleh Fendi. Tuan Ardi menoleh ke Arsa lagi.
__ADS_1
"Anak muda, hanya itu yang bisa kukatakan kepadamu. Kamu harus memikirkan apa yang baik untuk dirimu sendiri." Setelah itu, Tuan Ardi menarik lengan Naira menuju ke meja yang telah ditentukan.
"Arsa, kenapa kamu tidak memberi tahu mereka kalau kamu adalah pimpinan baru Kendi Grub? " Adit bertanya dengan penasaran.
"Orang-orang tidak percaya padaku setiap kali aku mengatakannya. Tapi jangan khawatir, mereka nanti juga akan tahu pada akhirnya." Jawab Arsa dengan tenang.
Kursi para tamu sudah di atur, diurutkan berdasarkan status. Mereka yang duduk di depan berarti statusnya sangat tinggi, berbeda dengan mereka yang duduk di belakang. Orang-orang seperti Vincent duduk lebih dekat dengan panggung. Dia duduk di barisan kursi kedua bersama ayahnya. Sementara itu, Naira dan papanya duduk di barisan belakang. Dia duduk di kursi sambil mengamati kerumunan. Naira tidak melihat Arsa yang srjak tadi iya khawatirkan.
"Dia sepertinya sudah pergi." Naira menghembuskan nafas lega. Begitu juga dengan papa Naira, Iya terlihat tenang saat sudah tidak melihat Arsa di sana.
"Untung dia bisa sadar diri. Meninggalkan pesta adalah pilihan yang paling bijak." Gumam Tuan Ardi. Dia tersenyum kecut sambil menoleh ke arah putrinya.
"Bukankah ini hal yang sangat ironis ya Nai. Kita tidak memiliki kekuatan untuk melindungi diri sendiri, tapi kita masih mengkhawatirkan keselamatan orang lain." Ucapnya. Sedangkan Naira mengangguk untuk menanggapi sang papa.
Pada saat yang bersamaan, di atas panggung, Fendi memegang mikrofon di tangannya.
" Hadirin sekalian, terima kasih telah menunggu. Kami tahu Anda semua sangat menantikan pertemuan dengan pimpinan baru Kendi Grub." Beberapa tamu undangan yang hadir di sana pun mengangguk. Hampir semua orang yang hadir di pesta itu belum pernah melihat wajah pimpinan baru kendi Group cabang Surabaya. Itulah alasan utama pesta yang di adakan hari ini. Sebuah acara yang di adakan secara resmi untuk memberitahukan kepada orang-orang ini tentang pimpinan Baru.
Ada beberapa tamu yang sebelumnya telah bertemu dengan pimpinan di aula pesta, tetapi mereka tidak tahu jika itu adalah pimpinan Kendi Grub.
"Kami tidak ingin membuat anda semua semakin penasaran dengan kehadiran pimpinan baru. Harap untuk menyambut pimpinan baru dengan tepuk tangan yang meriah." ucap Fendi dari atas panggung. Para tamu undangan yang hadir pun langsung bertepuk tangan dengan meriah atas pengumuman yang sudah mereka nanti-nantikan. Semua orang melihat ke panggung dengan mata yang tidak berkedip.
"Pimpinan baru kendi grub akhirnya akan naik panggung." Ucap seorang tamu undangan.
"Kudengar pimpinan baru ini masih sangat muda." Di kursi undangan, khususnya di baris kedua, Vincent meletakkan ponselnya dan mengarahkan pandangannya ke atas panggung . Ayahnya pun melirik ke arahnya.
"Vincent, saat pimpinan baru menyelesaikan pidatonya nanti, dia pasti akan turun dan langsung bergabung bersama para tamu untuk bersulang. Kamu harus menjaga sikap baikmu. Kamu jangan sampai menyinggung pimpinan baru. Apa kamu mengerti apa yang Papa katakan? " ucap Ayah Vincent yang tahu betul jika anaknya biasanya bersikap sombong dan sering membuat masalah dengan orang lain.
"Jangan khawatir Pah, aku akan bersikap baik di depan pimpinan baru nanti." Vincent meyakinkan Papanya sambil tersenyum.
Sedangkan di kursi belakang, Nina dan ayahnya bertepuk tangan sambil menatap ke arah panggung.
"Akhirnya aku akan melihat wajah pimpinan baru Kendi grup. Aku sangat menantikan momen ini." ucap Nina dengan ekspresi penuh harap.
Dan di meja lain, pandangan Naira dan Papanya tertuju ke panggung juga. Naira langsung menyadari sesuatu, bahwa seseorang yang naik ke atas panggung adalah Arsa. Para tamu undangan bertepuk tangan meriah, di saat sosok laki-laki berjalan perlahan ke atas panggung.
__ADS_1