
"Sialan, Adesta Maheswara itu terlalu baik dalam bermain. Aku khawatir kita akan kalah hari ini. Aku khawatir kita akan kehilangan kehormatan di hadapan para siswa itu." kata Adit dengan jengkel.
"Ndut, seingat ku, Sekolah Kejuruan Kota Surabaya dulu pernah memainkan pertandingan persahabatan bola basket dengan tim kampus kita, dan mereka tidak bisa mengalahkan kampus kita. Apa yang terjadi hari ini dengan tim kita? " tanya Arsa Kenandra.
"Arsa, kapten tim lawan, si Adesta itu adalah pendatang baru di SMK Surabaya. Orang itu terlalu agresif. Kita kalah karena dia terlalu pintar. Selain itu, ada beberapa wajah baru di tim mereka." Kata Adit. Setelah terdiam beberapa saat, Adit pun menggertakkan deretan giginya karena emosi.
"Selain itu, Adesta juga terlalu sombong. Setiap kali dia berhasil memasukkan bola ke dalam ring, dia mengacungkan jari tengahnya dan ekspresi di wajahnya penuh dengan penghinaan terhadap tim kami." kata Adit terdengar tidak suka dengan sikap anak SMK yang menjadi kapten basket SMK Surabaya.
Arsa pun mengangguk, iya mengerti apa yang di maksud oleh Adit.
"Aku juga melihatnya. Meskipun anak ini memiliki kekuatan dan keterampilan dalam bermain bola basket, dia terlalu sombong dan berani menantang. Jika dia memupuk sikapnya yang seperti ini. Maka dia akan menemui takdir tidak akan mencapai apa pun di masa depan." kata Arsa.
Dalam perbincangan antara Arsa dan Adit, pertandingan babak kedua terlihat akan segera dimulai. Tidak ada ketegangan dalam pertarungan antara kedua belah pihak. Permainan itu benar-benar akan terjadi beberapa saat lagi.
__ADS_1
Setelah babak kedua, skor total akhirnya ditetapkan menjadi 78-18. Skor itu benar-benar memalukan bagi Universitas Surabaya.
Usai pertandingan, penonton terdiam. Semua anggota tim Universitas Kota Surabaya menundukkan kepala. Ada hampir seribu penonton yang datang untuk menonton pertandingan dan mereka semua membeku di tempat.
Adesta, kapten SMK Kota Surabaya, memegang bola dengan satu tangan dan berkata sambil tersenyum,
"Aku tidak hanya menargetkan salah satu pemain dari tim universitas. Tapi aku juga ingin mengatakan, bahwa semua mahasiswa universitas ini, yang hadir semuanya tidak ada apa-apanya, terlalu lemah." Para pemain tim SMK di belakang Adesta, semua tertawa dan wajah mereka penuh kemenangan. Tawa kemenangan mereka terdengar ke seluruh lapangan basket. Tim basket SMK Surabaya datang untuk menantang bertanding hari itu, dan mereka meraih sukses besar.
Para mahasiswa Universitas Surabaya yang menjadi penonton mengepalkan tangan dan sangat marah. Ini bukan hanya penghinaan bagi tim bola basket, hal itu juga merupakan aib bagi seluruh Universitas. Saat itu, Adesta tersenyum penuh bangga.
"Kamu juga!" Adesta menunjuk ke arah Adit. dan berkata,
"Hal itu termasuk pemain yang baru saja diganti"
__ADS_1
Para pemain dari Universitas Surabaya memelototi Adesta. Semuanya tampak marah. Adit pun berdiri dengan marah dan langsung menghampiri Adesta.
"Adesta, jika kamu ingin mempermalukan kami, bermimpilah! " Adit langsung mengangkat tinjunya, ingin melayangkan ke Adesta. Dia tampak seperti akan memukul Adesta.
"Apakah kamu ingin memukul aku? Jangan berpikir kalau karena ini adalah wilayahmu, aku akan takut padamu. Aku beritahu kamu ya. Kalau ada orang-orang kami di kerumunan para penonton yang merekam kejadian ini. Kamu tunggu saja sampai saatnya tiba, video kamu yang sedang memukuliku akan menyebar kepada orang lain. Mereka akan berpikir, karena kamu kalah, kamu memukuli seseorang hanya untuk membalas dendam. Pikirkan betapa memalukannya itu! "kata Adesta dengan bangga. Para pemain di belakang Adesta juga berkata,
"Benar sekali! Apakah kamu selalu memukul seseorang jika kamu kalah? Apakah ini yang menjadi keahlian timmu?" kata seseorang dari tim SMK Surabaya.
"Ndut, seseorang diam-diam mengambil video. Jangan lakukan itu!" salah satu anggota tim Universitas menghentikan Adit dengan cepat. Arsa juga berjalan ke arah mereka saat itu.
"Wow! Bukankah itu pria tampan yang mengendarai Lamborghini? Itu dia! Dia juga menonton pertandingan!" teriak salah satu mahasiswa yang menonton pertandingan.
"Ya! Itu dia, aku dengar namanya Arsa!" sahut yang tadi. Setelah Arsa masuk ke lapangan, banyak Mahasiswa universitas Surabaya yang menjadi penonton mengenalinya.
__ADS_1
"Identitas dan latar belakangnya pasti sangat kaya. Apakah dia akan membela tim basket kampus kita." suara itu terdengar begitu mengelu-elukan.
"Apa yang terjadi hari ini benar-benar membuat frustrasi. Jika dia bisa berdiri di sana untuk kita, itu akan sangat bagus." Para mahasiswa yang menonton pertandingan mengharapkan Arsa berdiri untuk kampus mereka.