Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Pemilik Restoran


__ADS_3

Arsa berbalik dan melihat sosok yang dikenalnya. Dia melirik manajer Restaurant. Yang dulu pernah mengejek dan mengancam Arsa saat dia dan Adit makan malam di sana


"Kamu lagi!" Kata manager itu sambil melangkah maju ke arah Arsa dan Adit.


"Bagaimana sih kalian berdua ini, masih berani kembali juga? Sudah kubilang kan, kamu bukan siapa-siapa di sini. Apakah kamu berharap ada orang bodoh lagi yang akan mempercayaimu karena melihat kamu sangat memelas? Aku manajer di sini. Bukan kamu yang bisa seenaknya keluar masuk restoran ini." kata-kata manager itu penuh dengan penghinaan. Wajah Arsa terlinhat santai mendengar itu. Dia sudah sangat kesal saat terakhir kali mereka menginjakkan kaki di restoran itu. Arsa tidak merasa pernah melakukan hal-hal yang merugikan restoran. Tapi Iya terus mendapat masalah seperti saat ini. Dia merasa didiskriminasi dari cara manajer itu berbicara kepadanya dan Adit.


"Permisi... Perhatikan cara kamu berbicara. Apa kamu tahu siapa yang sedang berdiri di sampingku ini? " Adit berteriak pada manajer restoran dengan nada Jengah. Iya Merasa tidak senang dengan apa yang dilakukan oleh manajer sekarang tersebut.


"Aku tahu. Tentu saja Aku tahu siapa dia. Terakhir kali kamu mengatakan kalau dia adalah cucu dari Andi Sudiryo, orang terkaya di Surabaya." Kata manager restoran itu dengan ketus.


"Kamu pikir aku akan percaya kalau dia benar-benar cucu dari tuan Andi Sudiryo?" Kata Manager itu lagi. Beberapa pelayan yang berdiri di samping mereka tidak bisa menahan tawa, mereka menertawakan Arsa dan temannya yang bernama Adit itu.


Sesaat kemudian, manajer restoran itu berbalik dan berkata dengan sangat kejam.

__ADS_1


"Kalian berdua telah berani mempermainkan aku, keluar dari sini sekarang juga!" Teriak manager restoran itu.


"Apa? Memangnya kenapa aku harus pergi? Tempat ini jelas terbuka untuk umum, mengapa kita harus pergi?" kata Adit dengan amarahnya.


"Tentu saja tempat ini terbuka untuk umum. Tapi, kami hanya menyambut tamu terhormat dan orang kaya saja. Bukan orang miskin seperti kamu. Dari mana kamu mendapatkan keberanian untuk datang ke sini dan mengklaim bahwa kamu adalah cucu orang terkaya di kota ini?" kata manager restoran tersebut dengan angkuh. Banyak orang terkejut dengan apa yang baru saja di katakannya.


Pada saat yang sama, salah satu staf yang baru saja menyambut kedatangan Arsa tadi mau tidak mau ikut menyela untuk berbicara.


"Manajer, bagaimanapun juga mereka masih tamu kita. Bukankah seharusnya kita memperlakukan mereka dengan cara yang sama seperti kita memperlakukan orang lain?" Kata pelayan itu dengan berani. Hal itu membuat manajer restoran merasa tersinggung. Dia berpikir kalau sangat tidak sopan bagi salah satu karyawan untuk mendikte apa yang harus dan tidak boleh dia lakukan.


"Aku hanya berpikir sangat tidak etis kalau anda memperlakukan tamu seperti ini." Wanita itu berseru dengan suara pelan.


"Apakah kamu benar-benar berpikir kalau kamu lebih cerdas dari aku?" Manajer itu menanyai pelayan wanita yang sudah berani kepadanya.

__ADS_1


"Jika kamu pikir kamu tahu apa yang benar dan salah, aku pikir kamu harus tahu kalau hal yang benar adalah, kalau kamu meninggalkan tempat ini. Waktu magangmu sudah selesai. Keluar dan bawa kedua temanmu bersamamu!" Teriak Manager hotel itu sambil menunjuk ke luar pintu. Wanita itu pun hanya terdiam. Dia memohon pada manager resto untuk memberinya kesempatan lagi, tetapi manager itu bersikeras dan bahkan tidak mau repot-repot mendengarkannya. Wanita itu mencoba untuk tetap tenang, karena dia tidak akan membiarkan air mata jatuh di depan orang-orang seperti manager itu. Dia memandang ke arah manajer resto dan hanya mengangguk, wanita itu tahu kalau tidak ada gunanya lagi untuk tetap berada di sana.


"Tunggu sebentar!" kata Arsa sambil mengulurkan tangan untuk menghentikan wanita itu.


"Nona, bukan kamu yang harus pergi, tapi dia!" Kata Arsa sambil menatap manajer restoran dengan tatapan tajam.


"Kamu, segera keluar dari tempat ini! Kamu dipecat!" Arsa berteriak keras pada manajer itu.


"Aku? Dipecat? Apa kamu gila? Kamu bukan hanya punya nyali yang besar untuk kembali ke sini, tapi kamu berbicara kepadaku seolah-olah kamu lah yang membayar aku." Kata manajer resto tersebut sambil tertawa jahat.


" Selamat! Sepertinya kamu sudah mengetahuinya. Aku telah membeli Restaurant ini, dan mulai sekarang, kamu harus memanggil aku 'Tuan', karena aku adalah bos baru kamu." Arsa menyeringai dan berkata dengan bangga.


Manajer itu tidak dapat mempercayai apa yang baru saja di dengar dengan telinganya sendiri. Bagi manager tersebut, dirinya hanyalah seorang pekerja miskin tanpa punya mimpi ataupun peluang sekecil apa pun untuk menjalani gaya hidup mewah. Dia berifkir bahwa hidupnya ditakdirkan untuk menjadi seperti itu. Seorang pria yang patuh dan bekerja pada orang lain. Tidak seperti anak muda di depannya ini. Yang telah berkhayal terlalu tinggi.

__ADS_1


"Kamu saja tidak bisa membayar makananmu sendiri. Menurut kamu, siapa yang bisa kamu bodohi? " Manajer restoran itu mencibir, serta beberapa pelayan mulai tertawa lebih keras.


__ADS_2