
"Kelvin?" Sambil tersenyum, Arsa bertanya dengan ragu. Kelvin yang berada di resort kemarin menganggap dirinya sebagai cucu dari keluarga yang berkuasa. Dan Saat ini, Endrow memandang dirinya berbalik terbalik. Laki-laki paruh baya itu memandang Arsa dan menatapnya dengan saksama.
"Meskipun aku tidak tahu cara apa yang kamu gunakan untuk memikat hati putriku Rita, aku tahu pria seperti apa kamu. Kamu hanyalah seorang pemain yang sedang memanfaatkan putriku. Kamu hanya menginginkan uang." Setelah tuan Endrow mengatakan kata-kata untuk mengejek Arsa, dia mengeluarkan check dari jasnya. Dia sudah menyiapkannya jauh-jauh hari, berpikir kalau Arsa akan menerimanya.
"Ini adalah cek senilai 100 juta, cukup untuk membuatmu yang tadinha hanya anak laki-laki yang miskin menjadi jutawan. Ambil uang ini dan tinggalkan putriku. Kamu tidak layak untuknya." Endrow menyerahkan cek itu kepada pria bersetelan jas di sebelahnya.
Assistandnya yang tadi menjemput Arsa mengambil kertas tersebut dan menyerahkan kepada Arsa.
"Apakah ini uang? " Arsa menatap cek yang diserahkan kepadanya. Dia menggelengkan kepalanya dan tertawa seolah menemukan sesuatu yang lucu. Sebagai cucu orang terkaya, apakah menurutnya Arsa akan kekurangan uang? Dan hal Itu sangat konyol.
Setelah menerima cek tersebut, Arsa langsung menyobek cek tersebut menjadi dua. Di tengah kesunyian, suara robekan kertas menggema di udara yang membuat Endrow terkejut. Setelah itu, Arsa terus melipatnya menjadi dua, dan merobeknya lagi lalu menginjak cek tersebut di tanah setelah melemparkannya.
"Kamu..." Ayah Rita melihat Arsa merobek cek itu. Wajahnya tiba-tiba menjadi muram. Dia sangat terkejut. Yang ada dalm pikiran Endrow sebelumnya, orang waras mana yang akan menyia-nyiakan kesempatan langka seperti ini untuk bisa bebas dari kemiskinan. Dia berasumsi dan mengantisipasi bahwa siapa pun yang ditawari seperti itu pasti akan langsung setuju.
"Apa yang kamu lakukan? Tidak cukupkah uang yang aku berikan? Kamu mau lebih banyak lagi? " Wajah Endrow terlihat membiru. Dengan segera, dia mengeluarkan cek lagi, menulis sejumlah uang di atasnya kembali, menandatanganinya, dan menyerahkannya kepada Arsa.
"Ini adalah uang lima ratus juta, merupakan jumlah tertinggi yang dapat aku berikan. Aku harap kamu akan berpikir dengan serius kali ini. Ambil uangnya dan tinggalkan putriku selamanya." Tanpa memberikan cek teesebut kepada asistennya, Endrow secara pribadi menyerahkan cek itu kepada Arsa. Kali ini, Arsa tidak menjawab. Dia tetap diam sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
__ADS_1
"tuan Endrow, bahkan jika Anda memberi saya uang miliaran, saya mungkin akan tetap melakukan hal yang sama. Di mata saya, uang Anda tidak berharga." jawab Arsa. Ketika assistan tuan Endrow yang berada di sebelahnya mendengar apa yang dikatakan Arsa, dia langsung marah.
"Anak muda, aku melihat kalau kamu memiliki keinginan untuk segera mati. Bajingan sekali kamu ini, seharusnya kamu tidak berani tidak menghormati Tuan Endrow dan menolak apa yang dia katakan! " ketua lelaki itu. Tangan kanan Endrow yang sejak tadi tenang kini melambai.
"Alex." Dengan suara yang mengisyaratkan teguran, Endrow melambai ke assistadnya itu, mengisyaratkannya untuk mundur. Setelah itu, Endrow menatap ke arah Arsa. Terlihat dari ekspresi Endrow dia sangat marah karena Arsa berani tidak menuruti perintahnya. Meskipun dia hanyalah lelaki tua yang saat ini terlihat masih bugar, Arsa bisa melihat kalau Endrow mampu menahan emosinya.
"Nak, jika kamu masih menyia-nyiakan uang dariku, aku hanya bisa memberitahumu dengan jelas, bahwa uang lima ratus juta adalah batas dari jumlah yang bisa aku berikan kepadamu. Aku harap kamu akan menerimanya kali ini." Setelah terdiam, Endrow melanjutkan.
"Arsa, aku akan memberimu waktu tiga hari untuk memikirkannya. Setelah berpikir, kamu bisa datang kepadaku untuk mengambil uang lima ratus juta itu kapan saja. Selama kamu menyetujui kesepakatan ini, semuanya akan baik-baik saja. Setelah tiga hari sudah berlalu, kalau kamu tidak mau mengambil uang itu, atau tidak meninggalkan putriku, maka aku akan menggunakan cara yang lain." kata Endrow dengan nada yang tiba-tiba dingin.
"Pak Endrow, saya pikir lain kali kita akan bertemu, dan di saat itu pula, saya yakin anda pasti akan mengubah sikap Anda," kata Arsa sambil tersenyum. Endrow pun menatap lelaki di sampingnya itu dari atas ke bawah. Dia mencibir kata-kata Arsa dan dengan acuh melirik pemuda di sampingnya.
"Jika Endrow mengetahui identitasku yang sebenarnya, apakah dia masih berpikir bahwa aku tidak layak untuk putrinya? " gumam Arsa degan lirih.
Setelah Endrow pergi, asistennya meluapkan kemarahannya.
"Tuan, anak itu tidak selevel dengan nona muda. Nona Rita memiliki pikiran yang cerdas, tapi aku tidak tahu bagaimana dia bisa menyukai pria seperti itu." Alex mengertakkan gigi dan berkata dengan kejam.
__ADS_1
"Kuharap anak itu berpikir dan cukup sadar diri. Atau, dia tidak bisa menyalahkanku begitu aku bersikap kasar," kata Endrow dengan wajah gusar.
"Ngomong-ngomong tuan, apakah Anda ingin nona pergi ke acara pelelangan besok? Saya dengar Tuan Kelvin juga akan pergi. Ini akan menjadi waktu yang tepat untuk menjodohkan nona Rita dengan Tuan Kelvin." Alex menyarankan.
"Aku akan memberitahunya." kata Endrow sambil mengangguk.
Setelah kedua pria itu pergi, Arsa tinggal di tepi danau sebelum kembali ke asrama. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Saat dia melihat ID penelepon, dia melihat kalau itu adalah panggilan dari kakeknya, Andi. Arsa tahu, kalau kakeknya meneleponnya secara pribadi, pasti ada sesuatu yang istimewa atau mendesak untuk dibicarakan.
"Kakek." gumam Arsa, dengan cepat iya menjawab.
"Halo, kek." Arsa dengan cepat menjawab teleponnya.
"Arsa, aku ada di rumahmu sekarang. Kembalilah ke sini, aku punya beberapa barang bagus untukmu. Kakek pikir barang itu akan sangat membantumu." Suara ramah kakek Arsa terdengar di telepon.
"Hal bagus? Hal bagus apa kek? " Arsa terkejut. Status kakeknya adalah yang terbaik. Dia dianggap sebagai orang terkaya di Surabaya. Semua visi dan standarnya sangat tinggi. Karena kakek Arsa menyebutnya sebagai hal yang baik, Arsa tidak bisa membayangkan apa itu. Andi bilang dia ingin memberikannya sendiri kepada Arsa. Selain itu, kakek Andi mengatakan kepada Arsa kalau barang yang akan dia berikan akan sangat membantu. Arsa benar-benar tidak bisa membayangkan kejutan apa yang akan di berikan oleh sang kakek.
"Kamu akan tahu kalau kamu sudah ada di sini." Tawa kakek Andi terdengar di seberang telepon.
__ADS_1
"Oke, aku akan pulang sekarang juga kek." Arsa mengangguk karena rasa gembira. Setelah menutup telepon, iya buru-buru pulang.