Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Setelah Keterkejutan


__ADS_3

"Kalau maksudmu kesalahpahaman itu antara aku dan adikmu, jangan khawatir, aku tidak akan memikirkan adikmu." Wajah Bima tampak malu ketika mendengar kata-kata itu.


Bima Adesta berpikir bahwa saat Arsa Kenandra datang ke rumahnya pada malam itu, dia harus memperingatkan Arsa Kenandra. Iya merasa kalau Arsa Kenandra tidak cukup baik untuk kakaknya dan menyuruh Arsa Kenandra untuk tidak memikirkan kakaknya. Lalu, bagaimana seandainya jika saat itu dia tahu kalau Arsa Kenandra adalah cucu kandung Andi Sudiryo saat itu? Jika dia tahu saat itu, jangankan untuk memperingatkan Arsa Kenandra, dia pasti akan mencoba yang terbaik untuk menjodohkan kakaknya dan Arsa Kenandra!


"Tuan Arsa, saya tidak bermaksud begitu. Jika Anda tertarik pada kakak saya, saya setuju dengan Anda sekarang! " Bima Adesta tertawa paksa.


"Bima Adesta, aku sungguh tidak bermaksud seperti itu pada kakakmu, oke ? " Arsa Kenandra berkata dengan sangat serius. Ketika Arsa Kenandra selesai mengatakan itu, dia melanjutkan. Jika dia mempunyai kesepakatan yang berbeda, dia bisa mengatakan lebih dari satu kata. kesepakatan Arsa Kenandra dan Bima Adesta. Mereka sama-sama tidak setuju. Arsa Kenandra tahu bahwa Bima Adesta telah memperingatkan dirinya sendiri untuk menjauh dari saudara perempuannya pada malam itu karena dia memandang rendah Arsa Kenandra sebagai petugas kebersihan. Dan kini, dia pun mengatakan bahwa dia setuju dengan keduanya karena dia mengetahui identitas Arsa Kenandra. Semuanya, hanya karena identitas yang berbeda.


Arsa Kenandra pindah dan mendatangi Desita Mayasari.


"Desita Mayasari" Arsa Kenandra menawarkan diri untuk menyambutnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Arsa, kamu. Aku tidak menyangka kamu adalah cucu dari Tuan Andi Sudiryo." Kejutan di mata Desita Mayasari belum juga hilang. Bagi keluarga miskin seperti Desita Mayasari, bahkan orang terkaya di suatu daerah pun merupakan orang yang sangat berpengaruh di mata mereka. Dan Arsa Kenandra, adalah cucu orang terkaya di itu. Suatu pencapaian besar, Desita Mayasari tidak pernah bermimpi untuk bertemu, apalagi bekerja sama.


"Aku berpura-pura menjadi petugas kebersihan agar bisa masuk ke perusahaan untuk mengumpulkan bukti. Aku telah menjadi petugas kebersihan selama dua hari ini, dan aku harus berterima kasih kepada kamu karena telah banyak membantu aku," kata Arsa Kenandra sambil tersenyum. Ketika Arsa Kenandra di marahi habis-habisan oleh Aprian Arlando dan Ade Jefei beberapa kali, Desita Mayasari maju untuk membantu Arsa Kenandra. Dan Desita Mayasari juga membantu Arsa Kenandra kapan saja selama bekerja. Hal Ini akan Arsa Kenandra ingat selalu.


"Arsa, dibandingkan dengan apa yang kamu lakukan untuk membantu aku. Aku hanya melakukan sesuatu yang mudah. ​​Kamu sudah meminjamkan uang padaku, dan aku akan mengembalikan uang itu sesegera mungkin!" Desita Mayasari memandang Arsa Kenandra dengan hati-hati.


"Masih bicara padaku tentang uang, apakah kamu masih berpikir akulah yang membutuhkan lima juta rupiah itu? " Arsa Kenandra tersenyum. Setelah jeda, Arsa Kenandra melanjutkan.


"Desita Mayasari, aku memutuskan untuk mempromosikan kamu menjadi direktur eksekutif perusahaan!"


"Tidak masalah jika kamu belum mengerti. Aku akan meminta seseorang mengajarimu. Apakah kamu ingin menjadi tukang bersih-bersih selamanya? Tidakkah kamu ingin menjadikan dirimu lebih kuat? Tidakkah kamu ingin mendapatkan lebih banyak uang dan memberi kehidupan pada keluargamu yang lebih baik?" kata Arsa kenandra.

__ADS_1


"Aku ingin!" Desita Mayasari mengangguk keras. Keluarga Desita Mayasari kekurangan uang, jadi jika ia menjadi seperti yang Arsa katakan, tentu saja gajinya akan jauh lebih tinggi daripada gaji seorang petugas kebersihan. Dan Desita Mayasari ingin menjadi orang kuat dan terpandang di hatinya. Siapa yang tidak ingin menjadi lebih baik?


Berdiri tak jauh dari situ, Bima Adesta tentu saja senang mendengar Arsa Kenandra telah menunjuk kakaknya sebagai direktur, Bima Adesta.


"Benar." Arsa Kenandra tersenyum dan mengangguk.


"Arsa, aku tak tahu bagaimana harus berterima kasih kepadamu." Desita Mayasari menggenggam tangannya sendiri dengan erat.


"Ingat, lakukan pekerjaan dengan baik. Melakukan pekerjaanmu demi perusahaan adalah hadiah terbesar bagiku!" Arsa Kenandra berkata dengan serius.


"Saya pasti akan melakukan pekerjaan dengan baik! " Desita Mayasari mengangguk dengan keras, dan pada saat yang sama dia bersumpah diam-diam di dalam hatinya bahwa dia akan melakukan pekerjaan dengan baik dan membayar kembali hutangnya kepada Arsa Kenandra.

__ADS_1


Setelah menghampiri Desita Mayasari, Arsa Kenandra akhirnya menghampiri Resita Damayanti.


"Resita." Arsa Kenandra menyeringai pada Resita Damayanti.


__ADS_2