
Sebelumnya, Talita selalu berpikir kalau dia cukup beruntung mendapatkan bantuan dari Kendi Grub berkali-kali. Dia dulu berpikir kalau dirinya terlalu beruntung. Dia juga berpikir kalau setelah lulus dari kuliah nanti, dia harus bekerja di Kendi untuk membalas semua kebaikannya. Tapi, sekarang setelah dia telah mengetahui kalau Arsa adalah pimpinan Kendi Grub, dia berpikir kalau semua itu ada hubungannya dengan Arsa.
"Iya, aku yang mengatur semua ini. Tapi aku tidak ingin kamu terintimidasi oleh indentitasku, jadi aku sengaja menyembunyikannya. Jadi, kamu tidak bisa menyalahkan aku." Arsa tersenyum.
"Itu... Semua ternyata rencana kamu." Talita menatap Arsa dengan pandangan rumit.
"Aku benar-benar tidak menyangka kamu akan membantu aku dengan semua ini. Aku ngga tahu harus berkata apa. Awalnya aku berfikir, bagaimana aku bisa seberuntung itu karena Kendi Grub membantu aku berulang kali." lanjut Talita. Dan ternyata, Arsa lah yang telah membantunya selama ini. Ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan di hati Talita. Karena masih ada seorang cowok yang bersedia membantunya secara diam-diam, seperti yang dilakukan Arsa padanya.
"Arsa, kamu membantuku seperti ini dan aku... Aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih atau bagaimana caranya aku membalasmu." Talita menggigit bibirnya. Talita tahu Arsa melakukan ini atas inisiatifnya sendiri. Dan betapa penting bantuan itu baginya. Saat ini juga, dia sudah tahu kalau yang dermawan bukanlah Kendi Grub, tapi Arsa.
"Tidak apa-apa, itu bukan masalah besar. Kita kan berteman." Arsa tersenyum.
" Teman? Apakah kita... Hanya teman? " Talita menggigit bibir merahnya, terlihat sedikit kecewa dengan apa yang baru saja dia dengar dari lelaki di depannya.
Setelah itu, Talita dengan cepat menatap Arsa dan berkata lagi.
"Kamu adalah pimpinan Kendi Grub dan cucu orang terkaya. Aku hanyalah seorang anak yang berasal dari keluarga miskin. Aku juga tidak akan berani membayangkan bersamamu di masa depan." kata Talita dengan gugup.
" Kenapa kamu berpikir seperti itu? Apakah kamu pikir aku akan bersikap lain kepadamu? Kita akan tetap berteman di masa depan, ayolah, jangan berfikir macam-macam." kata Arsa sambil tersenyum. Arsa tidak memberi tahu Talita sebelumnya karena dia takut Talita akan mengalami tekanan mental. Arsa tidak punya pilihan lain saat ini kecuali mengatakan yang sebenarnya, kalau dia adalah pimpinan Kendi Grub. Namun, Talita diam-diam memutuskan kalau dia akan membalas kebaikan Arsa kelak.
__ADS_1
Dan di saat itu pula, ponsel Arsa berdering. Dia mengeluarkannya dari sakunya dan melihat siapa peneleponnya. Ternyata dari Rita Maharani.
"Kenapa dia meneleponku? " Arsa menatap ponselnya dengan bingung. Setelah memikirkannya, dia menggegeser layar dan menjawab panggilan tersebut.
"Hei, Arsa! Gebetanmu benar-benar luar biasa. Kamu itu, sebenarnya hanya menyewa Lamborghini untuk memberi kesan kalau kamu adalah orang kaya kan? Video kamu benar-benar menggila di kampus." Suara Rita terdengar di seberang ponsel Arsa.
"Rita, aku ngga nyangka kalau kamu masih sangat peduli dengan kehidupanku? Kamu bahkan meneleponku secara khusus untuk membicarakan hal itu." Kata Arsa dingin.
"Siapa yang peduli dengan kehidupanmu? Aku meneleponmu karena ada yang ingin kutanyakan padamu. Apakah kamu sedang senggang malam ini?" tanya Rita.
"Apa? Kamu mau pacaran sungguhan sama aku?" balas Arsa.
"Berpura-pura lagi? Apa kamu gila? Aku tidak berhutang sesuatu padamu." Arsa terdiam ketika mendengar apa yang di katakn oleh Rita.
"Oke, aku tutup teleponnya, aku tidak ada waktu senggang." Arsa mengatakan itu dan hendak menutup panggilan dari Rita.
"Hei hei hei, jangan ditutup dulu! " Rita di ujung sana menghentakkan kakinya dengan cemas karena Arsa benar-benar dingin.
"Ada apa sih sama kamu ini? Cowok-cowok lain di kampus saja bermimpi di hubungi oleh aku. Tapi kamu malah ingin menutup teleponku!" Suara marah Rita terdengar dari seberang telepon.
__ADS_1
"Cowok-cowok di kampus ya mereka, sedangkan aku adalah aku," kata Arsa dengan tenang.
"Aku mohon jangan tutup teleponnya. Tidak bisakah kamu membiarkan aku selesai bicara dulu?" Suara kecil Rita terdengar di telepon.
"Oke, demi kamu yang memohon padaku, aku akan memberimu kesempatan untuk berbicara," kata Arsa dengan enteng.
"Papaku bersikeras untuk mengundangmu kerumah. Dia bilang kalau aku bisa mengajakmu pulang untuk makan malam, dia tidak akan memperkenalkanku kepada putra orang kaya lagi setelah itu. Jadi, kamu berpura-puralah menjadi pacarku sekali ini saja. Sama seperti aku mohon pada kamu barusan. Setelah itu, kamu cukup menyebutkan hadiah apa yang kamu inginkan." kata Rita dengan memohon.
"Dia benar- benar memohon." gumam Arsa dalam hati. Iya pun berpikir sejenak.
"Aku tidak butuh hadiah apapun sebagai bayaran. Tapi aku akan mengatakannya terlebih dahulu. Ini akan menjadi bantuanku yang terakhir kalinya." kata Arsa.
"Baik, aku berjanji ini yang terakhir kalinya! Pukul sembilan malam nanti, datanglah ke rumahku. Kamu harus berada di rumahku tepat waktu." Suara Rita di ujung telepon terdengar senang. Mendengar Arsa yang setuju, iya langsung tersenyum bahagia.
"Iya." Arsa mengangguk dengan ponsel masih menempel di telinganya.
Setelah menutup telepon, Talita yang penasaran pun bertanya pada Arsa.
"Arsa... Panggilan dari Rita lagi? "
__ADS_1
" Kamu... Hmmm... Apa hubunganmu dengannya? " Talita menunduk, merasa sedikit kecewa.