Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Generasi Muda Keluarga Kenandra


__ADS_3

"Adeena, ini benar-benar kamu." Arsa tersenyum padanya. Jika Arsa menyukai seseorang di antara kerabatnya, maka orang itu adalah Adeena. Ketika Arsa tidak mempunyai uang untuk membayar uang sekolahnya, ibunya membawanya untuk meminta bantuan kepada kerabatnya, namun tidak ada yang mau membantu. Hanya Adeena, yang diam-diam menemui Arsa dan ibunya, lalu memberi mereka uang sebanyak 1 juta.


Sudah beberapa tahun berlalu, namun Arsa masih mengingatnya dengan dalam. Uang satu juta mungkin tidak seberapa bagi Adeena, namun bagi Arsa pada saat itu, uang penyelamat itulah yang membantu mereka melewati krisis ekonomi yang hampir saja membuatnya putus asa.


"Adeena, benarkah gelar mastermu itu didapat dari Harvard Business School?" Arsa menatap Adeena.


"Ya." Adeena mengangguk.


"Adeena, kamu benar-benar orang yang paling cerdas di antara yang lain di keluarga ini." kata Arsa sambil tertawa. Universitas Harvard bisa dikatakan sebagai universitas ternama di negara Amerika, dan mahkota mutiara yang menarik perhatian adalah Harvard Business School. Harvard Business School dikenal sebagai "pabrik" yang membina para calon pebisnis, eksekutif, dan General Manager. Lulus dari sana bisa menjamin terbangunnya bisnis terbaik di masa depan. Latihan bisnis yang baru saja di rintis Adeena mendapat dukungan kuat dari keterampilan bisnis yang sudah dia miliki dari universitas legend tersebut.


"Arsa, hanya masalah waktu saja sebelum kamu lulus. Aku akan menunggumu sampai saat itu, dan bagaimana kalau kamu bekerja di perusahaanku? Aku harus memberimu fasilitas yang cukup baik." Adeena tersenyum. Arsa tahu bahwa Adeena melakukan ini untuk membantu dirinya sendiri mengatasi masalah pekerjaannya.


"Adeena, kamu merintis perusahaanmu sendiri? " Arsa terkejut.


"Yah, kakek memberi aku sejumlah uang untuk memulai bisnis, dan sekarang aku sedang mengerjakan proyek sebuah bisnis Online." Kata Adeena.


"Oh ? Produk online apa ? " Arsa penasaran.


"Aku mendirikan sebuah aplikasi belanja online. Aku baru memulai bisnis ini." Kata Adeena.


"Sebuah bisnis "APLIKASI Belanja online?" Arsa memberikan tampilan yang menarik saat mendengar apa yang di katakan oleh Adeena.


"Adeena, di dalam negeri kita ini, sudah ada 2 online shop yang merajai Indonesia. Kedua pasar online raksasa tersebut adalah Shoope dan Lazada kenapa kamu mendirikan bisnis yang sangat mirip. Kalau kamu Ingin merebut user online shop dari kedua perusahaan ini, aku khawatir akan cukup sulit," kata Arsa.

__ADS_1


"Ya, sistem mereka sudah matang dan sempurna. Mereka juga sudah memiliki basis pengguna yang besar, jadi untuk membagi pasar belanja online seperti barang-barang yang mudah busuk, kita harus memperkenalkan model baru. Saya yakin saya punya ide yang lebih matang daripada mereka." Adeena mengatakan itu dengan penuh percaya diri.


"Baiklah, aku mendoakan kesuksesanmu. Aku percaya pada kemampuanmu Adeena." Arsa tersenyum.


"Baiklah.... Aku senang mendengar do'amu." Adeena mengangguk.


"Baiklah, setelah kamu lulus, kamu harus mempertimbangkan untuk bekerja di perusahaanku. Jika kamu mau, maka aku tidak akan pernah kehilanganmu." Adeena juga balas tersenyum.


"Terima kasih, Adeena. Tapi, kamu masih harus menunggu lebih lama lagi sebelum aku lulus." Kata Arsa. Saat itu, ada seseorang yabg mendekati mereka berdua.


"Adeena! " Rey datang dengan senyuman di wajahnya.


"Adeena, kamu adalah seorang wanita yang sibuk, bagaimana kalau kamu jalan-jalan dan menyapa saudara dan saudari kita? Kan kita jarang bisa ngobrol. " kata Rey sambil tertawa.


"Tidak Adeena pergilah kesana dengan Rey saha. Mereka hanya akan memandang rendah aku, jadi aku tidak punya alasan untuk berbicara dengan mereka." Bagaimana Arsa bisa berbicara dan mengobrol dengan Rey dan orang lain yang baru saja mengejeknya?


"Arsa, jika aku ada di sampingmu, siapapun yang berani meremehkanmu, berarti mereka juga meremehkanku." Adeena menyatakan itu.


Rey mau tidak mau menyela obrolan kedua sepupunya itu, "Adeena, dia hanya orang yang sudah dibuang dari keluarga Kenandra. Dia bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa lagi. Hanya akan sia-sia kalau kamu mengajaknya."


Adeena mengangkat alisnya dan menatap ke arah Rey.


"Rey, dia juga sepupumu. Kita semua memiliki darah yang sama, dan aku tidak akan membiarkanmu mengatakan hal seperti itu padanya lagi." jawab Adeena dengan tegas.

__ADS_1


" Baiklah, aku akan tutup mulut." kata Rey. Saat itu juga, seorang pemuda berjalan dari luar pintu.


"Kak Arfan, kamu sudah di sini." sapa Rey. Lelaki yang baru datang itu, tingginya sekitar satu meter delapan puluh centi, dengan tubuh yang tidak terlalu kecil, dan tampak berwibawa, iya mengenakan setelan jas. Dia adalah saudara laki-laki Rey, Arfan Kenandra namanya. Ketika Rey melihat pria itu , dia menyambutnya dengan gembira.


"Wow, Arfan ada di sini! " Terjadi kehebohan di dalam rumah tersebut. Arfan, lulusan MBA dari Universitas Stanford, juga merupakan putra kebanggaan keluarga Kenandra. Dia dan Adeena adalah anak emas yang dikenal di kalangan Kenandra Group. Pendidikan mereka, adalah sesuatu yang harus diperhatikan, tidak hanya oleh sepupu mereka, tapi juga di kota dan seluruh Kota Malang.


Keluarga Kenandra telah menghasilkan dua talenta yang tinggi, dan Aji tidak pernah bangga akan pencapaiannya yang masih di situ saja.


Arfan sekarang menjadi wakil presiden Kenandra Group, dan sejalan dengan tren ini, dia pasti akan menjadi penerus perusahaan tersebut di masa depan. Dalam keluarga seperti Kenandra, penilaian, nilai dan kemampuan anak-anak mereka jelas merupakan hal yang paling penting. Yang kedua adalah melihat kemampuan komunikatif individu, jika tidak ada satupun, berarti semuanya hanya sia-sia saja. Orang-orang menyukai Rey yang suka minum dan bersenang-senang setiap hari. Dia tidak berusaha untuk maju, seperti tipikal orang pemalas, dan sangat bergantung pada orang tuanya yang memberinya uang untuk dibelanjakan dan bermain santai tanpa memintanya melakukan sesuatu, dan orang tuanya hanya memintanya untuk tidak membuat masalah bagi mereka. Rey adalah anak dengan prestasi rata-rata dalam keluarga. Seorang pria kaya generasi kedua yang tidak mau naik ke level di atasnya. Orang pemalas yang sudah merasa puas dengan status kekayaan keluarganya, seorang anak yang tidak mau berusaha untuk mengembangkan kemampuan diri.


Sedangkan orang-orang seperti Adeena dan Arfan adalah para anak emas yang memegang generasi masa depan keluarga Kenandra. Keluarga akan melakukan segala daya upaya mereka untuk melatih mereka menjadi penerus keluarga yang terkenal, menyerahkan kepada mereka tanggung jawab membesarkan keluarga ke tingkat yang lebih tinggi.


Sedangkan bagi Arsa, bahkan jika ia kembali ke keluarga, mendapatkan gelar dari universitas lokal dari Universitas Kota Surabaya, tidak ada gunanya dibandingkan dengan orang-orang seperti Adeena dan Arfan. Kesenjangan di antara mereka tidak bisa dipungkiri.


Arfan masuk dan melihat Arsa. Dia langsung menghampiri Arsa dan yang lain. Arsa telah jauh dari keluarganya selama bertahun-tahun, jadi penampilannya di sana mudah untuk di kenali.


"Kenapa kamu musti ada di sini? " Arfan mengerutkan kening sambil menatap Arsa.


"Ada apa? Tidak bolehkah aku datang?" Arsa tersenyum saat menjawab.


"Tentu saja tidak, kamu sudah memutuskan hubunganmu dengan kami, dan kamu tidak memenuhi syarat untuk datang." Arfan berusaha menenangkan diri dari emosi yang hampir menguasainya.


"Arfan, jangan berkata seperti itu. Arsa memiliki garis keturunan yang sama dengan kita." Adeena menyela. "Adeena, kamu itu lulusan MBA Harvard, dan nilai dari orang ini seharusnya sudah jelas untuk kamu lihat, bukan? Apa untungnya berbicara dengan sampah seperti dia?" Arfan tersenyum acuh tak acuh.

__ADS_1


"Arfan, kamu hanya memikirkan nilai secara fisik! Tapi kamu melupakan yang lain. Di dunia ini, ada kasih sayang juga." kata Adeena. Pada Saat keduanya sedang berdebat, pengurus rumah tangga turun dari lantai atas. Pengurus rumah tangga langsung mendatangi Arsa dan mengatakan sesuatu.


__ADS_2