Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Kedatangan Mulyanto


__ADS_3

"Tuan Sarga, apa yang anda lakukan?" Pemuda itu tampak bingung. Pemuda itu biasanya melihat Sarga dengan postur tubuh anggun dan berjalan dengan sikap tenang, tapi barusan, kenapa dia terburu-buru? Fikiran Pemuda tadi merasa aneh.


Sekarang Perhatian kedua pemuda sombong tadi tertuju pada Bos Sarga yang baru datang. Dan banyak perhatian tertuju ke arah mereka juga.


"Apa? aku tidak sedang salah lihatkan? " gumam Pemuda tadi dalam hati. Sarga datang ke sana dalam sekejap mata. Dia berjalan tepat di depan Arsa.


"Tuan Arsa. Anda pasti sangat haus berada di bawah panas terik matahari. Saya membelikan sendiri Anda kopi." Dengan tatapan kaget pria dan wanita muda itu, Sarga dengan hormat menyerahkan kopinya kepada Arsa.


"Sarga, kamu baik hati sekali. Terima kasih ya. " Arsa mengambil kopi yang baru saja di berikan oleh Sarga dan langsung meneguknya.


"Bagaimana ini... " Pasangan itu bingung saat melihat pemandangan yang terjadi di depan mereka, dan dalam sekejap, mereka bingung.


"Apa yang terjadi di sini? Tuan Sarga benar-benar membeli kopi dan mengantarkannya sendiri ke distributor selebaran ini? Dan juga dengan cara yang begitu hormat?" kata pemuda tadi masih dalam hati.


"Tuan Sarga... Eh, Om Sarga, apakah ini benar-benar om Sarga? " Pemuda itu menatap Sarga sambil berkata. Ketika Sarga mendengar kalimat ini, dia menoleh dan menatap pemuda itu.


"Oh, kamu ternyata juga ada di sini ? Apakah kamu kenal dengan Tuan Arsa? " kata Sarga terus menatap ke arah pemuda tersebut.

__ADS_1


"Om, siapa Tuan Arsa? Maksudmu... Tapi, bukankah dia hanya seorang distributor pamflet? " Pemuda itu tidak bisa menahan diri untuk berkata meskipun dengan ragu-ragu. Sarga pun tersenyum mendengar apa yang di katakan anak muda di depannya itu.


"Tukang bagi-bagi selebaran? Ini Adalah tuan Arsa, Pimpinan Kendi Grub Cabang Kota Surabaya! " kata Sarga memberi tahu anak dari bawahannya itu.


"Pimpinan Kendi Grub? " Pria muda itu menatap Sarga dan Arsa secara bergantian dengan mata terbelalak, dan berita itu meledak di telinganya seperti mercon yang di nyalakan sumbunya. Hal itu juga berlaku untuk istrinya. Dia benar-benar bingung. Mereka tahu betul betapa kuatnya Pimpinan Kendi grub itu.


"Tidak... Tidak mungkin kan? "


"Jika Anda adalah Pimpinan Kendi, lalu mengapa Anda di sini untuk membagikan selebaran? " Wanita muda itu tidak bisa menahan seruannya.


"Kudengar ayahnya adalah seorang eksekutif di Kendi Square, tapi dia tidak harus masuk kerja besok." Arsa memandang Sarga dan berkata dengan acuh tak acuh.


"Baiklah Tuan Arsa." Sarga mengangguk dengan hormat.


Pemuda itu pun berteriak putus asa, takut ayahnya akan kehilangan pekerjaannya. Dan jika ayahnya tahu bahwa dia kehilangan pekerjaan karena dia, hari-hari baiknya akan segera berakhir.


"Seperti yang saya katakan sebelumnya, ayahmu pasti akan membungkuk ketika dia melihat saya. Saya hanya mengatakan satu kata dan ayahmu akan keluar dari Kendi!" Arsa menoleh untuk melihat pemuda itu dan berkata dengan tenang.

__ADS_1


"Saat aku bilang kamu jelek, aku benar-benar bersungguh-sungguh. Kamu benar-benar jelek." iya berbalik juga ke arah gadis muda itu dan berkata. Setelah itu, Arsa berbalik dan pergi bersama Sarga dan berjalan memutari Kendi Square. Kepergian mereka hanya menyisakan dua orang dengan tatapan takut. Arsa pun kembali membagikan selebaran di Kendi Square dan tidak menyelesaikan pekerjaannya hingga pukul 12 siang.


Kemudian, Arsa mengundang semua staf yang tadi membagikan brosur untuk makan siang di sebuah restoran di Kendi Square sebelum dia pergi.


Di depan, rumah Arsa di sebuah kota dengan lingkungan yang kumuh.


"Berhentilah Nak! " Arsa baru saja memarkir mobilnya dan berjalan ke arah pintu ketika seorang pria kekar tiba-tiba menghentikannya. Pria itu adalah orang yang dikirim oleh Wasis Adiguna, yang bernama Mulyanto.


"Siapa kamu?" Arsa menatap pria itu dengan sedikit cemberut.


"Akulah orang yang menginginkanmu mati!" suara Mulyanto terdengar kasar.


"Jika kamu ingin membunuh Arsa, tanya aku dulu. Dan apakah aku pernah mengizinkan itu." sebuah suara serak dan pelan terdengar dari belakang Mulyanto. Mulyanto menoleh dan melihat bahwa dia adalah Hudoyo yang telah di beritahukan oleh Wasis sebelumnya.


"Kamu pengawal bocah ini, kan? Kalau begitu, aku akan mengurus kamu dulu sebelum aku menghabisi anak itu." Kata Mulyanto sambil melepas jaket untuk menunjukkan ototnya yang kuat.


"Ada banyak orang yang ingin menyingkirkanku,” kata pengawal Arsa pada Mulyanto. "Tapi, oh sayang sekali, mereka semua sudah menjadi mayat sekarang." Hudoyo berkata dengan suara seraknya.

__ADS_1


__ADS_2