Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Kepuasan sang Kakek


__ADS_3

"Aku paham maksud anda." jawab Arsa mengangguk. Iya lalu langsung masuk ke dalam mobil. Dan mobil yang di tumpanginya perlahan meninggalkan hotel.


Di dalam Istana rumah keluarga Andi Sudiryo, Tuan Andi duduk di sofa sambil memegang tablet di tangannya. Video siaran langsung lelang Kota Surabaya, barusan diputar di layar tablet berukuran 10 inchi itu. Iya menonton video tersebut dari awal hingga selesai.


"Anak muda ini menakut-nakuti Wasis. Terlihat sangat lucu." kata kakek Andi yang tidak bisa menahan tawa. Sekretarisnya, tuan Jerry yang berada di sampingnya juga ikut  tertawa.


"Tuan Andi, kemampuan tuan muda untuk beradaptasi dengan perubahan dalam hidupnya benar-benar mengagumkan." kata Jerry.


"Sebaliknya, dia malah mengancam kesehatan mental Wasis dengan memaksa lelaki itu untuk mengeluarkan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Si kecil itu sangat pintar." Wajah Andi Sudiryo penuh dengan ekspresu kelegaan. Performa Arsa benar-benar melebihi ekspektasi yang pernah ada di benaknya. Dia bisa melihat dengan mata kepala sendiri kalau Arsa mampu memberinya lebih banyak kejutan.


"Tapi dengan karakter Wasis yang seperti itu, dia pasti sangat marah tuan. Dia mengalami kerugian yang sangat besar hari ini, dan sudah pasti dia akan mencari cara untuk membalas tuan muda dengan cara yang lebih agresif. Saya takut Kalau tuan muda akan menemui banyak masalah karena Wasis." Kata Jerry mengkhawatirkan keselamatan cucu dari tuannya tersebut.


"Ada seseorang yang melindunginya. Jangan khawatir kalau menyangkut keselamatannya."


"Yang aku khawatirkan adalah akan ada masalah lain. Tapi semua itu tergantung bagaimana Arsa menanggapinya. Sekali lagi, ini semua bukan hanya ujian untuknya. Tapi juga latihan untuk lebih mengasahnya lagi." kata Tuan Andi Sudiryo. Keduanya pun tersenyum puas dengan penampilan Arsa hari ini.


Di sisi lain, di rumah Wasis Adiguna.

__ADS_1


Terdengar suara benturan, gebrakan dan pecahan berbagai barang. Vas antik di vila, berbagai koleksi anggur merah, dan berbagai fasilitas dekorasi rumah itu semuanya hancur dan rata dengan tanah. Lantainya terlihat berantakan karena penuh dengan pecahan kaca.


"Bajingan itu." Wasis terdiam beberapa saat setelah mengatakannya.


"Berani-beraninya dia mengancam aku? Aku juga bisa kalau hanya untuk melakukan hal itu! " Wasis yang sedang di kuasai amarah menghancurkan banyak sekali barang dan berteriak seperti orang kesetanan. Para pelayan dan pengawal di rumah itu semuanya gemetar ketakutan. Mereka bersembunyi di sudut tembok dan tidak berani bergerak, karena takut sesuatu akan membuat Wasis menjadi lebih marah. Bahkan Seno pun juga berdiri menjauh dan tidak berani menghalangi tuannya sama sekali. Suasana di rumah Wasis saat itu sangat hening. Wasis terus menerus merusak barang-barang yang berada di dekatnya selama satu jam lebih. Ketika dia lelah dan sudah tidak bisa bergerak lagi. Wasis kemudian duduk kembali di sofa. 


"Seno, Kemarilah! " panggil Wasis dengan wajah muram dan berteriak pada assistandnya. Seno pun yang merasa di panggil bergegas mendekat ke arah Wasis.


"Seno, anak mudah bernama Arsa itu, aku harus membunuhnya. Aku harus menyingkirkan dia. " kata Wasis sambil menggertakkan gigi-giginya hingga berbenturan.


"Anda masih ingat kan dengan kejadian terakhir kali, di saat kita menyuruh orang-orang kita untuk membunuh anak ini, mereka semua hilang tanpa jejak. Bahkan sampai sekarang kita tidak bisa menemukan mereka semua. " kata Seno menambahkan.


"Seno, menurutmu apa yang harus kita lakukan? " tanya Wasis menatap pria di sampingnya itu. 


"Tuan, saya baru saja memikirkan cara terbaik untuk bisa menyingkirkan anak itu." Jawab Seno dengan tersenyum sinis. Setelah itu, dia mencondongkan tubuh nya ke telinga Wasis dan membisikkan rencananya kepada sang tuan.


"Luar biasa! Ide kamu benar-benar luar biasa! Kenapa aku tidak memikirkan ide seperti ini sebelumnya? " Setelah mendengarkan rencana Seno, Wasis pun tersenyum. Wajahnya kembali cerah seakan ada harapan besar dalam hidupnya. Iya bertepuk tangan untuk memuji assistandnya itu.

__ADS_1


"Tuan Wasis, dengan cara ini, saya rasa Arsa pasti akan mati tanpa jejak. Dan kita pasti tidak akan pernah tertangkap!" Seno pun tertawa dan berkata kepada tuannya.


"Kita harus benar-benar membunuh anak itu!" Suara wasis terdengar  penuh harap. 


"Biarkan saya yang mengurus hal ini, Tuan Wasis. Saya tidak peduli seberapa hebat anak ini, dia pasti tidak akan lolos dari rencana kita kali ini! Saya akan mengatur semuanya." kata Seno sambil tersenyum. Setelah itupun, Seno berbalik dan meninggalkan kediaman Wasis Adiguna dan mulai menjalankan rencananya.


"Arsa, karena kamu sudah berani melawanku, kamu akan mendapatkan apa yang seharusnya pantas kamu dapatkan. Meskipun kamu adalah cucu Andi Sudiryo, aku yakin kamu pasti akan mati di tanganku." Kata Wasis sambil tertawa keras. Dia yakin rencana Seno barusan akan membuatnya berhasil menyingkirkan musuhnya itu. 


Di dalam rumah keluarga Rita.


Rita sedang duduk di sofa menonton TV, dan ayahnya, tuan Endrow masuk dari luar pintu.


"Papa, Papa sudah pulang. Bagaimana acara lelangnya? " tanya Rita sambil memakan kuaci yang berada di dalam toples dan saat ini berada di tangannya. Pandangannya masih tertuju pada sebuah acara film di televisi.


"Lumayan. Kalau saja tadi kamu pergi dengan papa, papa rasa kamu akan terkejut." kata Endrow sambil tersenyum. Sambil berbicara, Endrow pun langsung berjalan ke sebelah Rita dan duduk.


"Kejutan? Apa yang akan membuat saya terkejut? Apakah ada sesuatu yang saya suka di acara lelang itu? "

__ADS_1


__ADS_2