
"Semua yang dikatakan Tuan Atma sangat benar. Saya adalah Pimpinan Baru Kendi Grub cabang kota Surabaya, dan saya adalah cucu kandung dari tuan Andi Sudiryo." kata Arsa Kenandra. Iya memperkenalkan dirinya dengan tenang. Sesudah Arsa memperkenalkan dirinya, Dia menatap mempelai pria.
"Pertama-tama, saya ucapkan selamat atas pernikahan Anda berdua." kata Arsa dengan nada yang begitu tenang. Terlihat dengan jelas kalau kening mempelai pria berlumuran keringat dingin, dan seluruh tubuhnya gemetar ketakutan. Meskipun Arsa belum marah padanya, dia sudah mengira kalau di saat tadi dirinya masuk ke ruang perjamuan, Edo pasti mengancam akan membereskan Arsa karena sudah berani mengatai nya Babi. Tapi Arsa sama sekali tidak takut akan hal itu.
"Kedua. Aku bilang kamu terlihat seperti babi, apakah kamu baik-baik saja? " Arsa berkata sambil menatap mempelai pria.
"Tidak, tidak! Saya tidak keberatan tuan muda." Mempelai laki-laki tersenyum dan menggelengkan kepalanya menghadap ke Arsa. Setelah itu, mempelai laki-laki berkata dengan cepat,
"Tuan Arsa, tentang tadi, saya..." Belum sempat mempelai lelaki menyelesaikan kalimatnya, Arsa sudah melambaikan tangannya dan memotongnya.
"Kalau kamu mau minta maaf ke aku, maka lebih baik kamu diam saja dan tidak usah minta maaf. Karena percuma, permintaan maafmu tidak akan aku terima, kamu tidak pantas menerima maaf dariku." Usai berbicara, Arsa langsung menatap ke mempelai wanita yang merupakan mantannya itu, Felisa Arnita.
"Arsa, kaa... Kamu ... Kamu memiliki status yang mengerikan sekarang..." Felisa memandang Arsa dengan tatapan kosong. Felisa tidak pernah memimpikan hal seprti ini terjadi sebelumnya. Cinta pertama yang telah dia buang dan campakkan, sekarang statusnya telah mencapai titik tertinggi di wilayah Surabaya. Saat Felisa berpikir untuk menelepon Arsa kemarin, dia masih berniat menyindir dengan kejam. Arsa pasti tidak mampu memberinya hadiah. Namun, melihat kenyataan yang membuat jiwanya menangis, Felisa merasa malu sendiri.
__ADS_1
Tentu saja, dia sangat menyesal, menyesali kalau dia telah kehilangan pria yang luar biasa.
"Kalimat yang sama untuk kamu, selamat. Selamat karena sudah menemukan dan menikah dengan suami yang terlihat seperti babi." Arsa Kenandra menatap Felisa dan berkata dengan tenang.
Setelah itu, Arsa Kenandra berbalik dan berhenti menatap Felisa lagi. Arsa menoleh untuk melihat laki-laki berambut kuning yang bernama Feri dan laki-laki kurus bernama Sensen di meja yang tadi iya tempati.
"Kalian berdua, sudah aku bilang kalau identitasku bisa menakutimu sampai setengah mati, bukankah tadi menurutmu itu lucu? Bukankah kamu baru saja menertawakanku sebelum ini? Sekarang, apa kamu bisa tertawa lagi," kata Arsa Kenandra dengan pelan namun nadanya dingin.
"Kami... Kami..." Kedua laki-laki itu tergagap karena terlalu gugup. Laki-laki kurus dan berambut kuning itu wajahnya pucat dan kaki mereka tidak bisa berhenti gemetar. Bisa dibayangkan betapa takutnya mereka.
"Saya meminta kalian untuk tertawa, apakah Anda tidak mendengarnya?" Suara Arsa tiba-tiba menjadi sangat dingin melebihi tadi.
"Iyaa... Iya tuan Arsa, kami mendengarnya." Kata Feri dan Sensen sambil tertawa. Keduanya mengangguk berulang kali, lalu memaksakan senyum di bibirnya. Keduanya tahu betul kalau dengan status Arsa yang seperti itu, lebih mudah membuat mereka sengsara seumur hidup, layaknya membalikkan telapak tangan. Maka, mendengar apa yang dikatakan Arsa, mereka langsung melakukannya tanpa membantah sedikitpun.
__ADS_1
Dan pada Akhirnya, Arsa mengincar Willy. Iya melirik Willy dengan tatapan tajam yang siap menghunus. Saat ini, dahi Willy sudah dipenuhi keringat dingin sebesar biji jagung. Setelah dia merasakan tatapan Arsa yang begitu tajam, dia hanya merasakan hawa dingin di punggungnya, dan wajahnya semakin menunjukkan ketakutan. Dia memikirkan masa lalu, flashback di saat iya merebut kekasih Arsa di masa SMP. Dia juga memukuli dan mengejek Arsa ketika Arsa mau berbicara baik-baik. Mengejek dan menyindir Arsa di atas meja tadi. Sekarang, dia bisa merasakan di seluruh hati, tubuh, dan jiwanya jatuh ke dalam jurang.
"Willy, aku baru saja memberitahumu, kalau kamu berani memprovokasi aku, kamu akan menanggung akibat yang sangat berat. Tapi sayangnya, kamu tidak percaya." Arsa menggelengkan kepalanya sambil mengatakan itu.
"Tuan Arsa, saya tahu sekarang, saya salah! Tolong maafkan saya! Apa yang saya katakan sebelumnya, saya benar-benar tidak bermaksud untuk apa-apa, tolong maafkan saya! " Willy berlutut di tanah dengan cepat. Dan dia dengan sungguh-sungguh memohon belas kasihan kepada Arsa. Willy juga tahu betul di dalam hatinya, kalau dengan status Arsa yang seperti itu, sangat mudah untuk membunuhnya. Inilah orang yang dulu bisa dia sakiti. Sekarang, dirinya memohon belas kasihan.
"Kamu ingin aku memaafkan kamu? Oh, maaf, saya sangat menyesal telah mengecewakan Anda. Dan sepertinya itu tidak mungkin." jawab Arsa. Setelah terdiam, Arsa melanjutkan.
"Haruskah aku ingatkan kembali bagaimana saat itu aku memohon kepadamu di sekolah menengah pertama? Hari ini, aku hanya menghitung semua kebencian yang telah lama menumpuk. Aku rasa, kebencian itu juga sudah beranak pinak, karena kamu baru saja menambahkannya." kata Arsa dengan penuh amarah. Setelah itu, Arsa menatap tuan Atma di sebelahnya.
"Tuan Atma, tolong lakukan sesuatu untuk aku. Tolong panggil satpam untuk segera masuk ke sini!" kata Arsa meminta tolong.
"Baik tuan muda. Sebuah kehormatan untuk saya bisa melayani Tuan Arsa." Jawab Atma sambil tersenyum, dia senang karena bisa membantu Arsa di saat seperti ini. Ini adalah kesempatan bagus untuk mengambil hati Arsa.
__ADS_1
Willy yang mendengar Arsa meminta tuan Atma untuk memanggil satpam. Sangat bingung dan merasa takut. Tubuhnya gemetar tak terkendali, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.