
"Ada banyak orang yang ingin menyingkirkanku,” kata pengawal Arsa pada Mulyanto. "Tapi, oh sayang sekali, mereka semua sudah menjadi mayat sekarang." Hudoyo berkata dengan suara seraknya.
Hudoyo yang bertubuh kurus tampak tidak seimbang jika dibandingkan dengan Mulyanto yang bertubuh besar.
"Kamu itu sombong sekali. Aku, Mulyanto, Generasi kuat di Kota Surabaya, belum pernah bertemu dengan saingan yang seperti kamu. Kuharap kau tidak terlalu lemah karena itu akan sangat membosankan!" Mulyanto berkata bangga dengan tersenyum.
"Aku merasakan hal yang sama denganmu. Aku sudah lama tidak bertemu dengan lawan yang bisa mengimbangiku sejak aku kembali ke sini. Kuharap kamu tidak terlalu lemah. Ayo, kita bisa mulai! " kata Hudoyo dengan suara pelan.
"Baiklah, jangan berani-berani nya kamu bersikap sombong di depanku. Matilah kamu sekarang! " ucap Mulyanto lalu mengayunkan tangan yang sudah mengepal menjadi tinju, yang kalau di lihat-lihat, seperti karung pasir secara langsung. Mulyanto berusaha menyerang Hudoyo.
"Terlalu lemah!" Pukulannya sampai mengeluarkan angin kencang dan penuh kekuatan! Hudoyo menggelengkan kepalanya. Saat kepalan tangan Mulyanto sampai di depan Hudoyo, Hudoyo mengulurkan tangannya dan meraih kepalan tangan Mulyanto. Mulyanto, yang tadi wajahnya tampak percaya diri, tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah secara langsung. Dia berusaha ingin menarik kembali tangannya yang mengepal menjadi tinju itu, tapi dia tidak bisa. Iya merasa kalau kekuatan lawannya tidak bisa dibandingkan dengan dirinya.
"Aduh!" Detik berikutnya, Hudoyo memelintir kepalan tangan Mulyanto dengan sangat menyakitkan. Di sertai teriakan kesakitan, seluruh lengan Mulyanto diputar 360 derajat. Pada saat yang sama, Hudoyo bergegas berjalan ke depan Mulyanto dan memberinya tendangan tepat di punggung yang sepertinya menghancurkan tulang belulang lelaki yang di sebut preman oleh Wasis itu. Mulyanto membungkuk, dalam sekejab, tubuhnya langsung membentuk busur yang menakutkan ke arah yang berlawanan. Mulyanto, yang lututnya sudah lumpuh, langsung jatuh ke tanah. Iya menghirup udara dingin di mulutnya yang terasa sakit, dan seluruh tubuhnya gemetar. Hanya dua gerakan yang di lakukan oleh Hudoyo, dan dari situ, sudah jelas terlihat siapa pemenangnya.
Ketika Arsa melihat adegan perkelahian itu, dia benar-benar menghela nafas sambil berpikir bahwa Hudoyo terlalu kuat. Bagaimana bisa, Mulyanto, yang terlihat garang, menjadi begitu lemah ketika dihadapkan pada orang seperti Hudoyo. Yang menghadapi orang jahat seperti Mulyanto tanpa belas kasihan.
Hudoyo dengan perlahan berjalan menghampiri Mulyanto. Pengawal Arsa itu menatap lawan yang sudah tak berdaya di atas tanah. Dan iya menggelengkan kepalanya.
"Tadinya aku mau pemanasan, tapi kamu terlalu lemah bahkan sampai berkeringat seperti itu." kata Hudoyo dengan suara pelan.
__ADS_1
"Kamu ! Siapa kamu sebenarnya? Bagaimana kamu bisa begitu kuat seperti itu? " Mulyanto menatap Hudoyo dengan ketakutan. Sebelumnya, dia sangat percaya diri dengan kekuatannya, dan dia selalu berpikir kalau dirinya sudah sangat kuat. Tapi, setelah dia mengetahui kekuatan Hudoyo, dia menyadari betapa lemah dirinya.
"Dengan kekuatanmu yang seperti itu, kamu tidak pantas untuk mengetahui namaku!" Kata Hudoyo pelan. Kemudian, Hudoyo menoleh ke arah Arsa.
"Apa yang harus kita lakukan padanya Arsa?" kata Hudoyo. Dan Arsa terlihat berjalan menghampiri Mulyanto.
"Katakan padaku, siapa yang menyuruhmu?" Mulyanto tetap diam.
"Kamu tidak mau bicara? Oke... Hudoyo, mungkin kamu harus mengajari dia bagaimana caranya berbicara!" kata Arsa dengan suara dingin. Hudoyo pun mengangguk mendengar apa yang di katakan oleh Arsa.
Sesaat Kemudian, Hudoyo menginjak lutut Mulyanto yang sebelahnya.
"Aduh!" Dengan teriakan sedih, lutut Mulyanto yang satunya diinjak-injak dengan enteng oleh Hudoyo. Mulyanto merasakan rasa sakit yang membakar serta menjalari dirinya, hingga kepalanya bercucuran keringat dan wajahnya menjadi pucat.
"Wasis! Kenapa dia lagi! Apakah dia ingin aku mati? " Arsa menyipitkan matanya, matanya berbinar karena rasa emosi yang tiba-tiba hadir.
"Apa yang harus kulakukan padanya Arsa? Haruskah aku membunuhnya? " Hudoyo menunjuk Mulyanto yang tergeletak di tanah.
"Tidak, patahkan saja hamstringnya dan bawa dia menemui Wasis!" Arsa menyatakan dengan suara dingin. Wasis sudah sering mengirim orang untuk membunuhnya. Bagaimana Arsa bisa diam saja dengan semua perlakuan orang tua itu?
__ADS_1
Di Rumah Wasis.
Wasis sedang menunggu kabar dari Mulyanto, dan dia mengira kalau Arsa akan dibunuh dan rencananya akan berjalan dengan lancar kali ini. Tak lama kemudian, seorang pelayan bergegas masuk.
"Tuan, ada seorang laki-laki bernama Arsa Kenandra di depan pintu. Dia mencari Tuan Wasis. Katanya, dia ingin bertemu dengan Anda." Kata pelayan laki-laki itu.
"Apa? Apa dia benar-benar ada di depan pintu? " Wasis pun langsung berdiri.
"Mulyanto! " gumam Wasis saat sekilas melihat orang yang di suruhnya.
"Wasis, beraninya kamu!" Terdengar suara melengking dari luar. Kemudian, sosok Arsa masuk melalui pintu. Hudoyo mengikutinya di belakang. Dialah yang membawa Mulyanto seperti anjing mati. Saat Wasis dan Seno melihat Mulyanto, mata mereka terbelalak dengan sempurna karena keterkejutan.
Saat ini, Arsa dan Hudoyo telah sepenuhnya memasuki ruang tamu rumah Wasis. Hudoyo melempar Mulyanto langsung ke lantai dengan suara keras.
"Hamstring tangan dan kakinya telah patah, dan dia ditakdirkan untuk lumpuh seumur hidupnya." kata Arsa kepada mereka, duduk di seberang Wasis dengan tanpa permisi.
"Beraninya kau!" Wasis membanting tangannya di atas meja. Wajahnya pucat. Bagi Wasis, Mulyanto adalah pemain nomor satu di bawah pimpinannya. Dan semua trik juga sudah ada di tangannya. Tapi sekarang dia baru saja dibuang dan di lempar seperti barang yang tak berguna. Selain itu, ada orang lain bertindak lebih jauh untuk menemukan dan secara pribadi melemparkan Mulyanto yang sudah lumpuh di depannya, yang benar-benar telah mempermalukannya.
Arsa pun membanting tangannya ke meja balik. Sambil menggebrak meja, iya berdiri dengan mata terbelalak dan balas berteriak.
__ADS_1
"Siapa yang masih punya nyali untuk mengirim orang untuk membunuhku lagi? Apakah kamu benar-benar berpikir kalau aku mudah untuk diganggu?" Suara Arsa bergema di seluruh ruang tamu, membuat yang ada di sana penuh ketegangan.
"Wasis, saya datang ke sini, hari ini untuk memberi tahu Anda. Apakah Anda tahu, kalau anda itu adalah seorang pecundang yang masih jauh berada di bawah saya. Jangan pernah mengulangi hal bodoh lagi untuk mencoba membunuh saya! Karena kamu, tidak akan pernah berhasil." Arsa berkata dengan suara tajam. Menggunakan bahasa formal sehingga terdengar bebar-vebar marah. Seolah suaranya siap untuk membuat Wasis berlutut padanya.