Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Membantu


__ADS_3

"Tunggu apa lagi? Kemarilah dan tuangkan anggurnya!" kata Arsa kepada Verara dengan suara dingin.  Vera pun menundukkan kepalanya dan dengan patuh berjalan ke depan untuk menuangkan anggur untuk Arsa Kenandra dan Talita Olivia.


"Kartu Mentaribank Gold VIP!" Gumam Vera dalam hati. Saat itu, Vera secara tidak sengaja melihat kartu ATM mentaribank gold kelas VIP yang diletakkan Arsa di atas meja. Vera pun dengan segera bisa mengenalinya. Tiba-tiba, dia merasa tidak nyaman setelah melihat kartu itu, dia tahu bahwa siapapun yang memiliki kartu seperti itu adalah orang kaya. Akhirnya Vera pun menyadari jika Arsa Kenandra bukanlah orang miskin, tetapi orang yang sangat kaya raya. Vera akhirnya juga menyadari, betapa banyak masalah yang akan dia hadapi setelah ini karena berani menyinggung orang kaya seperti itu. 


"Bagaimana bisa Talita menemukan seorang kekasih yang begitu kaya?" Gumam Vera dalam hati. Dia merasa iri. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Dengan memiliki seorang lelaki kaya yang mendukung Talita, bagaimana mungkin dia bisa bertengkar dan menghina Talita lagi.


Di saat yang bersamaan, Ketika Vera menuangkan anggur ke gelas untuk Talita, Talita tiba-tiba membuka mulutnya dan berkata.


"Vera, aku tidak berharap kamu mengambil posisi manajer dengan mengorbankan tubuhmu sendiri. Apa kamu sangat membutuhkannya? Dan apakah itu layak untuk kamu lakukan. Kamu yang rugi Vera." Talita dulu merasa rendah diri setiap kali berada di dekat Vera. Tapi mulai sekarang, dia tidak merasa seperti itu lagi. Apalagi, setelah apa yang baru saja terjadi, rasa iba di hatinya tiba-tiba muncul. Arsa pun juga berkata.

__ADS_1


"Kamu berani pamer posisi sebagai manajer yang bisa kamu dapatkan hanya karena kamu mengorbankan tubuh kamu. Aku tidak tahu, dari sisi mana kamu berfikir bisa bersikap sombong seperti itu." Kata Arsa yang merasa posisi sebagai manager yang di dapat oleh Vera adalah sebuah hal yang rwndahan. Setelah Vera mendengar kata-kata yangbdi ucapkan Arsa itu, dia benar-benar merasa malu. Dia tidak tahu harus menyembunyikan wajahnya di mana lagi. Ingin rasanya iya di twlah bumi saja. Rasa bangga akan dirinya di depan Talita sudah hancur begitu saja.


"Vera, ini hanyalah hukuman kecil untukmu karwna kesombonganmu. Kasih tahu ibumu nanti saat kamu sudah pulang. Kalau kamu dan ibumu berani menggertak Talita di lain waktu, aku jamin aku akan mengakhiri hidup keluargamu hingga tak tersisa." Arsa menyipitkan matanya. Iya berkata dengan tegas di depan wanita tak tahu diri itu. 


"Baik tuan." Vera pun mengangguk dan menjawab dengan suara yang bergetar. Dirinya sangat mengenal orang-orang yang memiliki kartu VIP gold mentaribank. Vera pun merasa takut, tidak mudah berurusan dengan orang kaya seperti itu. Jadi mulai detik ini, dia tidak akan pernah berani mengejek, menghina dan merendahkan Talita lagi. 


Setelah mereka keluar dari bar, wajah Arsa dan Talita terlihat sedikit memerah. Tak ada satu pun dari mereka yang pernah minum sebanyak ini.  Tapi tadi di bar, mereka berdua minum dan menghabiskan beberapa botol minuman anggur. Dan Talita juga tidak melihat berapa banyak botol minuman yang dihabiskan saat mereka keluar dari bar tersebut. Dia bahkan tidak tahu seberapa mahal dua botol anggur itu. kalau saja Talita tahu, dia tidak akan berani meminumnya. 


"Terima kasih Arsa. Aku snagat senang sekali hari ini." Talita sambil tersenyum manis. Kemudian, Talita berjalan lurus ke depan, berjinjit, dan mencium wajah Arsa secara tiba-tjba. Setelah mencium pipi Arsa, Talita sebagai gadis yang pemalu buru-buru berbalik dan berlari ke dalam rumah. Sedangkan Arsa yang baru saja di cium oleh gadis cantik, hanya biaa mematung. Iya memandang Talita ketika gadis itu masuk ke dalam rumahnya. Selanjutnya, Arsa menyentuh pipi yang baru saja dicium oleh Talita. Arsa bisa merasakan lembutnya bibir Talita. Tatapi ada perasaan yang tak terkatakan di dalam hatinya. Iya pun langsung pulang saat Talita sudah dipastikan masuk ke dalam rumahnya .

__ADS_1


Keesokan harinya.


Arsa tidak pergi ke kampus pagi ini. Tapi dia langsung pergi ke Kendi Group. Dan semua yang terjadi dalam keluarga Talita, Arsa telah mengetahuinya kemarin. Arsa benar-benar ingin membantu sahabatnya itu. Dan rencana Arsa, dia tidak mau memberikan uang itu secara langsung kepada Talita karena gadis itu sudah pasti langsung akan menolak.


Arsa berjalan memasuki pintu gerbang, kedua satpam di depan pintu gerbang itu pun memberi hormat kepada Arsa. 


"Kalian, bersemangatlah dalam bekerja. Selamat pagi." Ucap Arsa sambil menepuk bahu kedua pria itu dan langsung masuk ke perusahaan.  Kedua satpam tersebut begitu heboh dengan dorongan semangat dari Arsa. Padahal mereka hanyalah satpam yang berstatus rendah di perusahaan itu. Dulu saat para eksekutif perusahaan yang berada di perusahaan itu menjabat, mereka sama sekali tidak menatap mata para petugas keamanan.


"Pimpinan kita adalah orang yang baik!" Kata salah satu dari kedua satpam tersebut.

__ADS_1


"Aku akan memberikan Talita uang dengan jumlah yang banyak sebagai bantuan. Dengan cara ini, aku bisa membantu Talita tanpa membiarkan dia tahu kalau terlibat di dalamnya. Karena kalau sampai Talita tahu, dia akan menolak." Kata Arsa bergumam sambil berjalan masuk ke perusahaan. Iya merencanakan semuanya. Arsa pun mengangguk pada dirinya sendiri. Iya tersenyum dengan apa yang baru saja terlintas di dalam benaknya.


__ADS_2