
"Iya, aku memang mengatakan kalau aku mengendarai Lamborghini daniel, tapi aku tidak merasa menyombongkan diri." kata Arsa setelah mendengar apa yang di katakan oleh mantan teman sekelasnga dulu.
"Lihat aja, semua orang tahu kalau dia sedang membual. Dan dia terus melakukannya dengan sangat percaya diri." Ejek Varo. Nindira memandang Arsa dengan kecewa.
"Semua siswa yang di undang sepertinya sudah datang semua, jadi ayo bersiap-siap untuk duduk." kata Nindira untuk berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Setelah mendengarkan apa yang Nindira katakan, semua orang mulai menuju ke tempat duduk yang sudah di sediakan. Varo menatap langsung ke arah Erika.
"Erika, Apakah kamu mau untuk duduk bersama aku?" Varo mengajak bertanya dan mengajak Erika dengan senyuman di wajahnya.
"Baiklah." Erika tersenyum dan mengangguk. Arsa kaget mendengar Erika mengiyakan ajakan Varo.
"Erika, saat kita SMA, dia sering melecehkanmu, tapi sekarang, kamu setuju dan mau duduk bersamanya? " Arsa mengerutkan kening sambil bertanya. Tapi, Erika malah lebih membela Varo. Dan hal itu adalah hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Arsa.
"Kenapa? Dasar anak miskin, kamu masih mau makan daging yang enak kan? Apakah kamu pikir, kamu layak untuk mendapatkannya? Daging yang enak hanya dimakan oleh orang sepertiku!" kata Erika. Sedangkan Varo memandang Arsa dengan tatapan menantang.
"Dan satu lagi Arsa, ini urusanku. Jangan ikut campur!" Erika mengangkat alisnya saat Arsa mencampuri keputusannya. Dia tampak sedikit tidak senang.
"Kamu dengar itu kan boy? Keluar dari sini! " tegur Varo.
"Apa kamu tidak dengar apa yang dikatakan Varo? Keluar dari sini! Kenapa, kamu malah terlihat sangat menantang? " Roni dan Febrian yang berada di belakang Varo, langsung maju untuk mendorong Arsa menjauh.
__ADS_1
"Hei, menurutku kamu benar-benar ingin mengajak ribut!" kata Roni.
"Aku pastikan Kamu tidak akan sanggup menanggung akibat dari mendorongku. " kata Arsa sambil menatap Roni dan Febrian dengan mata dingin. Roni dan Febrian sepertinya akan datang dan mengalahkan Arsa.
"Erika, ayo pergi." kata Varo. Saat Nindira melihat hal ini, dia buru-buru membuka mulutnya dan berkata.
"Roni, Febrian... Hari ini adalah hari reuni kita sebagai teman sekelas. Seharusnya ini adalah hari yang membahagiakan. Jadi jangan bertengkar dan membuat keributan." kata Nindira.
" Roni dan Febrian, jangan menghajarnya. Demi reuni kelas, aku akan memberinya hal yang membuatnya senang sekali saja hari ini." Varo memerintahkan mereka. Lalu, Varo memandang Arsa dengan jijik dan berkata.
"Arsa, kamu benar-benar pecundang. Kamu seertinya memang ditakdirkan untuk diinjak-injak oleh kakiku seumur hidupmu, mengerti? " Varo berjalan langsung ke area perjamuan bersama Erika sambil tertawa.
Setelah mereka selesai berbicara, mereka buru-buru mengikuti Varo. : 60% L "Kalahkan aku?" Arsa menggelengkan kepalanya dan mencibir. Lalu, Arsa menatap Erika lagi. Arsa dapat bersumpah kalau dialah yang akan membuat mereka sengsara jika berani menyentuhnya. Saat ini, Arsa hanya menganggap Erika sangat aneh.
"Dia bukan Erika yang aku kenal dulu, aku melihat dia sekarang ini seperti Wanita lain yang sangat materialistis!” Arsa menggelengkan kepalanya. Di saat yang bersamaan, Nindira berjalan menghampiri Arsa.
"Arsa, seseorang akan berubah setelah mereka mengalami perubahan di dalam hidup. Jadi jangan heran." kata Nindira.
"Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu juga berubah? " tanya Arsa sambil menatap Nindira.
__ADS_1
"Aku sudah berubah sedikit, tapi hati saya tidak berubah sama sekali." Kata Nindira. Setelah terdiam beberapa saat, Nindira tersenyum pada teman lamanya itu.
"Apakah kamu juga tidak berubah? Meskipun kamu tidak mencolok di waktu SMA dulu, kamu adalah anak laki-laki yang teguh dan pantang menyerah dengan karakter moral yang tinggi. Jadi, aku tidak berharap kamu belajar untuk menyombongkan diri sekarang." Arsa tersenyum tanpa penjelasan lebih lanjut. Apakah dia sedang menyombongkan diri atau tidak, tidak peduli bagaimana dia mencoba menjelaskannya, semuanya akan menjadi pucat dan tidak berdaya saat tahu siapa Arsa yang sebenarnya.
"Baiklah... Sekarang silakan duduk." kata Nindira. Arsa akan membuat Nindira, Varo, Erika, dan yang lainnya mengerti di saat yang sudah tepat nanti!
Para mantan siswa itu sedang duduk di tempat hidangan berada saat ini, dan mereka. pada dasarnya duduk bersama orang yang mereka kenal baik di sekolah menengah. Istilahnya, duduk bersama para sahabat dan orang-orang terakrabnya.
Setelah Arsa datang ke area perjamuan, sebuah suara terdengar.
"Arsa, kemarilah dan duduklah di sini! " kata seseorang. Arsa melihat bahwa orang yang berbicara itu adalah teman sekelasnya di SMA, Riki Ferdian.
"Riki, kamu juga ada di sini! " Arsa menghampiri teman sekelasnya semasa SMA itu sambil tersenyum. Riki dan Arsa adalah teman di waktu SMA juga. Lalu, Arsa pun melangkah dan duduk di sebelah Riki.
"Riki, aku sudah lama tidak mendengar kabar darimu. Apa yang kamu lakukan sekarang? " tanya Arsa
"Nah, apa lagi yang bisa aku lakukan? Setelah lulus SMA, aku mengikuti jejak ayah membuat warung jajanan tengah malam. Meski sedikit pahit, setidaknya aku juga bisa menghasilkan uang." kata Riki. Arsa tahu kalau di rumah Riki ada kedai snack tengah malam.
" Bagaimana dengan kamu sendiri Arsa? Apakah kamu masih belajar di Universitas Kota Surabaya?Dan, kenapa kamu tidak bersama pacarmu si Mila itu? tanya Riki.
__ADS_1