Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Penyerangan


__ADS_3

"Wasis Adiguna adalah orang yang kejam, dan balas dendamnya pasti akan sangat tudak manusiawi. Dia pasti akan membalas perbuatan kita kemarin. Tuan Arsa, Anda harus berhati-hati setelah ini." Fendi berkata dan tampak serius.


"Jangan khawatir, akan ada orang yang selalu melindungiku jika sewaktu-waktu Wasis mengancam keselamatanku." kata Arsa sambil tersenyum.


"Oh iya, kamu tadi bilang kalau kamu ingin menyampaikan sesuatu yang penting sama aku, Apa itu? " Arsa mendongak dan menatap Fendi sambil bertanya.


"Minggu depan akan ada acara pelelangan. Acara pelelangan tanah yang mungkin akan sangat menarik untuk kemajuan perusahaan." kata Fendi.


"Ada beberapa tempat yang kelihatannya sangat bagus untuk prospek kita ke depannya."


"Tuan muda harus menghadiri acara pelelangan itu. Anda harus bisa mendapatkan semua hal penting yang ada di pelelangan tersebut. Ini semua ada kaitannya dengan rencana perusahaan tahun depan." Fendi menjelaskan kenapa Arsa harus datang ke ke pelelangan tersebut. Bisnis utama Kendi Group adalah mencakup bisnis Real Estate. Mendapatkan tanah yang strategis tentu saja sangat berperan penting dalam jalan nya bisnis ini.


"Kalau tuan muda bisa mendapatkan tanah yang sesuai dengan kriteria kendi grup, kita bisa membangun Real Estate impian banyak orang. Karena menurut penelitian, tempat-tempat tersebut sangat diminati oleh pembeli." Fendi pun mengatakan kepada Arsa.

__ADS_1


"Minggu depan? Oke aku ngerti." Arsa mengangguk.


"Dan juga Tuan Arsa, selama lelang, Kejora Grup pasti juga akan ikut untuk mendapatkan tanah itu, mereka pasti akan terus melawan kita, jadi Anda harus bersiap untuk hal itu, kejora pasti akan melakukan cara apapun untuk memenangkan pelelangan." kata Fendi.


"Melawan kita? Aku akan menunggu apa yang bisa dia lakukan!" Arsa tersenyum dingin. Pelelangan bisa di menangkan dengan harga tertinggi, sedangkan Arsa Kenandra adalah cucu orang terkaya di Indonesia, jadi dia tidak takut sekalipun kepada Wasis.


"Aku harus ke kampus." Kata Arsa sambil berdiri dari duduknya. Iya berjalan ke luar ruangan.


"Baik tuan muda, silahkan dan berhati-hatilah." Kata Fendi dengan mengangguk.


"Siapa kalian?" Arsa bertanya dengan rasa waspada. Sudah terlihat dengan jelas kalau orang-orang yang saat ini di depannya itu memiliki niat buruk terhadap dirinya.


"Halo boy, tentu saja kami ada di sini ingin bersenang-senang denganmu. Karena kita diminta oleh seseorang yang menginginkanmu mati. Dan kamu harus mendengar ini, Tuan Wasis memintaku untuk menyampaikan kepadamu. Dia tidak punya pilihan lagi selain membunuhmu karena kamu sudah berani kepadanya." Pria bertubuh besar itu mempunyai wajah yang sangat mengerikan. Ketika laki-laki itu selesai berbicara, dia langsung menghunuskankan pisau di tangannya untuk menikam dada Arsa. Jika sampai pisau itu menusuk jantung Arsa, dokter terhebat di dunia pun tak akan bisa menyelamatkannya.

__ADS_1


"Oh tidak, Tuan muda dalam bahaya." gumam Hudoyo saat bahaya menghampiri tuannya.


Di saat itu juga, Arsa tiba-tiba mendengar hembusan angin di telinganya. Selanjutnya, lelaki berbadan besar yang mencoba menusuk Arsa tadi terjatuh di depannya.


"Apa tadi? Siapa yang melakukan? " Gumam Arsa. Iya menatap tajam ke arah lelaki yang ambruk itu, ada sebuah pisau yang di genggamnya telah terlepas, dan satu lagi pisau yang kini sudah tertancam di punggung lelaki di depannya. Darah pun membasahi pakaian lelaki itu. Dia pun jatuh pingsan.


Sedangkan beberapa lelaki lain yang masih berdiri itu mematung, mereka merasa takut dan apa yang terjadi. Pandangan mereka menyapu ke sekeliling, waspada dengan sesutau yang mungkin akan mereka alami seperti teman mereka yang sudah tergeletak tak berdaya. Tiba-tiba, Hudoyo keluar dari persembunyiannya.


"Wah, itu Hudoyo." Gumam Arsa yang saat ini sudah paham dari mana pisau yang menancap itu berasal. Iya tidak bisa menahan senyum bahagianya. Terakhir kali, Arsa merasa kecewa pada Hudoyo karena pengawalnya itu tidak mau menuruti keinginannya. Tapi saat ini iya sudah melihat sendiri sosok Hudoyo yang terlihat begitu tampan dengan kehebatannya. Saat keadaan panik dan merasa nyawanya terancam, Arsa tadi tidak mengingat kalau iya mempunyai pengawal. Iya merasa bingung dengan pisau yang tiba-tiba melayang dan menembus punggung orang yang ingin mencelakainya itu. Sekarang iya kembali sadar dan merasa nyawanya aman ketika melihat Hudoyo yang berjalan mendekat ke arahnya


"Siapa kamu?" Semua laki-laki yang berpakaian serba hitam itu semua mengarahkan pisau yang di pegangnya ke arah Hudoyo. Mereka terlihat sedikit takut. Karena melayangnya pisau secara tiba-tiba itu, benar-benar membuat mereka sangat waspada. Hudoyo pun dengan wajah datarnya mengamati sekeliling dan kemudian berbicara dengan suara serak dan pelan,


"Semua yang tidak ingin mengambil resiko, segeralah pergi dari sini! Aku tidak ingin membuat keributan hari ini!" Dengan suaranya yangbkhas serak itu, Terdengar sangat mengintimidasi orang-orang yang ada di sana, kecuali Arsa.

__ADS_1


"Tuan Wasis ada di Kota Surabaya, kamu hanya cari mati telah melakukan hal itu! " Teriak salah satu dari lelaki berbaju hitam itu.


"Tuan Wasis? Maaf, aku tidak tahu siapa itu Wasis. Yang aku tahu, kalau kalian semua tidak segera pergi dari sini, kalian semua akan meregang nyawa! " Kata Hudoyo tanpa ekspresi, dan suaranya benar-benar biasa, tidak bergetar sedikitpun. Tapi terdengar sangat menakutkan.


__ADS_2