
Bagi Arsa, uang untuk membeli mobil lagi bukanlah apa-apa. Selain itu, Arsa tidak mau menunggu beberapa bulan tanpa menggunakan mobil. Gaya hidupnya sudah terbiasa dengan itu saat ini.
Suatu sore sepulang dari kampus, Arsa menerima telepon dari nomor yang tak dikenal.
"Halo, siapa ini?" Arsa menjawab panggilan tersebut.
"Apakah saya sedang berbicara dengan Arsa Kenandra? " Wanita itu bertanya dari ujung telepon.
"Iya, ini Arsa. Kalau boleh saya tahu ini dengan siapa ya? " tanya Arsa.
"Ini Felisa, teman sekelas SMP kamu." jawab wanita yang mengaku namanya Felisa tadi.
"Felisa? " Tiba-tiba Arsa terkejut saat mendengar nama itu. Arsa tidak pernah bisa melupakan nama itu. Nama itu adalah nama cinta pertamanya di kelas dua SMP, Arsa jatuh cinta dengan seorang gadis cantik, pintar, cerdas, dan ceria yang bernama Felisa. Dan saat itu, Arsa entah dari mana ia mendapatkan keberanian untuk menulis surat cinta kepada Felisa, dan diam-diam meletakkannya di atas meja gadis itu. Apa yang tidak diharapkan Arsa adalah bahwa Felisa benar-benar akan menulis kembali surat balasan, serta setuju untuk berkencan dengannya. Arsa masih ingat betapa bahagia dan bersemangatnya dia saat itu. Tapi sayangnya, hubungan yang dia bangun dengan Felisa hanya berlangsung selama tiga bulan. Setelah itu, Felisa mencampakkannya dan memilih untuk bersama pria lain yang lebih baik dari dirinya. Pria itu mengejarnya dan Felisa pun menerima untuk bersamanya. Setelah mengetahui hal itu, Arsa memutuskan untuk mencari bocah itu dan hanya ingin berbicara baik-baik dengannya. Tapi pada akhirnya, Arsa malah dipukuli oleh bocah itu.
__ADS_1
Arsa masih ingat dengan jelas, betapa tertekannya dia saat itu. Arsa pernah menjadi salah satu siswa terbaik, tapi dia sangat terpengaruh setelah Felisa meninggalkannya. Nilai ujian dan nilai hariannya turun drastis. Tapi, Arsa sudah lama melupakan semuanya. Dan hal Ini dianggap sebagai krnangan masa di muda masa lalu dalam ingatan.
"Oh, Hai Felisa. Aku rasa ada yang salah, kenapa kamu tiba-tiba menghubungiku? " Arsa berhasil bertanya meski pikirannya sibuk mengembara ke masa lalu. Tapi Dia juga tidak pernah menyangka kalau Felisa tiba-tiba akan menghubunginya, setelah bertahun-tahun tidak berkomunikasi. Mungkin ada beberapa alasan penting mengapa dia menghubunginya.
"Arsa, aku mau menikah. Aku mau mengundang kamu untuk datang besok jam 12 ke Sinar Hotel." Kata Felisa.
"Maaf, kamu ngundang aku? " Arsa terkejut dan ingin memastikan kalau dirinya mendengar dengan benar apa yang baru saja di katakan oleh Felisa.
"Iya Arsa. Lagi pula kamu adalah cinta pertamaku, tentu saja aku ingin bertemu denganmu di hari pernikahanku." Kata Felisa.
"Kamu sibuk ya? Aku dengar dari beberapa teman, kalau kamu masih kuliah. Dan kebetulan besok itu adalah hari Sabtu. Terus kenapa kamu tidak punya waktu untuk menghadiri pernikahanku? Apakah kamu tidak mampu memberikan aku hadiah? Oke, kalau begitu, kamu tidak perlu mengeluarkan uang berapa pun," kata Felisa. Ada sarkasme dalam kata-kata yang Felisa ucapkan.
"Kamu bilang aku tidak mampu memberimu hadiah?" Arsa tidak bisa menahan senyum. Mungkin kalau Arsa masih hidup dalam garis kemiskinan, dia mungkin benar-benar tidak akan mampu membeli apapun. Tapi sekarang, menjadi cucu dari orang terkaya dan terpopuler di Surabaya, apa ada orang yang mengatakan kalau ia masih tidak mampu membeli apa-apa untuk sekedar menghadiri pernikahan mantan cinta monyetnya dulu.
__ADS_1
"Oke, lebih baik kamu fikirkan terlebih dahulu. Sekarang dengarkan, aku akan memberitahumu waktu dan tempat pernikahanku lewat pesan." Kata Felisa. Usai berbicara, Felisa menutup telepon, dan Arsa memikirkannya.
"Aku tidak punya rencana apa-apa untuk besok, jadi aku akan datang ke pernikahannya.” Setelah memikirkan undangan dari Felisa dengan matang, akhirnya Arsa memutuskan untuk pergi. Ini bukan untuk apa pun atau siapa pun, tetapi untuk mengakhiri cinta masa mudanya yang dulu pernah ada.
Keesokan paginya, manajer toko mengendarai mobil Lamborghini baru ke rumah Arsa. Lamborghini yang kali ini berwarna hijau. Menurut pengelola toko, mobil itu baru saja datang dari pabriknya. Dan pagi ini, mereka harus mengantarkan ke Arsa. Arsa pun memutuskan untuk mengendarai Lamborghini hijau ini untuk pergi menghadiri pernikahan Felisa.
Sinar Hotel adalah hotel bintang empat. Bagi orang biasa, bisa melangsungkan pernikahan di hotel bintang empat saja sudah sangat dahsyat. Arsa mengendarai Lamborghini hijaunya, dan perlahan memasuki sinar Hotel.
"Oh, wow! Lamborghini yang keren!"
" Entah siapa orang kaya yang ada di dalam mobil itu! " Penampilan Lamborghini yang di kendarai oleh Arsa tentu saja sangat menarik perhatian, bahkan membuat beberapa gadis berteriak kagum.
"Aku rasa dia adalah pria yang tampan. Kalau begitu, aku harus mendapatkan nomor ponselnya." kata seorang wanita dengan percaya diri. Begitu Arsa keluar dari mobil, dua wanita dengan gaun terbuka dan make up tebal datang untuk meminta nomor ponsel Arsa.
__ADS_1
"Maaf, tidak." kata Arsa sambil melambaikan tangannya dengan saksama menunjukkan kalau dia tidak tertarik, setelah itu, dia langsung berjalan memasuki hotel. Arsa merasa sangat muak dengan wanita pemuja materi semacam ini. Bagaimana mungkin Arsa mau memberi mereka nomor ponselnya.