Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Kebengisan Kejora Grub


__ADS_3

Arsa memenangkan sebagian besar tanah pada lelang terakhir, itu sebabnya Kejora grub tidak punya tanah yang cukup untuk dikembangkan, sehingga mereka menargetkan tempat semacam ini. Karena orang-orang kecil sangat mudah untuk di tindas dan di intimidasi.


"Kejora grub ini benar-benar tidak tahu malu. Beraninya mereka mau mengambil panti asuhan ini hanya dengan harga seratus juta. Untuk sebidang tanah yang begitu bagus, tanah ini bisa laku berkali-kali lipat. Melihat kemampuan mereka, apakah mereka ingin menindas orang-orang lemah? " Arsa menyipitkan matanya karena geram. Arsa bertanya pada dirinya sendiri apakah dia ingin mengambil tanah itu. Dia berpikir kalau hal itu pasti akan bisa membantu membangun sebuah panti asuhan yang lebih besar dan lebih baik di tempat lain. Lalu iya akan memberikan sejumlah uang jaminan agar panti asuhan tersebut tidak mengalami kerugian yang menyebabkan anak-anak akan kehilangan tempat berteduh.


Setelah melakukan ini, Arsa akan memiliki hati nurani yang bersih. Iya akan membantu panti asuhan ini untuk tetap bertahan. Bertentangan dengan apa yang dia pikirkan, Kejora grub yang hanya memberikan penawaran 100 juta ke panti asuhan. Dia benar-benar tidak tahu malu! Mereka bahkan tega melewatkan garis moralitas paling dasar hanya demi uang.


"Benar-benar brengsek!" Ketika Hudoyo mendengar semua ini, ada rasa dingin di matanya. Kemarahan Arsa dan Hudoyo sangat bisa dimaklumi, karena terakhir kali Arsa mendengar cerita Hudoyo, panti asuhan tempat dia dibesarkan dibongkar dengan paksa. Pengasuh panti asuhan terbaik di tempat itu terluka parah dan akhirnya meninggal dunia. Karena cerita ini, Hudoyo mempermasalahkan apa yang terjadi saat ini. Mereka menghancurkan masa depan Hudoyo yang cerah dan pergi ke pengasingan di luar negeri. Saat ini, Hudoyo tentu saja akan marah ketika menghadapi situasi yang sama seperti yang dia alami dulu.


"Tuan Arsa, Tuan Hudoyo, ini tidak ada hubungannya dengan anda berdua. Anda berdua juga tidak boleh terlibat, jadi, lebih baik keluarlah lewat pintu belakang." Devina berkata dengan khawatir.


"Tidak. Karena hal seperti ini pernah juga terjadi padaku, aku pasti tidak akan duduk diam menyaksikan kekejaman kejora grub," kata Arsa dengan tenang. Begitu selesai mengatakan hal tersebut, hampir lima puluh pria bertubuh besar dan berbaju berbaju hitam sudah masuk.


Bu Kartini dan Devina, yang belum pernah melihat pemandangan seperti itu, wajahnya langsung pucat dan sangat ketakutan. Pemimpin mereka terlihat dengan kepala botak.

__ADS_1


"Kartini, sudah tiga hari. Bagaimana kabarnya? Sudahkah kamu memikirkannya? " Kata si botak dengan bangga.


"Tuan-tuan, seratus juta terlalu sedikit untuk membangun panti asuhan baru, tidak akan cukup. Dan satu hal lagi, akan ada banyak anak yang akan kehilangan dan tidak punya tempat tinggal sama sekali." Kata Devina.


"Permohonan kami sangat sederhana, kami akan menyetujui kesepakatan itu, asalkan kita bisa membangun panti asuhan baru dengan ukuran yang sama. Sebelum panti asuhan itu dibangun, bantu saja kami mencarikan tempat tinggal untuk anak-anak itu." sahut bu Kartini juga.


"Bukan urusan kita kemana anak yatim itu akan tinggal. Jika kalian tidak punya tempat tinggal, hidup saja di jalan. Kalian hanyalah orang-orang yang tidak berguna sama sekali, kenapa harus ada di dunia ini." Si botak itu mencibir tanpa rasa kemanusiaan sedikitpun.


"Kamu..." Bu Kartini dan Devina tak menyangka akan ada orang sekejam itu di dunia ini.


"Baiklah. Hentikan omong kosong kalian. Kita semua di sini hari ini bukan untuk melakukan penawaran. Ini kontraknya. Jika kamu menandatanganinya dengan cepat, hal itu akan bisa menyelamatkan semua orang dari masalah. Kalau tidak, jangan salahkan kami karena bertindak tidak sopan. " Kata pria botak itu sambil mengeluarkan sebuah surat kontrak dan menyerahkannya kepada bu Kartini.


"Jangan terlalu sombong! Aku sudah memanggil polisi! " Kata Devina dengan gigi terkatup.

__ADS_1


"Jika kamu merasa bebas untuk melaporkan, Kejora grub pun bahkan tidak bisa meliput kejadian ini. Bukankah Tuan Wasis telah hidup dengan segala kekuasannya di Kota Surabaya selama lebih puluhan tahun?" Pria botak itu berkata dengan bangga. Setelah itu, si botak menoleh.


"Saya beri waktu dua menit. Jika kalian tidak menandatanganinya, bukan hanya tidak akan ada satu juta kompensasi, tapi saya jamin kalian berdua akan muncul di berita besok. Isinya adalah, kalian berdua ditabrak dan tewas di tempat oleh sebuah mobil! Adapun nasib anak-anak ini di panti asuhan ini, bahkan lebih sulit untuk di jelaskan." dia berkata dengan suara dingin. Dalam kata-kata pria botak itu, ada banyak ancaman untuk bu Kartini dan Devina. Setelah mendengar kata-kata itu, baik Bu Kartini dan Devina menjadi pucat karena ketakutan. Lagi pula, mereka hanya orang kecil yang tidak akan bisa berbuat apa-apa.


"Saya... Saya akan menandatanganinya!" kata Bu Kartini dengan berat hati. Dan mereka berdua, sebagai warga Kota Surabaya, tentu saja sangat menyadari pamor Wasis Adiguna. Mereka tahu kalau keberadaannya benar-benar tidak bisa diganggu oleh seseorang. Bahkan jika Bu Kartini tidak mau, mereka akan tetap memaksa.


Bu Kartini hanya memilih untuk menundukkan kepalanya dan mengikuti perintah mereka. Dia tahu kalau dirinya tidak akan pernah bisa mengalahkan Wasis Adiguna. Jika dia dan Devina benar-benar mati, tidak hanya seratus juta kompensasi akan hilang, tapi anak-anak di panti asuhan ini juga akan ditinggalkan begitu saja.


"Tunggu sebentar!" Arsa berkata dan melangkah maju pada saat yang sama. Pria botak dan lebih dari 40 orang itu memandang Arsa satu demi satu setelah mendengar suaranya.


"Siapa kamu bocah, beraninya kamu meneriakiku di sini?" Pria botak itu menatap Arsa dengan wajah tidak senang.


"Kalian ini bajingan yang terbuat dari apa sih. Kenapa tidak memiliki belas kasihan sama sekali terhadap keluarga panti asuhan ini. Padahal kalian semua dilahirkan oleh seorang ibu. Menurutmu, mengapa hatimu begitu buruk dan keras?" Arsa berkata dengan suara dingin. Ketika lelaki botak itu mendengar kata-kata Arsa, wajahnya tiba-tiba menjadi gelap.

__ADS_1


"Heh bocah, apakah kamu tahu siapa kami? Beraninya kamu berbicara seperti itu padaku!" Saat pria botak mendengar ini, kemarahan muncul di wajahnya.


"Brengsek! Aku pikir kamu ingin mati ya. Kalian, berikan pelajaran anak ini untuk aku! " Pria botak itu meraung marah. Iya menyuruh anak buahnya untuk memberi Arsa pelajaran.


__ADS_2