
'Bruak.' suara benturan keras terdengar. Arsa melihat melalui kaca spion mobilnya. Kaca depan mobil off-road putih di belakangnya ditendang dari dalam mobil hingga hancur. Sesaat kemudian, Hudoyo melompat keluar dari kendaraan tersebut. Sedangkan truk yang tadi mundur, kini kembali menginjak pedal gas dan terus melaju ke tempat Arsa dan Talita berada.
Di saat yang bersamaan, Arsa melihat Hudoyo menghadap ke arah truk secara langsung sambil mengeluarkan pisaunya. Setelah itu, terlihat Hudoyo yang telah selamat dari maut itu bergegas menuju truk.
"Hudoyo biarkan pemilik truk itu hidup. Aku yakin dia hanyalah orang yang di suruh!" Teriak Arsa pada Hudoyo. Hudoyo berlari menuju truk. Tiba-tiba dia melompat dan langsung memecahkan kaca samping serta masuk ke dalam truk. Setelah itu, terdengar decitan rem dengan suara keras. Truk tersebut akhirnya berhenti di samping Lamborghini milik Arsa. Sudah bisa di pastikan, kalau truck itu sekarang di kendalikan oleh pengawal Arsa.
Pada saat itu juga, pintu truk terbuka. Hudoyo langsung menurunkan pemilik truk dan membawanya berjalan menuju ke Arsa. Arsa menarik nafas panjang dan merasa lega setelah melihat pemandangan ini.
"Talita, Talita." kata Arsa memanggil gadis di sampingnya. Pada saat itu juga, dahi Arsa mengeluarkan keringat dingin. Momen yang membuat dirinya syok itu benar-benar merasuki hati dan jiwanya. Arsa memanggil Talita beberapa kali. Karena tak ada reaksi aappun, dia memeriksa nafas dan denyut nadi Talita.
"Dia masih bernafas." gumam Arsa. Dengan cepat, iya pun menghubungi nomor darurat dan polisi.
Setelah Hudoyo sudah mendekat di samping mobil Arsa, dia langsung mengulurkan tangannya untuk menarik pintu Lamborghini dan menariknya dengan keras. Pintu mobil mewah yang saat ini sudah rusak itu ditarik dengan paksa dan langsung jatuh ke tanah.
"Tuan Muda, apakah Anda baik-baik saja?" Hudoyo itu menatap Arsa, yang ada di dalam mobil.
"Aku baik-baik saja." Arsa menyeka keringat di dahinya dan langsung keluar dari mobil. Meskipun ada rasa sakit, tidak ada waktu untuk mengurus dan merasakannya. Di lihatnya Hudoyo. Ada juga darah di dahi lelaki itu.
__ADS_1
"Kamu pasti terluka saat truk itu menabrak mobilmu." kata Arsa.
"Kamu terluka parah? " Arsa bertanya lagi dengan cepat. Dia tahu kalau Hudoyo terluka karena menyelamatkannya. Jika saja Hudoyo tidak mendorong mobil tuan mudanya ke depan, dan kalau sampai truk itu menabrak mobil Arsa lagi. Dia takut Arsa akan mati atau terluka parah. Kemungkinan besar, kalau pun Arsa selamat, dia pasti akan mengalami kecacatan. Hal itu membuat Hudoyo harus berusaha keras melindungi tuan mudanya.
"Anda tidak perlu khawatir Tuan Muda. Saya baik-baik saja. Luka kecil ini tidak layak untuk saya tunjukkan kepada anda." kata Hudoyo dengan tenang. Arsa pun menghela nafas lega setelah mendengar ini.
"Ngomong-ngomong, Hudoyo, apakah kamu tahu cara memberikan pertolongan pertama? Temanku pingsan dan masih ada di dalam mobil." kata Arsa terdengar cemas.
"Saya sudah sering berada di medan perang, dan saya juga mengetahui beberapa pertolongan pertama, saya akan melihatnya terlebih dahulu Tuan Muda. Dan anda urus dia seperti yang Anda inginkan. Saya fikir, anda harus menanganinya sendiri Tuan." Sambil berbicara, Hudoyo menyerahkan pisaunya ke Arsa. Dan pada saat yang sama, iya menyerahkan sopir truk tadi kepadanya.
" Katakan padaku, siapa yang menyuruhmu? Siapa yang menyuruhmu melakukan ini? " Arsa menatap supir truk itu dengan mata dingin. Sedangkan tangannya yang memegang pisau itu didorong sedikit, sehingga leher pengemudi truk itu sedikit berdarah.
"Tidak... Tidak ada yang menyuruh saya. Tidak ada yang menyuruh saya." Pengemudi truk itu menggelengkan kepalanya.
"Kamu dan aku tidak saling mengenal satu sama lain. Dan sekarang kamu mengatakan kalau tidak ada yang menyuruhmu. Apakah kamu pikir aku akan mempercayai semua omong kosongmu itu?" Arsa terus mengintrogasi
Dengan mata merahnya karena geram. Arsa tadi mengatakan kepada Hudoyo untuk tidak membunuh sopir tersebut, karena dia tahu kalau ini pasti pembunuhan yang direncanakan. Dan pengemudi ini hanyalah orang suruhan. Yang diinginkan Arsa adalah mencari tahu melalui orang ini, untuk menemukan siapa pelakunya.
__ADS_1
"Percaya atau tidak, toh saya tidak punya apa-apa untuk di senbunyikan. Ini hanya sebuah kecelakaan mobil biasa." Sopir truk itu benar-benar bersikeras.
"Kecelakaan mobil biasa katamu? Hah... Tahukah kamu kalau ini adalah kecelakaan yang disengaja. Dan kamu tahu akibat dari perbuatanmu ini, akhirnya padaku adalah kematian." kata Arsa pada sopir di depannya dengan mata menyipit.
"Kamu bisa membunuh atau menebas kepalaku sesukamu! Aku tidak punya apa pun yang kamu mau! Aku bukan siapa-siapa dan tidak ada yang menyuruhku melakukan ini padamu!" sopir truk tersenyum menyeringai. Terlihat seperti seseorang yang sangat menyepelekan.
"Bajingan... Sialan!" Arsa yang marah mengepalkan tinjunya ke wajah pengemudi truk itu. Dia tahu, di saat supir truk melontarkan senyum menyeringai, 90% Arsa yakin, berarti dia telah menerima uang tutup mulut dan tidak mungkin baginya untuk menceritakan apa yang ada di balik layar.
Karena tangan pengemudi truk diikat ke belakang, setelah pukulan Arsa melayang, pengemudi truk itu kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah.
"Bajingan kamu. Apa kamu tidak di lahirkan dari rahim wanita." Arsa berkata dengan suara lantang sambil memaki dan menendang supir truk itu dengan kakinya. Dan di saat itu juga, Hudoyo datang.
"Tuan Muda, teman anda hanya pingsan untuk sementara waktu ini. Meskipun ada beberapa luka di tubuhnya, tapi tidak akan mengancam nyawanya." kata Hudoyo. Arsa menghela nafas lega ketika dia mendengar Hudoyo mengatakan ini. Sopir truk itu sudah jelas menjadikan dirinya sasaran. Dan Talita menjadi terlibat padahal dia tidak tahu apa-apa. Kalau saja Talita menderita atau terjadi sesuatu padanya karena kejadian ini. Arsa pasti akan merasa bersalah seumur hidupnya.
"Hudoyo, menurutmu siapa yang menyuruhnya? " Arsa menoleh untuk melihat ke arah Hudoyo.
"Saya yang harusnya menanyakan hal ini kepada tuan muda, siapa yang telah anda sakiti akhir-akhir ini? Kurasa, dialah yang telah memerintahkannya untuk melakukan ini pada tuan muda." Hudoyo berkata dengan tenang.
__ADS_1