Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Santai menghadapi darah muda


__ADS_3

"Ayo sayang, tinggalkan dia sendiri saja. Ayo kita ke bar! " kata Rena pada laki-laki berambut kuning itu.


"Baiklah, ayo pergi!" Laki-laki berambut kuning itu mengibaskan rambutnya.


"Rena, aku ingin kamu kembali ke rumahmu bersamaku." Arsa menghentikannya.


"Om, aku tidak akan pernah kembali bersamamu. Kalau kamu mau, kamu tidak perlu mengikutiku. Kamu bebas." Kata Rena. Pria berambut kuning itu juga menatap Arsa, seolah memperingatkan dan menakutinya.


Lalu dia meraik lengan Rena dan menariknya ke dalam mobil Volkswagen miliknya yang telah di modif tadi. Melihat Rena Anggraini pergi, Arsa merasa tidak bisa membiarkannya kembali ke rumahnya sendirian.


Arsa Kenandra kemudian menaiki mobil perusahan sendiri, dan kemudian mengikuti mobil pria berambut kuning itu.


Dua puluh menit kemudian, Rena pergi ke bar bersama pria berambut kuning itu. Arsa juga mengikuti mereka. Setelah memasuki bar, terdengar suara yang memekakkan telinga. Rena dan si rambut Kuning berlari ke kursi dan duduk. Pada dasarnya, tempat-tempat di Bar dibagi menjadi beberapa tempat. Tempat duduk biasa, Ruanhan VIP, dan ruangan VVIP.


Untuk tempat biasa, umumnya memiliki standar konsumsi minimal, cocok untuk dikonsumsi oleh orang yang memiliki sedikit uang. Meskipun tempat itu cocok untuk orang lajang, kursi yang tersebar di tempat tersebut cocok untuk orang seperti Rambut Kuning dan Rena. Mereka tidak perlu memilih standar konsumsi yang terlalu tinggi.


Setelah Rena dan Rambut Kuning duduk, Arsa duduk di kursi di sebelah mereka. Ide Arsa sederhana, dan tentu saja tidak realistis untuk mengubahnya dalam beberapa kata. Karena dia ingin mengubahnya, dia harus memahami kehidupannya terlebih dahulu .


"Om, kamu mengikuti kami." Rena tampak tidak senang pada Arsa.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhmu tidak mengiyakan permintaan Mela? Karena kamu tidak mau kembali ke rumahmu bersamaku, aku hanya bisa ikut denganmu.” Kata Arsa.


"Rena, biarkan aku menghajar orang ini!


Setelah Rambut Kuning selesai berbicara, dia bangkit dan berjalan ke arah Arsa. Dia menatap tajam ke arah Arsa, yang duduk di depannya, dan mengancamnya.


"Wah, sebaiknya kamu keluar dari sini, kalau tidak tinjuku tidak akan membuatmu srkarat. Sudah kubilang, aku tidak sedang main-main. Kalau kamu mau main-main dengan aku, aku akan membuat hidupmu gelisah sepanjang waktu!" kata lelaki berambut kuning itu.


"Bar ini tidak buka di rumahmu. Setiap orang bisa menempati kursi yang tersebar, kecuali Anda pemilik bar ini, atau Anda pergi ke kursi VVIP. Jika tidak, saya akan duduk dalam konsumsi yang wajar untuk dipahami." Arsa berkata sambil tersenyum.


Arsa melanjutkan sambil tersenyum.


“Kamu…" Wajah pria berambut kuning itu berubah. Sejujurnya, Rambut Kuning benar-benar tidak berani memukul Arsa di bar, dia tidak sanggup menanggung akibat memukul orang di sini.


"Kami, tunggu aku keluar dari bar. Kalau aku tidak membereskanmu, maka jangan sebut namaku" Rambut Kuning mengucapkan kata-kata kasar tersebut sebelum berbalik dan duduk kembali pada posisinya.


Setelah duduk, Rena memandangnya sambil menantikannya dan berkata,


"Sayangku, berapa lama waktu yang kamu perlukan untuk memenuhi janjimu ketika kamu mengatakan ingin memperkenalkanku kepada kakakmu yang seoranh mafia? Kamu bilang akan membawaku untuk bergabung dengan kekuatan mereka." Arsa mendengar itu. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menggelengkan kepalanya. Tampaknya Rena berada dalam periode usia memberontak, dan menjadi semakin memberontak, seolah-olah dia sangat merindukan dan mendambakannya.

__ADS_1


"Akhir-akhir ini kakakku sibuk sekali. Dan kemungkinan ini akan memakan waktu dalam beberapa hari." Kata Rambut Kuning dengan santai.


"Sayang, ceritakan padaku tentang hal ini. Terakhir kali kamu berkata, kakak laki-lakimu dan orang-orangnya bertengkar. Ceritakan padaku tentang itu!" Rena tampak menantikannya.


"Waktu itu, kakak perempuanku digoda di bar. Laki-laki itu membuka restoran, jadi kakak laki-lakiku langsung mengajak seseorang untuk menghancurkan restoran milik laki-laki itu, dan memaksa laki-laki itu berlutut minta ampun." Kata si Rambut Kuning dengan bangga.


"Wow keren sekali. Apa saat itu Kamu di sana? " Rena tampak bersemangat Rambut Kuning tampak sangat bangga.


"Tentu saja." jawab si rambut kuning.


"Wow, aku juga ingin sekali melihat hal.semacam itu secara langsung." Rena tampak iri dan menginginkan hal tersebut. Arsa tidak bisa menahan tawa dan menggelengkan kepalanya ketika mendengar kata-kata ini. Rena adalah seorang gadis kecil yang masih dalam fase memberontak, Mana bisa iya bisa iri pada hal semacam ini. Jika itu benar-benar akan terjadi, Arsa pun tidak bisa memberitahunya bagaimana rasanya takut.


Si Rambut Kuning melihat Rena menatap iri dan memujanya. Kesombongannya secara langsung sangat terpuaskan.


Namun ketika si Rambut Kuning melihat Arsa tertawa, tiba-tiba hatinya menjadi tidak bahagia.


"Heh, apa yang kamu tertawakan? Pernahkah kamu melihat pemandangan seperti itu? Kalau kamu menemui hal seperti ini, kamu pasti takut dan kencing di celana!" Si Rambut Kuning mencibir ke arah Arsa.


"Itu kan yang kamu maksud heboh? Maaf, aku juga pernah melihat ribuan orang berkelahi, dan aku juga yang memimpin mereka." Ucap Arsa datar.

__ADS_1


__ADS_2