
"Tuan Arsa, saya yakin Anda sangat sibuk, jadi Anda tidak perlu repot-repot datang jauh-jauh untuk menemui ibu saya." Kata Talita sambil berdiri. Terlihat gadis itu menggigit bibirnya.
"Talita, apa yang kamu bicarakan? kita ini adalah teman." Kata Arsa dengan senyum yang dipaksakan.
"Arsa, aku... Aku benar-benar tidak tahan denganmu." Talita masih menggigit bibirnya. Arsa bisa melihat kalau hati Talita pasti sangat bergejolak dan tidak nyaman. Arsa melihat seperti apa rupa Talita saat ini. Dia sangat ingin bergegas dan memeluknya. Tapi, ketika Arsa memikirkannya dan Rita, dia menahan diri.
"Tante, aku sangat lega melihat tante baik-baik saja. Saya tidak akan mengganggu Anda lagi." kata Arsa. Ketika Arsa selesai mengucapkan kalimat tersebut, dia berbalik dan langsung pergi. Arsa takut untuk terus berada di sana, karena dia tidak akan mampu menahan emosinya sendiri.
"Talita, cepatlah kejar Arsa, keluar sana kejar dia untuk ibu." Ibu Talita berkata dengan tergesa-gesa, Talita ragu - ragu, tapi setelah itu, dia memilih untuk mengantar Arsa keluar dari kamar tersebut.
"Arsa, tolong, aku hanya merasa kalau terlalu tidak berguna dan tidak pantas untukmu. Tolong, cobalah untuk tidak berbicara atau menyapaku kelak kalau kita bertemu lain waktu. Karena, begitu aku mendengar kamu berbicara kepadaku. Aku... Aku tidak bisa mengendalikan emosiku sendiri." Mata Talita merah, bibirnya sedikit gemetar , dan tangannya mengepal menahan emosi di jiwanya.
Setelah Arsa mendengar Talita berkata demikian, dia berpikir.
" Bukankah sangat memilukan melihat Talita rasa sakitnya seperti ini? " kata Arsa dalam hati. Setelah terdiam lama, Arsa menatap Talita.
"Talita, maafkan aku, aku akan menuruti apa yang kamu katakan! " kata Arsa. Setelah itu, Arsa berbalik dan berjalan langsung keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
Talita melihat punggung Arsa yang semkain menghilang dari pandangan saat lelaki itu pergi. dan air mata mengalir dari matanya tanpa di aadari. Arsa keluar dari rumah sakit.
Tentu saja sangat tidak nyaman berada di kondisi seperti itu. Tapi, Arsa hanya bisa bertahan. Menahan semua rasa yang bergejolak di hatinya karena sudah menyakiti Talita. Sikapnya selama ini seolah-olah memberikan Talita harapan palsu, dan akhirnya iya jatuhkan setelah di ajak terbang di ketinggian yang tak terkira.
Setelah dia keluar dari rumah sakit, Arsa melihat banyak orang berkerumun. Jadi dia pergi ke depan untuk melihat apa yang terjadi. Setelah dia mendekat, Arsa menemukan seorang wanita muda di tengah orang banyak Wanita itu berlutut di tanah dengan secarik kertas di depannya, yang berbunyi,
"Tolong! Anak itu sangat membutuhkan uang untuk operasi, tapi uangnya masih dalam perjalanan. Semoga masih ada orang yang baik hati untuk meminjamkan saya 8 juta Rupiah, Anda dapat menggunakan kartu identitas saya sebagai jaminan." Wanita itu masih sangat muda dan berpakaian sederhana, Tapi, kecantikannya tidak pudar oleh keadaannya yang berpenampilan biasa itu.
Sebagian besar orang-orang di sana hanya melihat saja. Setelah melihat ada kejadian apa di balik hiruk pikuk itu, mereka langsung pergi lagi. Tak ada orang yang mau percaya dan membantunya.
"Jika ada orang yang berbaik hati yang mau membantu saya, uang itu akan segera dikembalikan! Anak itu sedang terbaring tak berdaya di atas meja operasi saat ini. Saya benar-benar terburu-buru. Kalau tidak, nyawa anak itu akan terancam." Wanita itu menatap sekelilingnya dengan mata memohon.
Setelah wanita muda itu mendengar kata-kata lelaki tersebut, iya yang sedang berlutut di tanah langsung mengubah ekspresi wajahnya.
"Diam!" lelaki Botak itu tersenyum dan melanjutkan berkata.
"Kenapa? Apakah uang 8 juta masih sedikit? Melihat kecantikanmu, aku akan menambahkan sedikit lagi. Bagaimana dengan sepuluh juta? Akan sangat berguna kalau kamu mau mengorbankan dirimu untuk anak-anakmu? Bukan kah begitu? Hahaha." kata Lelaki bota itu tak tahu diri.
__ADS_1
"Aku merasa malu karena kamu sangat tidak tahu malu berkata seperti itu di
depan umum," kata Arsa dingin. Terdengar suara dengan nada dingin. Kerumunan orang-orang di sana menoleh ke sumber suara itu dan melihat kalau Arsa yang sedang berbicara.
" Bajingan, jangan berani ikut campur urusan ku." kata lelaki botak itu dengan emosi. Iya langsung berteriak ke arah Arsa, tetapi di tengah kata-katanya, ekspresinya tiba-tiba membeku. Karena lelaki itu melihat kunci Lamborghini di tangan Arsa. Jadi, dia buru-buru tersenyum.
"Anda memang seorang Pria yang tampan, anggap saja saya tidak mengatakan apa-apa! Saya akan pergi sekarang juga!" kata lelaki itu dengan suara sedikit takut. Iya tidak boleh mengganggu orang yang mengendarai Lamborghini.
"Jaga ucapanmu dengan bersikap dan berkata sopan." Arsa menegur lelaki tersebut dengan wibawanya.
"Apa lagi yang bisa kulakukan untukmu, pria tampan? " lelaki botak itu menatap Arsa dengan sedikit ketakutan.
"Minta maaf pada wanita itu! " kata Arsa dengan dingin.
"Yah, saya akan minta maaf." lelaki botak itu mengangguk dan menatap wanita muda yang tadi berlutut di tanah.
"Nona, saya baru saja mengatakan sesuatu yang salah kepada anda. Saya minta maaf. Maafkan saya" kata lelaki itu dengan patuh. Ketika semua orang melihat lelaki yang botak itu, tak seorang pun akan membayangkan kalau dia akan mengikuti apa yang dkkb katakan oleh Arsa.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang pergilah." Arsa melambaikan tangannya ke arah lelaki botak itu. lelaki botak itu pun mengangguk dengan sadar diri, lalu dia buru-buru keluar dari kerumunan.