
Kira-kira sepuluh menit kemudian, kedua tim pertandingan sore ini sudah siap. Sore ini, ada permainan intra tim dari tim bola basket kampus yang dibagi menjadi dua kelompok. Meskipun Adit berada di tim basket kampus, dia bukanlah pemain yang sangat handal. Permainannya tidak begitu baik, tapi dia juga tidak buruk. Lumayanlah.
Tim A memimpin dengan tim B. Permainan hari ini menarik lebih dari seratus mahasiswa datang untuk menonton pertandingan tersebut. Tapi, ketika permainan sudah setengah jalan, lebih dari 13 pemuda berseragam masuk ke lapangan.
"Sekolah Menengah Kejuruan Kota Surabaya" tertulis di baju yang di kenakan oleh para pemuda tersebut.
"Bukankah ini tim basket SMK Kota Surabaya? Bagaimana mereka bisa datang ke kampus kita?" Para penonton yang menyaksikan pertandingan itu semua mulai berbicara. Arsa juga tampak agak bingung.
"Hei, apa yang kalian lakukan?" Adit dan yang lainnya, semua menghentikan permainan karena melihat rombongan siswa dari Sekolah Menengah Kejuruan Surabaya datang. Kapten timnya saja, tingginya hampir 1,9 meter.
"Saya Adesta Maheswara dari SMK Kota Surabaya, kapten tim bola basket SMK Surabaya."
"Saya mendengar Kalau tim bola basket Universitas Surabaya sangat bagus. Hari ini, tim khusus dari kita hadir untuk menantang Anda." kata Adesta dengan penuh percaya diri.
"Bagaimana anak ini berani mengajukan tantangan? Mereka ada di sini sudah jelas bermaksud untuk menguasai lapangan." gumam salah satu mahasiswa yang menjadi Kapten basket Universitas Surabaya.
"Kalian tidak berani bertarung kan?" kata Adesta.
Beberapa pemain basket profesional Universitas Surabaya semua tersenyum mendengar perkataan Adesta. Ketika semua Tim Universitas mendengar perkataan anak SMK itu, mereka dengan cepat berdiri.
__ADS_1
"Apa menurutmu kami takut padamu? " sahut kapten basket Universitas.
"Kami sudah terbiasa bermain dengan profesional. Sebagai tim basket SMK kota Surabaya, kami menantang kalian semua untuk bertanding hari ini." kata Adesta lagi.
"Dan tim basket Universitas Surabaya tidak akan pernah mundur sebelum bertanding." jawab kapten basket Kampus.
"Iya! Kamu berani menantang kami, di saat kalian sendiri, bahkan tidak melihat apakah kamu memiliki kemampuan yang cukup! Kenapa kita tidak berani menerima tantanganmu? " sahut salah satu tim Universitas.
"Lawan mereka... Lawan mereka ! " Teriak semua mahasiswa Universitas Surabaya yang menonton pertandingan itu. Dan akhirnya, setelah persetujuan dari kedua belah pihak, pertandingan pun akan di mulai.
Di lapangan.
"Permainan yang kita lakukan terasa membosankan karena lawannya adalah teman sendiri. Ayo buat tim yang akan kalah berteriak tiga kali. Kalau mereka tidak ada apa-apanya dengan kita. Apakah kamu siap menghadapi pertandingan ini?" kata Adesta dengan garang.
"Kamu ..." Adit dan yang lainnya mengubah ekspresi wajah mereka, karena mereka tidak menyangka anak-anak dari SMK itu begitu kejam dalam berfikir.
"Oh, segitu saja kemampuan kalian." Ketika Adesta melihat ini, dia menoleh ke para pemain di belakangnya sambil tersenyum.
"Teman-teman, lihatlah! Universitas Kota Surabaya takut dan tidak berani melawan kita. Sudah bisa di pastikan kalau kita menang." kata Adesta kembali. Para anggota tim basket dari SMK Surabaya semuanya bersemangat dan berteriak seolah-olah kemenangan sudah berpihak kepadanya.
__ADS_1
"Baik... Kami menerima tantangan dari kalian." kata kapten basket Universitas.
"Siapa bilang kami takut? Kami akan menerima tantangan dari kalian!" Adit pun berdiri dengan sedikit emosi atas tantangan bocah SMK itu dan berkata dengan suara lantang. Anggota tim dari universitas Surabaya juga berkata serempak. Bagaimana mungkin mereka bisa diam saja mendengar ejekan seperti itu?
"Oke, ayo kita mulai! Aku akan mengajarimu bagaimana menjadi pria terhormat di Universitas Kota Surabaya." Kata Adesta dengan Senyum yang menantang. Setelah itu, pertandingan antara kedua belah pihak dimulai.
"Universitas Surabaya, ayo!" teriak sang kapten. Di pertandingan ini, Adit juga diikutkan untuk bermain. Dia menjabat sebagai Center.
"Universitas Surabaya, ayo semangat." Seluruh penonton siswa bersorak untuk tim bola basket Universitas Kota Surabaya. Setelah itu, berita Kalau SMK Surabaya menantang Tim Basket Universitas Surabaya diluncurkan, banyak mahasiswa yang datang untuk menonton pertandingan. Semakin lama, semakin banyak mahasiswa yang menonton pertandingan. Pertandingan ini tentang kehormatan Kampus. Orang-orang yang menjadi pemain di lapangan juga bergerak dengan penuh energi. Meskipun Arsa tidak suka menonton pertandingan bola basket, karena dia mendukung sahabat yang sudah seperti saudara laki-lakinya itu, iya masih stay di sana. Apalagi, ada tim dari luar Kampus yang menantang tim intra Universitas. Sebagai anggota universitas Surabaya, Arsa tentunya berharap kampusnya memenangkan pertandingan ini.
Lawan sepertinya sudah siap. Setelah permainan dimulai, serangannya sangat sengit antara mereka terjadi. Masih-masing tim berusaha membobol pertahanan dan mencetak gol secara berurutan. Dalam waktu empat menit, skor mencapai 13:2. SMK Surabaya jauh berada di depan. Dan dengan berlalunya waktu, jarak skor antar kedua tim benar-benar semakin jauh. Setiap kali tim Sekolah Menengah Kejuruan itu mencetak gol, para pemainnya berteriak kegirangan, dan mereka bahkan berekspresi untuk mengejek orang-orang dari tim Universitas.
Setelah babak pertama skor sudah mencapai 44 : 8. Permainan itu benar-benar berat sepihak. Sekolah Menengah Kejuruan Kota Surabaya memperainkan Universitas Kota Surabaya, seolah-olah sedang bermain dengan siswa sekolah dasar.
Terutama Adesta, kapten tim lawan, sangat sombong dan agresif, jadi sebagian besar poin tercetak karena kegesitannya dalam bermain.
Para mahasiswa Universitas Surabaya yang menjadi penonton benar-benar tercengang. Dengan skor seperti itu, apakah mereka masih bisa bersorak? Bahkan Arsa berkeringat menyaksikan sahabatnya.
Di babak kedua, universitas Surabaya melakukan pergantian tim secara besar-besaran, bahkan Adit pun juga diganti. Adit yang baru saja berhenti bermain duduk di sebelah Arsa dan berkata dengan marah.
__ADS_1
"Sialan, Adesta Maheswara itu terlalu baik dalam bermain. Aku khawatir kita akan kalah hari ini. Aku khawatir kita akan kehilangan kehormatan di hadapan para siswa itu." kata Adit dengan jengkel.